Kamboja=Indonesia 50 tahun lalu! (Cambodia part 1)

Saya tertawa geli melihat temen saya dan adiknya saling berbalas komentar di halaman facebook beberapa waktu lalu. Perbincangan lucu itu terjadi ketika sang kakak meng-upload foto-fotonya sepulang dari Kamboja. Sang adik minta diajak jalan-jalan ke sana atau paling tidak dibawain oleh-oleh yang asik, tapi sang kakak malah ngasih jawaban kayak gini…”nduk…, nang kono kui bentuk negorone jik koyo Indonesia 50 taun yg lalu…koe gelem tak gawakne dress soko kono, tp seperti Indonesia 50 taun lalu???” (nduk, di sana itu bentuk negaranya masih kayak Indonesia 50 tahun lalu, kamu mau dibawain baju dari sana, tapi kayak Indonesia 50 tahun lalu???)…

Komentarnya lebay ya? Menurut saya enggak juga…hmm tapi lebih tepatnya mungkin ketinggalan sekitar satu dekade.. Soal gaya, mode, kemajuan pembangunan, budaya pop dan semacamnya, Indonesia jauh memang jauh lebih maju dibanding Kamboja.
Baca selanjutnya

Ketika saya mengunjungi Negeri Khmer itu sekitar akhir Maret lalu, saya hanya bisa bengong melihat suasana kota Phnom Penh (ibukota Kamboja). Boro-boro bersaing dengan Jakarta, kota ini masih kalah ramai dan dinamis dibandingkan Surabaya atau bahkan Yogyakarta. Setahu saja, hanya ada satu mal di Phnom Penh, itu pun tidak terlalu besar, kayak mal-mal yang banyak terdapat di kota sedang seperti Yogyakarta atau Solo. Sejauh mata memandang, nyaris tak ada gedung pencakar langit. Paling banter cuma gedung bertingkat empat atau lima, itu pun tidak megah, bahkan cenderung biasa saja. Kesan megah, rapi dan teratur hanya saya dapati di komplek seputaran Royal Palace (istana tempat tinggal raja). Saya sampai bertanya, bener nih ini ibukota Kamboja????

Saya tambah bengong melihat bentuk terminal bis di sana. Dalam bayangan saya, terminal di ibukota negara pasti luas, banyak berjubelan bis dan dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Ternyata, tak satupun bayangan itu sesuai dengan kenyataan. Terminal bis di sana hanya seperti halte di Indonesia, cuma sedikit lebih besar. Tak ada bangunan besar dan papan penunjuk bahwa tempat itu adalah sebuah terminal. Bis-bis hanya berhenti di seputaran tempat itu, sedangkan para penumpang duduk di bangku-bangku yang tersedia dan di atasnya ada siraman air lembut yang berfungsi sebagai pendingin. Maklum cuaca di Phnom Penh memang benar-benar menyengat, jangan kaget jika melihat penjual toko atau pengendara sepeda cuek saja bertelanjang dada (tapi yang laki-laki lho)…Usut punya usut, terminal di Kamboja itu memang bukan seperti di Indonesia. Setiap PO bis ternyata punya terminal sendiri-sendiri, bukan tersentral seperti umumnya di Indonesia. Kalau menurut saya sih itu bukan terminal, tapi tempat ngetem….

Salah satu terminal bis di Phnom Penh. Para penumpang duduk-duduk sambil menunggu bis datang.

Urusan mode dan gaya pop Indonesia juga lebih unggul. Selain taksi berjenis Totoya Camri dan mobil yang kebanyakan bermerk Lexus, tren mobil di sana bener-bener kalah jauh dibandingkan Indonesia. Saya juga tak melihat beraneka motor trendi dan keluaran terbaru berkeliaran di jalan raya.. Yang ada malah masih banyak motor butut yang pede melenggang ke sana kemari. Model motor di Indonesia dijamin lima kali lebih komplet. Selama berkeliling kota Phnom Penh saya belum pernah sekalipun melihat Moge alias motor gede, atau mobil Jaguar, BMW atau mobil mewah lain yang biasa memadati jalanan Jakarta…

Lalu bagaimana tentang dunia pertelevisian, tren musik dan film? Waduh saya gak bisa ngasih referensi. Yang jelas, saya belum pernah melihat iklan atau selebaran atau apalah yang menunjukkan adanya grup band ngetop atau deretan pemain film tenar dan gaya seperti di Indonesia. Selama berada di perjalanan dari Ho Chi Minh (Vietnam) ke Kamboja, kami hanya disuguhi musik-musik jadul dari layar televisi di bus. Kayaknya itu tontotan itu hanya dari VCD , karena lagunya yang nyanyi artis itu-itu saja. Mau tahu gimana penampilan artisnya dan video klipnya? Ya bayangin aja seperti klip-klip Campursari di Indonesia (Sang penyanyi berdiri di pinggir sungai, danau atau dekat pohon dengan dandanan jadul dan bergenre lawas banget, atau mungkiin itu lagu tradisional Kamboja,…..).  Adapun variasi tontonan lainnya adalah acara komedi seperti layaknya Srimulat di sini, tapi dengan tata panggung yang lebih jadul. Itu pun bisa membuat seisi bis (tentunya yang orang lokal),  tertawa sampai ngakak. Wah pokoknya garing banget…Saya belum bisa memastikan apakah Kamboja memang gak punya penyanyi-penyanyi gaul ala jaman sekarang atau di bis standar hiburannya cuma seperti itu…Entahlah..

Salah satu bangunan di pusat kota Phnom Penh

Telepon umum di Phnom Penh

Motor matic yang lagi ngetrend di Kamboja

Berbeda dengan di Vietnam, dimana saya gampang menjumpai muda-mudi berpakaian mutakhir dan trendi bersliweran di jalan-jalan utama Ho Chi Minh, saya sulit menjumpai hal serupa di Kamboja, bahkan di ibukota seperti Phnom Penh. Cara berpakaian mereka cenderung sederhana, meski dalam bertransaksi banyak menggunakan mata uang dolar (gak ada hubungannya ya??? ).  Paling saya menjumpai model anak gaul seperti itu cuma di mal, yang di Phnom Penh cuma ada satu…Kayaknya muda-mudi di kota kecil seperti Solo, Semarang dan Yogyakarta saja lebih trendi dibanding remaja di ibukota Kamboja…

Ya, itulah Kamboja….sederhana, tapi tetap menyenangkan…:)

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

8 Responses to Kamboja=Indonesia 50 tahun lalu! (Cambodia part 1)

  1. angscript says:

    klo Kamboja sama Indonesia 50 tahun lalu, berarti mereka BERDIKARI. Menurutku lebih indah disebut negara “ndeso” tapi berdiri di atas kaki sendiri daripada Indonesia yang sok maju, tapi otaknya tetep 50 tahun yang lalu hehehe

  2. Betul sekali kawan…walaupun di sana jadul, tapi mereka benar2 mandiri,…tanah yang tandus dan tidak kaya hasil bumi, disiasati dengan mengelola sektor pariwisata secara serius…kayaknya Indonesa haus banyak belajar soal yang satu ini…merdeka!!! hehe

  3. yanul says:

    hahahaaaaaaa…
    i like this..
    :p

  4. segeralah menyeret kakakmu piknik ke sana…hahahaha

  5. Mbak, nggak ada cerita city tour di Phnom Penh nih?

  6. V.R. Kanya says:

    Kamboja memang negara yang masih sederhana, terutama kalau berkunjung ke daerah pinggirannya seperti Siem Riep, dll. Tapi saya sangat salut dengan semangat belajar dan nasionalisme generasi mudanya. Tahun lalu saya sempat berkenalan dengan salah seorang pelajar Kamboja yang mengikuti pertukaran pelajar dan belajar selama setahun di universitas di Bandung. Dia sangat semangat untuk kembali ke kenagaranya dan membangun Kamboja, bangga akan budayanya, bahkan lagu-lagu tradisional sana pun dinyanyikan dengan bangga. Kalau dibandingkan dengan pemuda2 Indonesia sekarang yang maaf..bingung dan galau dengan jati diri dan lebih berkutat dengan trend dan cenderung untuk memaksakan diri untuk dapat terlihat keren, tajir, dan populer, saya malah berfikir…jangan2..50 tahun ke depan, orang Kambojalah yang akan berkomentar kalau Indonesia seperti Kamboja tempo doeloe. Jadi, banyak yang harus dibenahi oleh orang2 Indonesia skrg. Tampilan luar mungkin menang jauh, tapi kalau bicara tentang nasionalisme, moral, dan kejujuran (untuk hal yang 1 ini saya sangat salut dengan org Kamboja. Sopir tuktuk disana jujur2 bangeeet. Mungkin ada sih yang nakal, tapi selama saya di sana, mereka sangat dapat dipercaya. Ada rasa aman saat meninggalkan barang belanjaan di tuktuk, tidak seperti halnya di Indonesia yang sejak keluar rumah harus ekstra waspada dan hati-hati). Yah..pokoknya, orang Indonesia jangan terlena dengan hebatnya tampilan luar saja. Banyak hal yang bisa dicontoh dari negara kecil sederhana seperti Kamboja..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: