Pesepakbola muslim dan Ramadan

Datangnya Ramadan kadang menimbulkan dilema bagi para pesepakbola muslim, terutama di Eropa. Topik ini pun menjadi salah satu perbincangan hangat di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, seiring makin banyaknya pemain muslim yang merumput di sana. Bagaimanakah cara para pesepakbola itu menyikapi datangnya bulan Ramadan?

Pemain sepakbola muslim di Indonesia boleh dibilang sangat beruntung. Mereka mendapat berbagai kemudahan untuk tetap menjalankan ibadah, tanpa harus meninggalkan kewajiban untuk bersikap profesional terhadap profesinya. Kompetisi seringkali sengaja diliburkan sepanjang Ramadan, sehingga para pemain bisa tetap berpuasa penuh. Pada Ramadan kali ini, Liga Super Indonesia dan Divisi Utama bahkan belum bergulir. Kalaupun kompetisi tetap berjalan, biasanya digelar pada malam hari. Pihak klub juga sengaja memberikan kelonggaran dan menyesuaikan porsi latihan dengan kondisi para pemain. Jika biasanya sehari berlatih dua kali, di bulan puasa hanya ada latihan sekali menjelang berbuka, itupun jamnya dipangkas.


Dispensasi seperti itu tidak didapatkan para pesepakbola muslim di Eropa. Kompetisi tetap bergulir seperti biasanya. Liga Premier Inggris sudah berjalan sejak dua pekan lalu, sedangkan La Liga dan Seri A akan dibuka tanggal 29 Agustus. Jadwal dan jam pertandingan pun tidak diutak-atik hanya gara-gara ada pemain yang berpuasa. Tak heran, muncul keraguan apakah para pemain ini bisa mengikuti latihan intensif dan jadwal pertandingan padat, sembari tetap berpuasa, dimana para pesepak bola ini tak boleh makan dan minum hingga waktu berbuka tiba.

Frederic Kanoute (kiri)

Salah satu pemain yang berupaya tetap taat berpuasa di tengah tekanan jadwal kompetisi dan jadwal latihan padat yang menguras tenaga, adalah striker Sevilla Frederic Kanoute. Pesepak bola berkebangsaan Mali ini dikenal sebagai muslim yang taat. Pada 2007, ia pernah mengeluarkan uang sebesar US$700.000 dari kantong pribadinya untuk menyelamatkan sebuah masjid di Sevilla. “Selalu sulit berpuasa di sini, di Spanyol selatan, dimana cuacanya sangat panas, tapi saya telah beradaptasi. Saya memberikan segala kemampuan saya untuk klub bulan ini. Saya tidak akan membiarkan rekan-rekan saya dan suporter kecewa. Mereka memperlakukan saya dengan baik. Mereka mengerti,” ujar Kanoute seperti dilansir fifa.com.

Keputusan untuk tetap berpuasa juga dilakukan pemain Real Madrid, Mahamadou Diarra dan kapten Timnas Aljazair yang bermain di Bochum (Jerman), Anther Yahia. Menurut dia, berpuasa malah memberi kekuatan untuk mengatasi kesulitan. Pernyataan serupa juga meluncur dari pemain Juventus, Mohamed Sissoko. Namun, beberapa pemain juga memutuskan untuk tidak berpuasa dan berencana mengganti di hari lain. Salah satunya dilakukan pemain Manchester City, Kolo Toure, yang berasal dari Pantai Gading. Toure mengaku pernah mencoba tetap berpuasa, tapi kondisi latihan berat memaksa ia membatalkan puasanya. “Tapi saya pasti akan menggantinya di hari atau bulan lain. Itu adalah konsekuensi sebagai seorang muslim,” ujar Toure.

Kolo Toure (kiri)
Kolo Toure (kiri)

Beberapa pemain di Eropa juga sedikit beruntung karena mendapat bantuan dari klub untuk bisa berpuasa di tengah kompetisi. Klub-klub Liga Belanda dikenal sangat toleran dalam urusan ini. PSV Eindhoven misalnya, yang membantu menyusun menu makan khusun untuk Ibrahim Afellay, Otman Bakkal dan Nordin Amrabat serta hanya memberikan porsi latihan lebih ringan. Di kubu rival mereka, Ajax, berpuasa bahkan tidak mempengaruhi performa Ismail Aissati dan Mounir El Hamdaoui, dimana nama terakhir malah menyumbang dua gol ketika Ajax menang 3-0 atas Roda, Sabtu pekan lalu. “Mereka selalu berpuasa. Mereka tahu reaksi tubuhnya. Mereka selalu melakukan apa yang memang harus dilakukan: menjalankan ibadah dan bekerja profesional sebagai pesepak bola,” ungkap juru bicara klub.

Sementara itu, Majelis Ulama Jerman bahkan mengeluarkan fatwa yang membolehkan pemain sepak bola muslim yang harus bertanding selama bulana Ramadhan tidak perlu untuk menjalankan puasa dan menggantinya di waktu lain. Fatwa ini jelas disambut gembira oleh pihak klub, meski beberapa pemain ngotot tetap berpuasa. Sedangkan,Abdul Bari Zamzami,Ketua Perkumpulan ulama Maroko, menyatakan apabila puasa bisa mengganggu prestasi para pemain maka mereka bisa memutuskan untuk tidak puasa. Tapi, keputusan terakhri, ada pada para pemain itu sendiri.

Di Serbia, mufti kota Belgrade mengizinkan gelandang Red Star Belgrade asal Ghana, Mohammed-Awal Issah untuk makan dan minum pada hari pertandingan. Juru bicara klub, Marko Nikolovski menjelaskan bahwa mufti tersebut mengizinkan Issah makan jika ia merasa lemah di hari pertandingan. Awalnya sang pemain menolak, tapi kemudian bisa menerima usulan itu.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: