Jalan sendiri? Siapa takut….

lawang sewu

Ada dua alernatif untuk bertraveling alias jalan-jalan. Pergi bareng-bareng dengan teman atau jadi solo traveler alias jalan sendiri. Masing-masing ada tantangan, kekurangan dan kelebihannya. Percayalah, kedua alternatif itu sama-sama asyik!

Jujur, jalan bareng memang lebih menyenangkan. Ada teman untuk ngobrol, bertukar pikiran dan berpusing ria bareng kalo lagi ada kendala. Pokoknya bisa terhindar dari kebosanan. Keberadaan teman jalan juga sangat penting untuk kaum narsis kompulsif. Tak perlu khawatir kekurangan foto diri di spot-spot menarik karena ada teman yang selalu bisa dimintai tolong memotret. Dari sisi keamanan. Paling tidak kita pasti merasa lebih aman dan bisa saling melindungi.


Dari sisi finasial juga cukup menguntungkan. Pengeluaran biasanya lebih irit karena kita bisa sharing penginapan atau sewa kendaraan. Kadang kala juga bisa berbagi bekal makanan dan lain-lain. Jika uang saku mepet, jalan bareng teman juga lebih menguntungkan. Kalau di tengah perjalanan kehabisan duit kita bisa ngutang dulu…hehehe

Tapi bukan berarti jalan rame-rame gak ada kekurangannya. Ketika kita pergi bersama kawan yang kurang “sehati” masalah bisa kapan pun muncul. Kadang kala keinginan satu orang dengan yang lain juga tak selalu sama. Si A pengen ke sana, eh si B pengen ke tempat lain. Kalau semuanya sama-sama ngotot, ujung-ujungnya suasana jadi kurang asik…

Lalu apa asiknya jalan sendiri? Sebenarnya kalau disuruh milih memang menyenangkan pergi berombongan atau minimal berdua. Ancaman merasa bosan peluangnya sangat besar. Belum lagi kita dipastikan bakal kekurangan stok foto narsis. Tidak enak kan harus terus meminta tolong kepada orang asing. Kalau kurang ide menghibur diri sendiri, acara liburan atau traveling dijamin bakal garing.

Tapi karena keadaan dan kebutuhan, saya pun kadang nekad jalan sendiri. Salah satu yang memaksa saya kadang harus piknik sendiri adalah faktor hari libur. Kebetulan jatah libur saya sangat ajaib bin aneh. Orang-orang normal biasanya libur di akhir pekan, nah kamus ini tak berlaku bagi saya. Karena tuntutan profesi, sudah hampir empat tahun saya tidak bisa menikmati jatah berleha-leha di akhir pekan. Saat teman-teman bersantai di hari Sabtu atau Minggu, saya justru harus membanting tulang….

Ya, sudah sejak lama Kamis menjadi hari libur saya. Bisa dibayangkan betapa repot mencari teman jalan di hari itu. Boro-boro diajak hangout ke tempat-tempat wisata yang agak jauh, cari teman makan siang atau nge-mall aja susah. Dengan kondisi ini, mau tak mau saya dituntut lebih kreatif. Misalnya mencari hiburan untuk sendiri. Alternatifnya ya solo travelling alias jalan sendiri itu.

Memang sih saya belum pernah jalan sendiri cukup jauh. Yang pertama belum pede, yang kedua karena belum ada kesempatan. Paling-paling baru menjajal di kawasan Solo dan sekitarnya, yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal. Awalnya sempat ragu, tapi setelah dijalani ternyata asik juga. Ada hal-hal unik yang dialami, dimana hal tersebut sepertinya belum pernah saya rasakan ketika pergi berombongan.

Seperti ketika saya mengunjungi klenteng Sam Poo Kong dan Lawang Sewu di Semarang. Kebetulan teman saya hanya bisa mengantar dan menjemput karena harus bekerja. Alhasil saya pun harus mengeksplor kedua tempat itu sendirian. Rupanya piknik tanpa teman ada hikmahnya juga. Saya bisa lebih detail mengamati tempat itu dan juga banyak mengambil gambar obyek wisata, bukan melulu berfoto narsis.hehehe. Saya juga jadi lebih banyak mengobrol dengan petugas tempat wisata, sebagai salah satu cara membunuh bosan. Ujung-ujungnya pengetahuan yang didapat lebih oke. Seperti saat mengunjungi Candi Plaosan di daerah Prambanan beberapa waktu lalu. Berkat bincang-bincang santai dengan petugas pengawas candi, saya mendapat banyak pengetahuan tambahan seputar cerita sejarah candi-candi. Begitu juga saat menyambangi Candi Asu. Petugas penjaga tempat itu sontak menghampiri saya dan sontak mengalirlah cerita di balik berdirinya candi yang kiini sudah hancur itu. Plus bonus seputar keluarganya dan kariernya selama menjadi penunggu candi-candi di kawasan seputar Prambanan itu.

Entah kebetulan atau tidak, ketika jalan sendiri sepertinya orang jadi lebih mudah mengulurkan bantuan kepada kita. Seperti kejadian di Sam Pho Koo. Melihat saya jalan sendiri, seorang lelaki yang sepertinya berprofesi “setengah guide” menawarkan diri membantu memotret. Tentu maksudnya mengambil foto-foto narsis saya. Karena merasa dibantu saya pun memberikan uang balas budi secukupnya. Kemudian ketika hendak le Lawang Sewu, saya pun sempat bertanya-tanya gimana mencari taksi. Eh si mas tadi tanpa diminta menawarkan diri mengantar dengan sepeda motornya. Ketika hendak dibayar, ia langsung menolak. Katanya sama teman sendiri gak perlu bayar.

Di Lawang Sewu saya juga memperoleh kebaikan dari orang asing lagi. Setelah puas berkeliling seputaran Lawang Sewu saya pun duduk santai di depan bangunan sambil ngobrol dengan bapak tukang parkir di sana. Eh tanpa diminta, bapak itu tiba membelikan saya sebotol air kemasan yang dingin dan sangat menyejukkan. Merasa tidak enak, maka saya sodorkan uang pengganti. Eh lagi-lagi ditolak. Kalau rezeki memang tak lari kemana…hehe

Tertarik jalan-jalan sendiri? Silahkan dicoba…

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Jalan sendiri? Siapa takut….

  1. Cah Bagoes says:

    Saya juga pernah Jalan-jalan sendiri.
    Memang ada sisi kelebihan dan kekurangannya. kelebihannya saya bisa lebih feeling free dari segi waktu ngerasa puas juga. Saya juga bisa lebih mendalami dan mengamati tempat2 yang saya kunjungi. Sisi kekurangannya jika tidak pinter2 menyiasati diri, rasa bosan dan terasing akan muncul, nah kalo udah gini, jadi gak jelas tujuannya jalan-jalan sendiri. Namun, banyak cara untuk menghilangkan itu, salah satunya dengan ngobrol sama siapapun yang mau diajak sharing, misal penjaga tempat wisata, teman kenalan di tempat, pokonya biar saya tidak diem aja. sebab jika seperti itu, diamin gak seruu jalan jalan sendirinya. hehe…….
    anyway…,,,,, Lanjut terus travelernya…!!!!

    • yusmei says:

      Bener banget, ada kelebihan dan kekurangannya. Tingga; bagaimana menyiasatinya. Jalan sendiri dan rame2 ada seninya masing2🙂
      Sipppp…sama2 lanjut berpetualang yaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: