Jejak Prasejarah di Sangiran

Angin sepoi-sepoi dan hijaunya pepohonan menyambut ketika kaki melangkah memasuki Museum Purbakala Sangiran. Inilah The Home of Java Man alias rumah asal manusia Jawa. Status itu ditegaskan dengan patung besar kepala manusia purba berwarna hitam pekat di halaman kompleks museum. Sebuah billboard besar memberi petunjuk apa yang bisa didapatkan di kompleks Sangiran. Feel the prehistorict experience ini Sangiran. Ya marilah kita nikmati pengalaman prasejarah di situs yang tersohor ini.

Ketenaran situs atau museum Sangiran sebenarnya sudah saya dengar sejak duduk di bangku sekolah dasar. Nama Sangiran memang selalu disebut-sebut di pelajaran sejarah, sebagai bagian penting dari adanya bukti kehidupan di masa lampau. Namun niatan pergi ke sana tak juga kunjung terlaksana, sampai terealisasi akhir Januari lalu.

“Bengcengkrama” dengan manusia purba

Sebenarnya kebangetan juga baru bisa berkunjung ke sana belum lama ini. Ternyata perjalanan dari rumah hingga ke Sangiran cuma memakan waktu satu jam. Jadi merasa bersalah kenapa dari dulu mengabaikan tempat hebat ini. Padahal Situs Sangiran telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada 5 Desember 1996. Tapi lebih baik terlambat kan daripada  tidak sama sekali.

Sangiran adalah nama kembar dari dua pedukuhan kecil yang terletak di perbatasan Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dukuh Sangiran sisi utara terletak di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Sragen. Sedangkan sisi selatan masuk wilayah Desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar. Dari Solo, untuk mencapai situs dan museum Sangiran cukup mudah, tinggal menyusuri jalan utama dari Solo menuju arah Purwodadi. Di kanan jalan ada penanda jalan musuk ke area Sangiran berupa gapura besar. Dari terminal Tirtonadi Solo, perjalanan ke Sangiran memakan waktu sekitar 30 menit.

Berwisata ke Sangiran tak perlu modal besar. Setelah memasuki gerbang unik berbentuk gading raksasa, pengunjung diminta membayar tiket masuk. Cukup murah, hanya Rp 6.000 perorang. Dengan senang hati, saya dan seorang teman merogoh kantong dan bersiap merasakan pengalaman unik zama prasejarah. Tak sabar ingin bertemu manusia purba.

Situs Sangiran saat ini sedang dipugar. Tempat yang nantinya diplot sebagai bangunan utama belum bisa dimasuki. Yang pasti, jika sudah rampung bakal menjadi tempat yang megah. Menurut penuturan beberapa teman yang pernah ke sana, kondisi Sangiran sudah mengalami kemajuan pesat. Lebih modern, bersih dan siap menyambut para pengunjung. Siang itu suasana lumayan ramai, meskipun hari Kamis alias bukan hari libur. Pengunjung didominasi anak-anak sekolah yang tampaknya mendapat tugas untuk membuat karya turis. Tapi siang itu juga nampak dua rombongan besar turis dari Jepang, bangsa yang terkenal suka berpesiar ke seluruh penjuru dunia.

Ada dua ruang pamer utama di museum ini. Nantinya ada empat ruang pamer jika renovasi sudah selesai. Petugas di sana mengatakan akhir tahun ini diharapkan proses pemugaran rampung. Masuk ke ruang pamer langsung membangkitan memori kala masih duduk di bangku sekolah. Kami berdua seperti diajak belajar lagi. Tapi kali ini medianya lebih menarik. Ada patung-patung manusia purba yang benar-benar seperti nyata, gambar tentang tata surya, patung-patung yang menggambarkan evolusi manusia, bagan evolusi dari makhluk sel tunggal hingga manusia, peta fisiografi Pulau Jawa dan tentu saja beratus jenis fosil beraneka macam. Pokoknya sangat bagus untuk menambah pengetahuan.

Disuguhi berbagai pengetahuan menarik seperti itu antusiasme saya bangkit. Setiap keterangan yang ada saya lahap dengan bersemangat. Ada penjelasan tentang Charles Darwin (bapak evolusi), Eugene Dubois (ilmuwan yang pertama kali tertarik melakukan penelitian di Sangiran pada 1893), maupun GHR van Koenigswald (melakukan penelitian lebih intensif pada 1930). Di masing-masing fosil yang dipajang juga disediakan keterangan lengkap. Mulai nama bendanya (nama Indonesia dan latin), lokasi dan waktu penemuan, umur fosil dan nama penemunya.

Mau tahu fosil-fosil apa saja yang ada di sana? Jumlahnya sangat banyak dan beragam. Misalnya tengkorak Homo Neanderthal Eropa maupun Asia, Homo Sapiens, rahang bawah gajah, gading gajah, berbagai jenis molusca, binatang air, tengkorak kerbau, alat-alat bantu manusia prasejarah, rahang banteng, dan lain-lain. Tapi yang paling menarik menurut saya adalah replika manusia purba. Tampak sangat hidup dan nyata.

Kebetulan saya juga punya kesempatan melongok ke ruang penelitian, yang sebenarnya tidak boleh dimasuki pengunjung. Tapi karena mau numpang sholat, saya bisa menikmati kemewahan langka itu. Oleh satpam yang bertugas di sana, saya diperbolehkan sholat di tempat para karyawan, yang letaknya pas di depan ruang penelitian. Saya bahkan bisa masuk ke ruang penelitian karena kamar mandi untuk mengambil wudhu ada di dalam. Ada tiga pegawai yang sedang bekerja. Dua orang sedang mengutak-atik fosil, sedangkan yang satunya sedang sibuk dengan bejana-bejana kimia. Total ada sekitar 30-an pegawai yang dimiliki museum Sangiran.

Tantangan yang hingga kini masih dihadapi pengelola Sangiran adalah penjualan fosil-fosil secara ilegal. Situs Sangiran memang sangat besar, arealnya seluas 56 km2, sehingga kontrolnya sangat sulit. Situs Sangiran dianggap penting karena mengalami masa hunian oleh manusia purba yang paling lama dibandingkan dengan situs-situs lain di dunia, lebih dari 1 juta tahun. Sering kali penduduk sekitar dengan mudahnya menemukan fosil ketika sedang mencangkul di sawah atau ladang. Nah kadang mereka malah menjualnya kepada makelar, bukan menyerahkan ke pemerintah, karena harganya memang bikin ngiler. Akibatnya banyak fosil-fosil berharga yang lepas entah ke mana, mungkin sebagian besar ke kolektor-kolektor di berbagai penjuru dunia. Sayang sekali.

Untuk menutup wisata singkat di Sangiran, tak afdol jika tak mengunjungi tempat souvenir. Ada berbagai macam buah tangan yang bisa didapatkan di sini, mulai aksesoris dari batu-batuan, gantungan kunci hingga replika patung manusia purba. Kami berdua menjatuhkan pilihan pada asbak berbentuk manusia purba seharga Rp 12.500 dan gantungan kunci kura-kura seharga Rp 2.500. Setelah memasukkan buah tangan ke dalam tas, kami pun melenggang meninggalkan Museum Sangiran dengan senyum terkembang.

Bangunan utama musem yang sedang dipugar

Patung Java Man di halaman museum

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

6 Responses to Jejak Prasejarah di Sangiran

  1. Junus Satrio A. says:

    Foto bersama “manusia purba” cukup menarik sebagai kenangan, tapi kenapa harus menginjak-injak diorama? Bekas injakan kaki selain meninggalkan debu juga merusak sebagian permukaan diorama yang dimaksudkan untuk merekonstruksi kehidupan masa lalu. sebagai pelestaria warisan cagar budaya seharusnya keinginan untuk membawa kenangan perlu dilakukan tanpa harus merugikan objek maupun kepedulian orang lain terhadap keutuhan materi ajar tersebut.

    • yusmei says:

      Makasih masukannya mas. Itu mungkin salah satu tindakan tidak bertanggung jawab yang pernah saya lakukan dan jelas saya sesali. Dan insya Allah sekarang “dosa” tidak bertanggung jawabseperti itu sudah diminimalisir, karena saya juga belum berani bilang sudah tidak dilakukan sama sekali. sekali lagi makasih sudah disentil🙂 Salam kenal

  2. Avant Garde says:

    sering lewat kalo main ke rumah budhe di sragen padahal …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: