Menikmati bis tingkat

Bis tingkatnya

Selepas waktu sholat Jumat, 18 Februari lalu, ada sms yang masuk ke ponsel saya. Ternyata dari seorang teman. “Mau ikut test drive bis tingkat gak?” tanyanya dalam bahasa Jawa. Tanpa pikir panjang sayapun mengiyakan. Kebetulan karena memang saya sudah penasaran banget menjajal ikon baru Kota Solo ini. “Ya udah kumpul di Kantor Dishub di Manahan ya jam 13.00” Okay deh. Saya langsung meluncur ke sana.

Kejadian ini memang sudah agak lama. Test drive dilakukan dua hari sebelum bus tingkat dan railbus (moda transportasi baru lainnya milik Solo) resmi diperkenalkan ke publik Kota Bengawan pada 20 Februari. Awalnya walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi), menolak ide tes jalan. Beliau beralasan kalau dibawa ke jalan, nanti gak jadi kejutan lagi dong pas dilaunching saat kirab HUT kota Solo. Tapi teman-teman wartawan gak kehabisan akal. Mereka bilang jalur harus dicoba dulu. Siapa tahu ada kendala, misalnya ada dahan pohon atau kabel listrik yang terlalu rendah. Pak Jokowi pun luluh. Izin tes drive diberikan. Teman-teman wartawan pun senang. Niat bikin tulisan feature plus bernarsis ria akhirnya kesampaian…hehehehe

Atapnya masih tertutup

Atapnya dibuka

Saya kepikiran membagi pengalaman ini karena bus tingkat wisata ini bakal resmi beroperasi pada 1 April mendatang. Ini memang bukan kali pertama Solo punya bis tingkat. Dulu Solo pernah punya bis tumpuk berwarna dominan abu-abu dan sempat jadi primadona, terutama buat anak-anak sekolah. Namun bis itu sudah berhenti beroperasi sejak lama. Ternyata Pak Jokowi ingin menghidupkan kenangan itu. Bis tingkat pun dihadirkan kembali, meskipun cuma satu unit. Bedanya dulu bis tingkat jadi moda transportasi umum, sedangkan yang baru ini difokuskan untuk wisata.

Awalnya ide menghadirkan kembali bis tingkat sempat ditolak DPRD Solo. Waktu dengar penolakan itu, saya sebal bukan main. Maksudnya apa sih. Mosok gak mau lihat daerahnya maju. Untung rencana itu gol juga, kendati hanya satu bis. Gak papa deh, daripada tidak ada sama sekali…hehehe

Kembali ke tes drive, saya tiba di Kantor Dishub tepat waktu. Teman-teman wartawan sudah kumpul. Ada juga beberapa PR hotel di Solo dan seorang bule. Ternyata bule itu adalah teman seorang pegawai Dishub. Hingga 30 menit bis belum juga berangkat. Ternyata bodi bis harus ditempeli striker dulu bertuliskan “Solo Spirit of Java”. Setelah semuanya beres, bis pun jalan. Siap-siap membelah Kota Solo…

Bis tingkat wisata milik Solo ini adalah yang pertama di Indonesia. Warnanya merah menyala, bentuknya mirip bis tumpuk yang ada di kota-kota besar dunia, seperti London, Madrid dan sebagainya. Buatan dalam negeri (New Armada Magelang) dan atap bagian atas bisa dibuka. Memang sih membukanya manual, belum pakai sistem hidrolik. Interior bis bagian bawah sangat nyaman. Kursinya empuk, AC-nya dingin dan ada LCD TV yang siap menghibur penumpang. Bagian atas sangat berbeda. Yang jelas tidak ada AC, jendelanya tanpa kaca alias bolong. Sedangkan kursinya dari plastik, jadi sudah didesain untuk mengantisipasi hujan. Tapi tetap ada televisi untuk penumpang yang memilih duduk di atas untuk menikmati Solo dari sudut berbeda.

Jalanan…

Ketika bis berjalan hujan masih turun rintik-rintik. Alhasil atap tetap dibiarkan tertutup. Tapi tak lama kemudian, hujan berhenti dan atap pun dibuka. Waktu digeser, atap yang terbuat dari bahan seperti terpal yang tebal sempat agak macet. Rekan-rekan dari Dishub mengeluarkan tenaga cukup besar untuk menyelesaikan pembukaan atap itu. Ketika akhirnya terbuka seluruhnya, kami pun gembira…woooow rasanya asik…

Orang-orang tertarik

Bis merayap pelan menuju jalan utama Kota Solo, Jalan Slamet Riyadi. Karena baru pertama dibawa keliling kota, sontak barang baru ini langsung menarik perhatian warga yang kebetulan sedang beraktivitas di jalan. Kepala-kepala langsung menoleh, sebagian mengabadikan gambar dengan kamera hp dan ada juga yang melambai-lambaikan tangan ke arah kami yang duduk di bagian atas bis. Rasanya lucu juga jadi pusat perhatian gitu. Kami berkali-kali balik melambaikan tangan atau membalas sapaan orang-orang. Serasa jadi Putri Indonesia…hehehehehe

Sepanjang jalan bis berjalan hati-hati. Teriakan “awas kabel listrik!” atau “awas dahan pohon!” berkali-kali terdengar. Maklum di Solo kabel-kabel listriknya masih awut-awutan dan tak teratur, layaknya kota-kota lain di seluruh Indonesia. Coba kalau kabel listriknya di bawah tanah, pasti lebih rapi dan memudahkan. Di depan bis ada mobil pendahulu yang bertugas membuka jalan. Petugas-petugas polisi juga ikut dilibatkan untuk mengatur lalu lintas, terutama di tempat-tempat yang biasanya jadi penumpukan kendaraan.

Duduk di bawah atap terbuka angin terasa sejuk sepoi-sepoi (payahnya sehari berikutnya saya langsung masuk angin…hehehehe). Beruntung siang itu matahari sedang bersembunyi di balik awan. Dulu saya juga sering naik bis tingkat lawas di Solo. Tapi rasanya jelas berbeda. Yang ini sensasinya lebih kena…soalnya dulu kalo naik bis tingkat saya selalu mabuk…hehehehe

Lewat patung Slamet Riyadi

Setelah membelah Jalan Slamet Riyadi hingga timur pusat perbelanjaan PGS dan BTC, bis berbelok ke selatan hingga menembus Jalan Veteran. Bis berjalan terus ke barat dan belok ke utara hingga tembus ke dekat Stasiun Purwosari dan kembali ke kantor Dishub di daerah Manahan. Sebelum mencapai Purwosari, bis sempat terhenti karena terhalang dahan pohon rendah. Para pria yang ikut dalam rombongan terpaksa berdiri sambil berusaha mengangkat dahan supaya bis bisa lewat. Seru pokoknya..hehehehe. Rute pendek yang biasanya bisa ditempuh selama 30 menit itu, jadi molor jika menggunakan bis tingkat. Perjalanan kami siang itu makan waktu sekitar dua jam. Lama juga sampai sempat terkantuk-kantuk…

Rencananya, bis tumpuk berwarna merah itu resmi dioperasikan pada 1 April. Untuk yang berniat mencarter, tarifnya Rp 800.000/3 jam. Biayanya bisa membengkak kalo ditambah dengan paket wisata, misalnya ke Kraton, Kampung Batik Kauman, Museum Batik dan lain-lain. Jika tidak mencarter tarifnya adalah Rp 20.000/orang. Menurut saya tidak terlalu mahal sih. Tapi pihak pengelola juga tidak mengabaikan warga yang mungkin kurang mampu. Rencananya ada juga paket hemat, tapi belum ditentukan formatnya seperti apa. Kemungkinan sesekali waktu bis ini beroperasi dengan tarif murah meriah (Rp 3.000/orang), sehingga masyarakat Solo bisa menjajal dan ikut memiliki bis tingkat baru itu. Jangan sampai masyarakat Solo asing dan tidak mengenal ikon kotanya sendiri. Ya saya sangat setuju dengan rencana yang terakhir itu. Kalau taripnya Rp 3.000 bisa dong ngajak ponakan-ponakan keliling kota dengan murah meriah…:)

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: