Old Trafford tanpa The Flying Dutchman

Puja-puji tercurah untuk Wayne Rooney ketika Manchester United menundukkan Chelsea 1-0 di Stadion Stamford Bridge, Kamis (7/4) dini hari WIB. Wajar memang, karena berkat gol semata wayang itu Roo mengakhiri kutukan MU yang selama 9 tahun tak pernah menang di Stamford Bridge. Apalagi kans MU melenggang ke semifinal Liga Champions jadi bersinar terang.

Edwin van der Sar (foto: manutd.com)


Tapi Rooney bukan satu-satunya pahlawan di pertandingan sarat gengsi itu. Jangan lupakan peran krusial Rio Ferdinand, Ryan Giggs, Park Ji-Sung, Michael Carrick dan kiper gaek Edwin van der Sar!!! Saya hanya bisa tersenyum lebar dan berdecak kagum ketika The Flying Dutchman itu melayang mementahkan sundulan Fernando Torres di babak kedua. He did it again. Benar-benar penyelamatan gemilang. Refleknya masih jempolan. Sama sekali tak tampak dia sudah berusia 41 tahun. Saya pun tak ragu menyebutnya sebagai kiper terbaik di dunia saat ini. Yang tidak setuju, silahkan saja…hehehe

Sesudah penyelamatan itu, kepala saya langsung menengok kepada seorang kawan. Kebetulan saat itu sedang nonton bareng dengan teman-teman United Indonesia Solo. Sebuah pertanyaan retorik meluncur dari bibir saya. “Apa jadinya MU musim depan tanpa Van der Sar?” Saya bukannya bermaksud meragukan kejeniusan Ferguson dalam meracik skuat. Sir Alex jago dalam urusan ini dan sudah terbukti dari deretan trofi yang tersimpan rapi di Old Trafford. Tapi, Fergie pun mengakui pensiunnya Van der Sar bakal menjadi kehilangan besar.

Seusai bentrok perempat final Piala FA kontra Arsenal yang berkesudahan 2-0 untuk kemenangan Setan Merah, Ferguson bahkan sempat berandai-andai. Bukan hal lazim bagi seorang Fergie. Rupanya ia benar-benar terkesima dengan penampilan heroik Van der Sar malam itu. Perasaan yang sama mungkin dirasakan Mancunian di seluruh penjuru dunia. Malam itu Van der Sar membuktikan kelasnya. Jatuh bangun mengawal gawangnya dari gempuran meriam-meriam The Gunners. Arsenal pun dibuat frustrasi. Van der Sar tampil prima layaknya kiper belia. Fans Setan Merah akhirnya hanya bisa meratap. “One more year, Edwin!!!” Ya, plis tunda pensiunmu satu tahun lagi Edwin. Old Trafford masih membutuhkan lompatan, kecekatan dan insting hebatnya. “Dia kiper yang fantastis. Kami berharap dia berumur 21 tahun, bukannya 41 tahun,” kata Ferguson berandai-andai.

Kata-kata Ferguson jelas bukan basa-basi. Pria Skotlandia itu masih ingat betul sulitnya mencari suksesor Peter Schmeichel yang gantung sarung tangan seusai MU meraih treble pada 1999. Berderet talenta dijajalnya, namun selalu berujung kegagalan. Sebut saja nama-nama seperti Mark Bosnich, Massimo Taibi, Fabian Bathez, Ricardo, Tim Howard dan Roy Carroll. Mereka tak bisa menggantikan ketangguhan dan kharisma The Big Dane di bawah mistar. Pencarian panjang itu baru berakhir setelah Ferguson menggaet Van Der Sar dari Fulham pada 2005. Perlahan lubang yang ditinggalkan Schmeichel tertutup. Bahkan belakangan ini, Fergie mengaku tak bisa memilih mana kiper terbaik di antara The Big Dane dan The Flying Dutchman. Meskipun karier Van der Sar di Old Trafford terbilang singkat, dia sudah menasbihkan diri menjadi legenda Setan Merah.

Dalam sebuah wawancara beberapa bulan lalu, Sir Alex mengakui penyesalan terbesarnya adalah telat memboyong Van der Sar ke Old Trafford. Bayangkan, gerak MU malah kalah cepat dari Fulham yang lebih dulu memboyong sang kiper dari Juventus pada 2001. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Lihat saja kontribusi besarnya, termasuk aksi mementahkan penalti Nicolas Anelka di final Liga Champions 2008. Kontribusi super penting di bawah guyuran hujan deras di Stadion Luzhniki, Moskow.Tak ayal, saya pun ikut memujanya.

Tapi, Van der Sar sudah menentukan garis akhir. Tinggal hitungan bulan sebelum ia melangkah pergi dari Old Trafford. Ratapan dan bujuk rayu pelatih, rekan setim dan fans tak menggoyahkan keputusannya. MU benar-benar harus bersiap kehilangan dirinya. Kini tugas terpenting adalah mencari suksesornya. Berderet nama telah bermunculan. Mulai dari David de Gea,Manuel Neuer, Maarten Stekelenbug hingga Pepe Reina. Mereka semua kiper-kiper berkualitas jempolan. Tapi sekeping kekhawatiran masih terselip di hati. Mampukah mereka menggantikan pahlawan kami dari Belanda itu? Semoga bisa. Semoga tak ada lagi adegan menjajal berderet kiper seperti masa sepeninggal The Big Dane.

Siapapun pilihan Fergie semoga itu yang terbaik. Jadi saya tidak perlu berucap “Please, one more year Edwin!!”

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: