Anak-Anak Pantai Mawun

Sebut saja mereka Novi, Chepi, Deguk dan Jani. Dari kejauhan saya melihat kaki-kaki kecil mereka berlari penuh semangat menginjak bulir-bulir pasir putih yang membingkai Pantai Mawun. Ocehan riang dan tawa lepas seolah berbalas nada dengan derap kaki mereka. Antusias dan gembira. Keempat anak Pantai Mawun itu sudah tak sabar menyapa laut mereka. Pantai indah berbalut air biru dan deretan bukit di ujung sana.

Ketika deburan air terasa di kaki, mereka sontak menanggalkan semua pakaian di badan. Tak sehelai kain pun tersisa. Dengan kepolosan itu, mereka bercengkrama dengan laut mereka. Deguk, Chepi, Jani dan Novi tak gentar menantang hentakan air. Maklum, mereka bukan anak-anak biasa yang menimba keahlian berenang di kolam buatan tangan manusia. Mereka berempat dididik oleh alam. Siapa guru yang lebih baik selain alam? Gerakan mereka begitu lincah, tanpa irama beraturan dan tak sedikitpun mirip teori dasar renang di buku panduan. Chepi dan kawan kawan hanya mengikuti naluri.

Bersama aanl-anak Pantai Mawun (Foto by Renjay)

Bersama aanl-anak Pantai Mawun (Foto by Renjay)

Saya pun terbius. Perlahan langkah kaki tertarik mendekati mereka. Berbekal  kamera pinjaman di tangan, saya mengabadikan keceriaan mereka. Kegembiraan apa adanya, tanpa tendensi. Sapaan pun terlontar. “Pintar sekali kalian berenang. Belajar di mana? Ajarin dong. Kakak yang sebesar ini saja tidak bisa berenang,” kata saya membuka percakapan.
Semula saya mengira mereka akan takut menjawab. Yang mereka hadapi kan orang asing. Ternyata tebakan itu meleset. Mereka rupanya bukan anak-anak pemalu. “Masak tidak bisa renang. Kamu sini saja, kami ajari. Gampang kok,” jawab si Novi, yang memanggil saya tanpa embel-embel mbak atau kakak.

Action (Foto by yusmei)

Menulis (foto by renjay)

Percakapan berlanjut. Mereka adalah anak-anak sekitar Pantai Mawun, Lombok Tengah (NTB), yang hampir setiap hari datang menyapa pantai indah itu. Tiga anak sudah sekolah, kecuali si Jani. Satu-satunya cowok di antara mereka berempat, serta yang paling kecil. Saya protes dipanggil “kamu” oleh mereka. “Sama orang yang besar manggilnya mbak ya,” pinta saya. Mereka menurut. Tapi betapa kagetnya saya ketika sebuah kalimat melunncur dari bibir Novi. “Mbak minta uangnya dong. Sepuluh ribu saja. Buat jajan. Mbak pasti punya banyak uang,” cetus Novi.

Waduh kok jadi gini. Saya jawab, tak ada uang. Deguk dan Chepi mengompori. Mereka terus meminta uang. Siapa yang mengajari mereka jadi peminta-minta begini? Mengapa anak-anak berani dan lincah dengan entengnya mengemis uang kepada orang asing? Saya berusaha menjawab dengan bijak. Walaupun saya benar-benar tidak tahu jawaban bijaksana seperti apa yang harus diucapkan.

“Kalian sudah pernah ke Jawa belum. Rumah kakak ada di sana?” tanya saya.

“Belum mbak. Jawa itu jauh ya? Kalau ke sana naik apa?” sahut Novi, anak yang paling berani diantara teman-temannya.

“Jauh. Kalian harus naik pesawat. Bayarnya mahal. Mau main ke Jawa? Belajar yang pintar ya, biar nanti kalau sudah besar bisa kerja dan punya uang banyak. Jadi gak perlu minta-minta sama orang. Gak baik. Memberi lebih baik daripada menerima,” kata saya sekenanya.

Kacamata hitam (Foto by yusmei)

Novi belum menyerah juga. “Tapi minta uangnya dulu ya. Buat jajan,” katanya ngeyel. Eh ternyata ucapan saya tadi betul-betul diabaikan. Saya hanya tersenyum. “Katanya sudah sekolah. Aku tes ya. Beritahu dong nama presiden Indonesia. Namanya siapa coba?” tanya saya. Mereka saling lirik sambil tertawa renyah. Akhirnya sebuah jawaban terlontar dari bibir Novi. “Presidennya kamu.” Kami pun tertawa ngakak bersama-sama.

Kacamata hitam (Foto by yusmei)

Lelah bercengkrama, saya melangkahkan kaki menjauhi panta, menuju gazebo tempat teman-teman seperjalanan melepas lelah. Ternyata anak-anak tersebut mengikuti di belakang. Saya kemudian mengarahkan kamera ke arah mereka. Mereka antusias menghadapi jepretan-jepretan kamera. Bergantian mereka bergaya. Gairah Jani dkk semakin berlipat ketika saya meminjaman kaca mata hitam yang semula nangkring di kepala saya. Tanpa malu-malu mereka bergaya dengan centil, kecuali si Jani yang paling pemalu.

Setelah capek bergaya bak model, mereka tetap mengikuti langkah saya. Gagal mendapatkan selembar uang, Novi mengeluarkan jurus pamungkas. “Mbak minta bolpoinnya dong. Buat sekolah,” ujarnya dengan intonasi keras khas Lombok. Kali ini saya luluh. Untung ada sebuah bolpoin di dalam tas. Sambil mengeluarkan bolpoin itu saya berucap. “Beneran ya belajar yang rajin. Nanti biar jadi anak pintar dan sukses. Nanti main ke rumah mbak di Jawa ya.”

Jarum pendek jam sudah mengarah ke angka dua. Sudah saatnya meninggalkan Pantai Mawun yang menawan. Juga mengucapkan selamat tinggal pada Chepi, Deguk, Jani dan Novi. Sebaris doa dan harapan tersimpan dan terucap dalam hati. Semoga bolpoin yang harganya tak seberapa itu bisa memberikan manfaat. Membantu Deguk dkk supaya suatu saat nanti menjadi seorang pemberi, bukan peminta-minta. Tolong, jangan sampai mereka bermental pengemis. Mereka terlalu berharga untuk melakukan itu.

Pantai Mawun (Foto by Renjay)

Pantai Mawun

Lombok, Maret 2011

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: