Arise Sir Ryan Giggs

“Seseorang pemain yang unik. Itu kontribusi luar biasa. Pengalaman dan ketenangannya sangat vital. Dia beruntung fisiknya masih prima dan dia punya keseimbangan fantastis. Itu akan selalu menjadi asetnya. Untuk bermain di usia 37 tahun membutuhkan pengorbanan besar.”

Sederet kalimat tersebut meluncur dari bibir manajer MU, Sir Alex Ferguson, seusai Manchester United menyingkirkan Chelsea dari pentas Liga Champions. Tak sulit menebak untuk siapa pujian setinggi langit itu dialamatkan. Ya, sang pemain veteran, Ryan Giggs.

Ada yang memanggilnya Giggsy. Bebererapa sahabat dekatnya mungkin memanggilnya Ryan. Di masa lalu, dia menyandang nama Ryan Wilson. Julukan The Welsh Wizard juga melekat pada dirinya. Saya lebih suka memanggilnya apa adanya, Giggs. Pesepak bola luar biasa yang November mendatang bakal memasuki usia 38 tahun!

The Welsh Wizard (Foto: manutd.com)

Giggs memang pantas dipuja. Pria Wales ini seolah menentang hukum alam. Liat saja, ketika rekan-rekan seangkatannya sudah keluar dari hingar bingar pentas sepak bola, Giggs masih bertahan di level tertinggi. Keawetan karier Giggsy juga bukan tanpa alasan. Dia bertahan karena masih mampu dan mumpuni. Kualitasnya tak tergerus habis oleh usia. Performa Giggs tetap mengagumkan. Kawan atau lawan tak segan-segan memberi penghormatan padanya.

Saat bertanding kontra Chelsea di Stadion Old Trafford, Rabu (13/4) dini hari WIB, Giggs menjadi pemain United tertua (di luar kiper) yang tampil di Liga Champions. Tepatnya dia berusia 37 tahun, 128 hari. Angka itu mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang mantan bek United asal Prancis, Laurent Blanc. Menilik usianya, Giggs jelas sudah di pengujung karier. Tapi tak ada yang tahu dengan pasti kapan pemain kalem itu bakal berhenti. Tanda-tanda ke arah sana juah dari terang benderang. Siapa yang mampu menebak jika sang pemain masih ahli menyuguhkan permainan yang mengundang decak kagum?

Jika tak percaya dengan kehebatan Giggs, bertanyalah pada penggawa Chelsea yang takluk 0-1 dan 1-2 pada dua kali pertandingan perempat final Liga Champions melawan Setan Merah. Tiga gol MU dicetak tiga pemain berbeda. Masing-masing Wayne Rooney, Javier Chicharito Hernandez dan Park Ji-Sung. Namun, ada benang merah yang menghubungkan tiga gol penentu tiket semifinal untuk United itu. Ya, semuanya merupakan hasil assist Giggs. Gelandang senior Setan Merah itulah yang menjadi sang kreator utama.

Giggsy mempertontonkan kontrol hebat dan umpan brilian kala memperdaya Barislav Ivanovic dan mengarsiteki gol Rooney. Kemudian ia menggunakan visi cemerlang dan timing tepat ketika mengirimkan umpan mematikan yang mengawali gol Park dan Hernandez. Gol Park datang di saat yang sangat tepat dan berimbas krusial. Hanya 21 detik setelah The Blues menyamakan gol melalui Didier Drogba dan mulai bangkit kepercayaan dirinya. Gol balasan kilat itu jelas kembali meruntuhkan mental Chelsea. Dan Giggs paham benar fakta itu.

Pengalaman panjang menempatkan Giggs di posisi istimewa dibanding rekan-rekannya. Sudah lebih dari 20 tahun dia berkiprah di level sepak bola profesional. Ketika Giggs mengawali karier pronya, si kembar Fabio dan Rafael da Silva baru berumur delapan bulan! Gelandang Arsenal, Jack Wilshere, bahkan belum lahir. Data yang dilansir sebuah media Inggris itu membuat Giggs menjadi bahan olok-olok di ruang ganti. Namun apa yang salah dengan bermain selama 20 tahun? Jika penampilannya buruk, kengototan itu pantas dihujat. Tapi saat dibarengi performa gemilang, siapa yang bakal menggugat? Jelas tak ada! Giggs memang tak selincah 12 tahun silam. Fans United pasti masih merekam momen keajaiban Ryan Giggs di partai replay semifinal Piala FA 1999 kontra Arsenal di Stadoion Villa Park. The Welsh Wizard berhasil memotong umpan Patrick Vieira di tengah lapangan dan kemudian menari meliuk-liuk melewati lima pemain Arsenal. Kemudian jala The Gunners pun bergetar oleh sebuah penyelesaian indah. Jutaan mata menatap nyaris tak percaya. Giggs kemudian berselebrasi liar dengan mencopot kaos dan berlari-lari sembari mempertontonkan bulu dadanya yang lebat (hehehe).

Benar-benar fantastis. Itu adalah gol terbaik sepanjang masa di kancah Piala FA. Publik sepak bola mungkin sulit mengharapkan lagi aksi serupa. Usia telah menggerogoti kecepatan Giggs. Namun ia mampu bertahan. Kuncinya adalah kepandaian menyesuaikan diri. Giggs tak lagi mengandalkan kecepatan dan tusukan-tusukannya di sisi sayap sebagai senjata. Sekarang yang utama baginya adalah visi, kepandaian membaca permainan dan tahu benar kapan harus mengunakan energinya. Dia jarang terlihat kelelahan. Mungkin berkat latihan yoga dan gaya hidup sehatnya. Mungkin juga karena ia dan Ferguson telah bekerja keras menyusun jadwal sempurna untuk memanfaatkan energinya. Kemudian mengunakannya secara produktif dan waktu yang tepat.

Menyiasati energinya yang tak seprima dulu, Giggs kini lebih banyak bermain di tengah. Seperti yang dilakoninya dalam bentrok kontra Chelsea, serta sebagian besar pertandingan musim ini. Bersama Michael Carrick, dia mengorkestrai permaianan United di lini tengah. Serangan MU memang kalah gencar di banding Chelsea. Namun berkat kejeniusan Giggs, gebrakan United selalu lebih berbahaya. The Blues pun akhirnya terkapar. Misi balas dendam atas kekalahan di final Liga Champions 2008 gagal total.

Di atas semua itu, Giggs adalah sosok panutan sempurna. Bagi anak-anak yang bermimpi menjadi pesepak bola hebat atau pemain junior yang hendak merintis karier. Giggs adalah tentang legenda hidup, gairah, loyalitas, kesederhanaan, profesionalisme dan sarat skill. Sepanjang karier profesionalnya, dia belum pernah sekalipun mendapat kartu merah. Giggs juga tak larut dalam kehidupan liar di luar lapangan. Kesetiaannya pada Setan Merah tak perlu diragukan lagi. Di era modern ketika uang menjadi dewa, Giggs enggan tergoda. Pria yang di masa juniornya pernah membela Timnas Inggris ini, setia mengabdikan dirinya di Old Trafford. Total sudah 23 gelar direngkuhnya bersama MU, termasuk 11 trofi Liga Premier di dalamnya. Semua titel bergengsi sudah dikecapnya (kecuali trofi Piala Dunia dan Piala Eropa). Hebatnya, semua gelar itu tak membuatnya kehilangan rasa lapar mengejar gelar. Dia selalu menunjukkan apa itu mental dan spirit juara kepada juniornya. Setiap pesepak bola yang ingin mengadu nasib di Old Trafford cukup melihat Giggs untuk memahami seperti apa karakter Manchester United.

Kapan petualangan Giggs bakal berakhir? Tak ada yang tahu.Rekan-rekanya sesama anggota Class of 92, juga sudah mendekati ujung karier. Gary Neville sudah malah sudah pensiun, Paul Scholes mungkin akan segera menyusul. Mungkin giliran Giggs adalah musim depan atau mungkin tiga tahun lagi. Yang pasti, momen ketika Giggs memutuskan gantung sepatu akan menjadi kehilangan besar dunia bagi dunia sepak bola. Saya pun bakal menangis tersedu-sedu. Boleh saja orang-orang membenci Manchester United, Tapi hampir semuanya menaruh respek besar untuk Giggs. Gelandang veteran itu memang panutan sejati.

Saya setuju dengan komentar Wayne Rooney seusai laga kontra Chelsea. Menurutnya hanya masalah waktu Giggs akan mendapat gelar Sir. Ia layak dianugerahi gelar kehormatan yang juga diberikan kepada Matt Busby, Bobby Charlton dan Alex Ferguson. Hanya satu kata yang tepat untuk menggambarkan sosok Giggs. Legend!!

Arise (Sir) Ryan Giggs

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Arise Sir Ryan Giggs

  1. Wah-wah mba penggemar MU juga ya?

    Giggs the legend🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: