Kemegahan Angkor Wat

Keriuhan menjemput sunrise di angkor wat

Keriuhan menjemput sunrise di angkor wat

Bangun pagi adalah sebuah siksaan. Tapi, demi menikmati sunrise di Angkor Wat, pagi itu saya bela-belain bangun jam 04.00 dan langsung mengguyur badan di kamar mandi. Tepat jam 05.30, bersama dua orang teman, saya pun berangkat menggunakan tuk-tuk untuk menikmati kemegahan Angkor Wat.

Seorang teman pernah bilang, foto apapun yang diambil di Angkor Wat hasilnya pasti bagus. Setiap sudut tempat ini menyuguhkan karakter dan keindahan, terutama bagi para penggemar candi-candi bersejarah. Saya pun antusias ketika akhirnya punya kesempatan berkunjung. Perjalanan darat dari Ho Chi Minh City (Vietnam) hingga Siem Riep (Kamboja) selama 12 jam dengan senang hati saya lakoni.

Ketika mencari-cari info tentang Angkor melalui internet, hampir semua tulisan menyarankan kami harus datang ke sana pagi-pagi sekali. Menyambut matahari merayap naik dari balik megahnya Angkot Wat. Itulah sebabnya saya rela bangun pagi-pagi sekali.

Angkor Wat di pagi hari

Salah satu sudut Angkor Wat

Sopir tuk-tuk kami orangnya ramah dan menyenangkan. Untunglah berkat obrolan-obrolan hangatnya di sepanjang perjalanan, rasa kantuk yang tersisa pun menguap. Ternyata bukan cuma kami yang rela berangkat awal ke Angkor. Hal serupa dilakukan puluhan turis-turis lainnya. Sebagian besar naik tuk-tuk, namun sebagian turis-turis asal barat lebih suka naik sepeda. Orang Indonesia seperti kami, jelas memilih naik tuk-tuk…gak bikin capek.

Perjalanan dari hotel kami menginap menuju kompleks angkor hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Sampai di loket penjualan tiket, antrian sudah ramai. Untuk menikmati paket seharian penuh di komplek Angkor, saya harus merogoh kocek sebesar US$ 20. Ada juga paket seharga US$ 40 untuk 3 hari atau US$ 60 untuk 7 hari. Yang menarik, tiket yang diberikan akan berhias foto diri kita karena setiap orang akan diambil gambarnya di loket pembayaran tiket. Ya, mirip sewaktu berfoto saat membuat SIM atau paspor.

Angkor Wat sebenarnya hanya salah satu bagian dari candi-candi yang terdapat di kompleks Angkor. Tempat megah tersebut dibangun oleh Raja Suryavarman II pada pertengahan abad ke-12. Pada awalnya berfungsi sebagai candi Hindu, namun pada abad ke-13 dialihfungsikan menjadi candi Budha. Kompleks Angkor Wat sangat besar dan dikelilingi danau buatan manusia yang disebut baray. Jalan masuk ke Angkor Watt cukup jauh sekitar setengah kilometer. Sopir tuk-tuk hanya boleh menunggu di luar, jadi kamipun harus berjalan kaki. Gak papa lah sekalian berolahraga.

Sampai di spot yang biasa digunakan untuk melihat matahari terbit, ternyata suasananya sudah ramai. Hampir semua orang bersiap mengabadikan momen matahari terbit dengan kamera di tangan. Kami pun tak mau kalah. Mencari lokasi terbaik demi mendapatkan foto maksimal. Penjual kopi dan teh hangat bersliweran menjajakan dagangan mereka. Untuk menghangatkan badan, saya pun membeli secangkir teh dengan harga 1 dolar atau sekitar Rp 9.000! Sayangnya, penantian kami pagi itu sia-sia. Matahari sedang enggan keluar dari balik awan. Sempat nongol sih, tapi hanya sekitar 5 menit…ya sudahlah. Kami pun akhirnya melangkahkan kaki ke kompleks candi. Menyerap dan terbius oleh keindahan bangunan megah itu.

Bayon

Selain Angkor Wat, candi wajib kunjung di komplek ini adalah Angkor Thom alias Bayon. Jarak satu candi dengan candi lain lumayan jauh. Kalau gak takut capek bisa jalan kaki. Tapi kami jelas lebih suka naik tuk-tuk yang sudah kami sewa. Bangunan candi Bayon agak-agak mirip dengan Candi Prambanan. Bedanya di puncak candi ada patung wajah manusia yang menghadap ke seluruh penjuru mata angin. Menarik sekali…Puas melihat-lihat dan berfoto narsis, kami pun lanjut ke candi-candi selanjutnya.

Selain Angkor Wat, candi yang tak kalah beken di kompleks itu adalah Ta Phrom.  Sudah pernah menyaksikan film Tomb Raider yang dibintangi Angelina Jolie? Nah, salah satu pengambilan gambarnya dilakukan di candi ini. Bahkan candi ini sering disebut sebagai candi Angelina Jolie. Jelas film Tomb Raider turut berperan besar mendongkrak pamor Ta Phrom.

Ta Phrom sangat unik.  Ikonnya adalah pohon-pohon berakar raksasa yang mencengkeram bangunan candi. Waktu pertama kali melihatnya di film rasanya seperti tidak masuk akal. Tapi keajaiban itu memang benar-benar nyata.  Luar biasa. Akar-akar pohon itu tampak begitu kokoh dan benar-benar besar. Seolah-olah sengaja menopang candi supaya tidak roboh. Saat di sini, kesempatan berfoto di depan pohon-pohon raksasa itu tidak kami lewatkan. Anggap saja sedang napak tilas syuting Tomb Raider…

Ta Phrom

Saat kami berkunjung ke sana, beberapa bagian candi di Angkor Wat sedang dipugar. Tentunya supaya tempat tersebut terjaga kecantikannya. Maklum Angkor Wat ini adalah ikon atau satu nadi kehidupan Kamboja alias Negeri Khmer ini. Angkor Wat adalah sebuah mesin devisa. Kepopuleran bangunan Buddha tersebut tidak perlu diragukan lagi. Turis-turis dari berbagai belahan dunia terus membanjiri ikon Kamboja itu.

Potensi besar Angkor sebenarnya juga dimiliki Candi Borobudur. Bedanya, pemerintah Kamboja terkesan lebih serius memajukan mesin devisanya ini. Semua dibuat bersinergi positif, yang bertujuan memanjakan dan memudahkan para turis yang datang. Penginapan dan sarana transportasi untuk berkeliling dengan mudah dapat kita jumpai dengan harga miring. Bayangkan, kami bertiga berhasil mendapat hostel yang murah dan nyaman. Hanya dengan merogoh Rp 40.000/hari untuk masing-masing orang, kami bisa menikmati fasilitas lengkap. Mulai kamar ber-AC, kamar mandi dengan fasilitas air panas, televisi kabel, kulkas kecil dan sambungan internet gratis. Kalau mau cari tuk-tuk, bisa langsung pesen di hostel ini. Sarana penunjang seperti inilah yang harus dioptimalkan pemerintah Indonesia untuk mendongkrak tingkat kunjungan ke Borobudur. Tentunya dibarengi promosi yang serius.

Ada hal menarik lain yang membuat saya suka dengan trip ke Angkor Wat ini. Meskipun tidak bebarengan dengan hari besar agama buddha, kegiatan peribadatan tampak selalu berlangsung. Ketika hari beranjak siang, penduduk-penduduk setempat akan berdatangan untuk berdoa. Keberadaan mereka membuat candi itu seperti punya jiwa, tidak terasa kosong dan sepi. Kita juga bisa menyaksikan para biksu, baik yang sudah dewasa atau masih remaja, melalukan aktifitasnya. Saya bahkan berhasil memaksa beberapa biksu remaja berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Dengan malu-malu mereka pun bersedia memenuhi permintaan saya…

Bareng penduduk lokal

Rasanya belum puas menikmati kemegahan Angkor dalam waktu singkat itu. Namun waktu tidak bisa diajak berkompromi. Semoga suatu saat nanti saya bisa kembali lagi ke sana…:)

Siem Riep, Maret 2010

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Kemegahan Angkor Wat

  1. akhdadiyah says:

    nginep dimana tu yang murah? hehehe, makasih infonya!

  2. Nama penginapannya lupa,,,tapi di Siem Riep rata2 hostel harganya murah meriah kok. Tapi ada juga yang mahal…browsing aja lewat hostelworld.com…dijamin banyak pilihan yang murah dan nyaman….
    makasih dah mampir ke blog ini…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: