Balada Sendu Messi

Ketika peluit panjang pada bentrok Copa America 2011 antara tuan rumah Argentina dan Kolombia berbunyi dengan skor akhir 0-0, Kamis (7/7) pagi, WIB saya langsung tertarik membuka facebook dan twitter. Benar saja, banyak bermunculan komentar-komentar tentang Lionel Messi, sang superstar Tim Tango.

Mudah meramalkan bahwa pemain Barcelona itu akan disorot jika Argentina kembali tampil buruk. Sebagai tuan rumah, Argentina seperti ditimpa bencana. Memetik hasil imbang dari dua laga pertama membuat publik pun bertanya-tanya apakah mereka layak menyandang status favorit juara. Suporter Argentina bahkan tak malu-malu mencemooh tim mereka sendiri.

Seperti biasanya ketika tim besar bermain buruk, maka orang-orang ramai mencari kambing hitam. Biasanya yang dikritisi adalah taktik pelatih. Di dunia maya, suporter Argentina ramai berdebat tentang strategi Sergio Batista, antara lain keputusannya menurunkan pemain gaek macam Javier Zanetti. Argentina juga jelas-jelas gagal mengadopsi gaya permainan ala Barcelona. Tapi di atas semua itu, Messi adalah sasaran terempuk untuk dikritik. Lagi-lagi pemain mungil itu gagal menyuguhkan sihir memesona seperti ketika berbalut jersey Barcelona.

Ini beberapa status dan kicauan teman saya di twitter dan facebook tentang sang messiah.

“Argentina membuktikan Messi bukan lah seorang dewa tanpa Xavi dan Iniesta di sampingnya.”

“Seandainya Argentina punya Xavi dan Iniesta, maka Messi tak akan kebingungkan seperti anak ayam kehilangan induknya.”

“Jarang-jarang lihat Messi melakukan tendangan bebas sekelas pemain Liga Indonesia seperti itu…My Deepest apology to say that…”

Apa yang salah dengan Messi ketika berkostum Argentina? Di Piala Dunia 2010, Messi tenggelam. Keterpurukan itu berlanjut di Copa America 2011 yang ironisnya berlangsung di negaranya sendiri. Alih-alih mencetak gol, Messi pun jarang mengancam gawang lawan. Dalam dua laga kontra Bolivia dan Kolombia, dia hanya mencatatkan dua tendangan ke gawang! Messi mati kutu karena dijaga ketat oleh defender-defender lawan.

Tapi, tak masuk akal meragukan kualitas Messi. Dia adalah pemegang gelar pemain terbaik dunia dalam dua tahun terakhir. Semua titel bergengsi di level klub pernah dimenanginya bersama El Barca. Sebut saja trofi La Liga, Copa Del Rey, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, Liga Champions dan Piala Dunia Klub. Pemain berusia 23 tahun itu juga mencatatkan diri sebagai top skor Liga Champions dalam dua musim terakhir. Sepanjang musim lalu Messi melesakkan total 53 gol!

Penonton juga kerap terbius dengan aksi-aksi ajaibnya. Bagaimana dengan mudah ia membuat bek paling tangguh sekalipun berubah bagai pemain bodoh ketika berusaha menghentikan liukannya di lapangan. Real Madrid, seteru abadi Barcelona, juga selalu jeri menangkal gedoran sang messiah. Manchester United, lawan Barcelona di final Liga Champions musim lalu, juga tidak punya jawaban bagaimana menghentikan lesatan Messi. Padahal MU punya manajer sekaliber Sir Alex Ferguson yang dikenal sebagai raja taktik. Dalam dua kali pertemuan selama tiga musim terakhir, Setan Merah berhasil dipecundangi Barca dengan Messi sebagai salah satu aktor utamanya.

Jadi benarkah Messi tak berdaya tanpa maestro-maestro lini tengah semacam Xavi dan Iniesta sudah tahu benar bagaimana “melayani” sang bintang? Chemistry diantara ketiga pemain tersebut tak perlu dipertanyakan. Mereka sudah lama merumput bersama di Nou Camp. Saling tahu gaya permainan, karakter dan pergerakan satu sama lain. Ibaratnya, sambil menutup mata pun Xavi sudah tahu ke mana harus mengumpankan bola kepada Messi. Begitu pula sebaliknya.

Argentina sebenarnya juga punya banyak talenta-talenta berkualitas. Messi didampingi striker hebat macam Carlos Tevez dan Ezequiel Lavezzi. Kemudian di belakangnya ada Esteban Cambiasso dan Javier Mascherano. Tapi nyatanya Messi sulit menemukan permainan terbaiknya. Wajar jika wajah sang bintang terlihat tegang. Mungkin ia juga dihinggapi rasa frustrasi. Tak ada umpan-umpan pendek cepat dan mengalir seperti yang dinikmatinya bersama Azulgrana, julukan Barca.

Mungkin saking frustrasinya, media-media Argentina pernah mempertanyakan loyalitas Messi terhadap Tim Tango. Alasannya Messi sudah masuk ke akademi sepak bola Barca sejak ia masih belia. Kondisi itu dikabarkan melunturkan rasa kebangsaan Messi. Ah rasanya tuduhan itu terlalu belebihan. Meski saya adalah fans Manchester United, saya punya respek tinggi terhadap Messi. Mustahil kecintaan Messi terhadap bangsanya luntur hanya karena ia lebih lama menghabiskan waktu di Catalan, Spanyol.

Yang jelas, balada sendu bersama Argentina masih menghantui Messi. Namun, masih ada waktu untuk memperbaiki dan menjawab kritikan. Yang terdekat adalah laga terakhir penyisihan Grup A Copa America melawan Kosta Rika. Setelah itu masih ada Piala Dunia 2014. Membawa Albiceleste juara dunia adalah tantangan teresar yang dihadapi Messi untuk menyempurnakan karier gemilangnya di pentas lapangan hijau…

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: