Bali Ndeso Mbangun Mall…

Bukankah sosok pemimpin yang baik adalah orang yang mau mendengarkan dan mempertimbangkan pendapat, harapan dan keinginan rakyat atau masyarakatnya? Bukan malah ngotot mengumbar egonya sendiri? Nyatanya sosok pemimpin ideal seperti itu jumlahnya masih segelintir. Termasuk kategori langka. Buktinya, Provinsi Jawa Tengah belum memiliki sosok pemimpin ideal seperti itu.

Membaca polemik rencana pembangun mal baru di Solo pada berbagai media, saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Sudah sepekan perdebatan panas bergulir. Intinya Pemprov Jateng tiba-tiba memberikan izin pembangunan mal baru di bekas Pabrik Es Saripetojo Solo. Tetapi izin itu keluar tanpa berkoordinasi dengan Pemkot Solo karena beralasan bangunan tersebut adalah milik Pemprov Jateng.


Saya sungguh heran, prihatin dan bercampur geram dengan sikap Gubernur Jateng, Bibit Waluyo. Dia bersikeras membangun Mal Ramayana di bekas Pabrik Es Saripetojo Solo, yang letaknya di depan Stasiun Purwosari, Solo. Bibit seperti menutup mata, hati dan telinga terhadap penolakan Pemkot dan warga Solo atas rencana pembangunan itu. Yang keluar justru sikap arogansinya. Pembangunan mal itu tetap harus berjalan karena menurutrnya lahan itu merupakan milik Pemprov Jateng, jadi bebas mau melakukan apapun. Pabrik Es Saripetojo itu dialihfungsikan karena tidak mendatangkan pemasukan untuk provinsi. Alhasil, pembokaran bangunan kuno itu sampai sekarang tetap jalan terus.

 

Penolakan pemerintah dan warga Solo bukannya tanpa alasan. Bangunan bekas Pabrik Es Saripetojo itu sudah masuk dalam daftar yang diajukan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) kepada Kemenbudpar untuk ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCG). Jadi, Pemkot Solo menganggap pembongkaran terhadap bangunan bekas Pabrik Es Saripetojo itu melanggar Undang Undang No 11/2010, tentang BCB. Selain itu, pelaksana proyek juga belum mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Pemkot Solo baru sebatas mengeluarkan Izin Pemanfaatan Ruang (IRP).

Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, juga menganggap pembangunan mal baru itu bisa mematikan pasar-pasar tradisional di sekitar tempat tersebut. Apalagi Pemkot Solo sudah memutuskan untuk tidak menambah mal baru di tengah kota. Mal hanya boleh didirikan di wilayah Solo Utara dan Timur untuk mendongkrak denyut ekonomi di wilayah tersebut. Sekedar informasi, tak jauh dari bekas pabrik es Saripetojo itu sudah ada dua mal besar. Solo Grand Mall (SGM) dan Solo Square, serta Mal Solo Paragon yang masih dalam proses pembangunan. SGM dan Solo Square itu terletak pada satu jalan lurus. Lalu untuk apalagi ada mal baru? Rasanya dua mal itu saja sudah mencukupi kebutuhan warga Solo.

Alasan ketiga mengapa warga dan Pemkot Solo menolak pembangunan mal baru itu karena berpotensi menjadi biang kemacetan. Lokasi bekas Pabrik Es Saripetojo itu terletak di dekat palang pintu kereta api dan pertigaan yang padat lalu lintasnya. Ketika kereta melintas, kemacetan cukup panjang pasti terjadi. Insensitas kereta yang lewat juga tinggi. Apa jadinya jika di dekat sana berdiri mal? Pasti jalan akan semakin macet karena biasanya keberadaan mal tak bisa dipisahkan dari persoalan parkir, baik motor atau mobil. Apakah hal seperti ini tidak Anda pertimbangkan Pak Bibit?

Dengan berbagai pertimbangan di atas, warga Solo pun ngotot menolak pembangunan Mal Ramayana. Penolakan keras juga terlontar dari anggota DPRD. Beberapa elemen masyarakat sudah berikrar siap melawan keputusan Bibit Waluyo. Mal baru dianggap tidak dibutuhkan warga Solo. Bibit bahkan dianggap tidak ngguwongke Walikota dan Walikota Solo, serta mengacak-acak tatanan di Kota Solo. Mereka pun minta Jokowi tegas menghentikan pembangunan mal tersebut. Mereka pun siap berdiri di belakang walikota.

Yang jelas mayoritas warga Solo menolak pembangunan mal tersebut. Saya bilang mayoritas karena mungkin saja ada yang mendukung, meski saya yakin kalaupun ada jumlahnya sangat kecil. Komentar dan kritik pedas warga Solo banyak diekspresikan melalui dunia maya seperti twitter dan facebook. Warga makin geram karena respons Bibit dianggap sangat arogan. Mau tahu seperti apa komentar orang nomor satu di Jateng itu?

Inilah beberapa pernyataannya yang saya kutip dari media.

“Ora iso, kok arep ditolak, kuwi lemahku. (Tidak bisa, kok mau ditolak. Itu tanahku). Pokoke pembangunan mal tetap jalan terus.”

“Tetap dibangun. Pemkot Solo itu termasuk bagian Pemprov Jateng atau berdiri di luar Jateng? Jateng itu yang punya Pemkot Solo atau Gubernur Jateng?”

“Saya punya prediksi kalau ditambahi mal lagi, yang punya mal lagi gak payu (tidak laku). Kemudian memberdayakan orang lain untuk tak setuju, barangkali praduga saya begitu.”

Menang Bibit punya alasan lain. Dia mengklaim mal baru itu membuka lapangan pekerjaan bagi mayarakat dan meningkatkan pendapatan asli daerah. Kemudian Pabrik Es Saripetojo hanya menghasilkan pendapatan Rp 15 juta setahun bagi Pemprov Jateng. Dia juga menepis kekhawatiran bahwa keberadaan mal itu akan mengancam eksistensi pedagang kecil. Bibit meminta semua pihak jangan berpikiran sempit.

Menurut saya, beberapa pernyataan gubernur ini sangat arogan dan kebablasan. Apakah dia lupa dipilih oleh rakyat? Tak adalah bahasa politik yang lebih bijaksana dan elegan dibanding pernyataan ofensif dan kurang mendidik seperti itu? Ingat pak ini negara demokrasi, bukan lagi jaman kolonial. Bukankah pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengarkan aspirasi layaknya, bukan malah menonjolkan ego pokoke harus begitu atau pokoke harus begitu.

Tak heran, slogan kampanye Bibit ketika mencalonkan diri jadi gubernur Jateng kini jadi bahan olok-olok. Dulu Bibit memilih slogan “Bali Ndeso,Mbangun Ndeso.” Slogan itu kini diplesetkan jadi “Bali Ndeso…Mbangun Mall”

Sumber referensi: Solopos.com, Tempointeraktif.com

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: