Mantra Ketiga Trilogi Negeri Lima Menara

Siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai”

Ada beberapa penulis Tanah Air yang saya kagumi karya-karyanya. Salah satunya Ahmad Fuadi. Penulis novel best seller trilogi Negeri Lima Menara, yang mengupas tentang kehidupan pesantren dan lika-likunya. Tema menarik yang selama ini belum banyak terangkat ke permukaan. Angka penjualan novel ini sungguh fantastis. Katanya menjadi buku terlaris dari penerbit Gramedia Pustaka Utama semenjak 37 tahun terakhir.

Ketika ada kabar Mas Fuadi mau ke Solo, saya pun ngebet ingin bertemu langsung. Dia datang ke Solo untuk acara bedah buku Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Solo, yang tengah berulang tahun ke-25. Maka pada Rabu (15/6) pagi, saya pun bela-belain mempersingkat waktu tidur. Maklum, saya termasuk tipe orang yang tidak suka bangun pagi. Pemalas ya…hehehehe

Ternyata kedatangan saya kali ini tidak sia-sia. Selain bisa mengobrol panjang lebar dengan Mas Fuadi, saya pun mendapat sedikit bocoran tentang buku ketiga dan persiapan syuting film Negeri Lima Menara. Bercengkerama dengan pria asal Maninjau itu sungguh tidak membosankan. Status sebagai pengarang buku terkenal dan penerima delapan beasiswa dari berbagai universitas, tak membuat Mas Fuadi menjaga jarak. Obrolan berjalan santai, santun, berisi dan mengalir.

Buku ketiga trilogi Negeri 5 Menara saat ini masih dalam proses pengerjaan. Baru sampai halaman 57 alias masih jauh dari selesai. Begitu menurut pengakuan Mas Fuadi. Judul pun belum dipilih, tapi pasti mengandung unsur angka satu. Tetapi intisari buku lanjutan Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna itu sudah ditetapkan. Begitu juga “mantra” utamanya. Ya, seperti dua buku terdahulu, buku ketiga ini juga akan memperkenalkan sebuah “mantra pembangkit semangat”. Ketiga novel itu juga based on true story atau terinpirasi kisah nyata sang penulis.

Buku Negeri 5 Menara identik dengan mantra “man jadda wa jadda”, yang berarti “Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil”. Mantra ini begitu mengena dan inspiratif. Salah satu buktinya, dulu kata-kata itu sering saya jumpai dipasang teman di status facebook maupun twitter..hehehe. Itu artinya banyak orang yang terinpirasi oleh kata-kata sederhana namun bermakna luar biasa itu. Di buku ini, Mas Fuadi bercerita tentang kehidupannya selama menuntut ilmu di pesantren melalui tokoh Alif. Mantra “man jadda wa jadda” ternyata ampuh membantu Alif melalui semua kesulitan di pesantren madani alias Pondok Gontor diJatim. Meski awalnya setengah hati belajar di sana, Alif pada akhirnya malah bersyukur telah mendapat pengalaman luar biasa itu. Di sana dia memiliki lima sahabat baik yang sama-sama berjuang untuk menggapai mimpi-mimpi luar biasa. Mereka berenam punya julukan shahibul menara.

Buku kedua, Ranah 3 Warna, identik dengan mantra “man shabara Zhafira” yang artinya “siapa yang sabar akan beruntung”. Kata-kata itu menjadi pelecut semangat ketika Alif ditimpa berbagai kesulitan semasa kuliah. Ternyata dia menyadari usaha sungguh-sungguh pun belum cukup, tapi juga harus disertai dengan sabar. Tapi sabar yang aktif, bukan pasif. Kesabaran yang akhirnya membawa Alif melanglang buana sampai Yordania dan Kanada.

Nah, di novel ketiganya, Mas Fuadi akan memperkenalkan mantra yang lain. Seperti dua  “mantra” terdahulu, “mantra” itu juga didapatkan saat belajar di pesantren Gontor. “Man sara ala darbi washala”. Artinya “siapa yang berjalan di jalur-Nya akan sampai”. Novel ini mengupas sisi kehidupan Alif alias Mas Fuadi di masa sudah bekerja, berkenalan dengan perempuan yang kemudian menjadi istrinya dan kehidupannya selama di Washington, Amerika Serikat. Mas Fuadi menyebut inti dari novel ini adalah misi menuju yang Satu. Dia tidak menjelaskan dengan detail misi apa dimaksudkan. Namun yang saya tangkap satu yang dimaksud adalah kiasan dari Yang Maha Kuasa.

Saya pun semakin penasaran berat menunggu buku ketiganya. Tapi apa boleh buat, saya hanya bisa bersabar. Buku ketiga ini baru terbit tahun depan. Dipaksa segera terbit pun tidak bisa soalnya Mas Fuadi baru merampungkan 57 halaman. Jadwal padat membuatnya harus berusaha keras meluangkan waktu untuk menulis. Entah itu satu kalimat, satu alinea maupun satu halaman. “Beruntung saya adalah mantan wartawan, yang dulu selalu punya kewajiban harus selalu menulis dan dibatasi deadline. Saya anggap saja menulis buku ini juga seperti itu. Jadi harus selalu menulis setiap hari dan ada deadline yang perlu dipatuhi,” jelas Mas Fuadi dalam perbincangan santai saat itu.

Kesibukan Mas Fuadi memang akhir-akhir ini berlipat ganda. Soalnya dia sedang mempersiapkan film Negeri 5 Menara. Prosesnya masih dalam tahap casting. Mas Fuadi juga masih mencari pondok pesantren untuk lokasi syuting. Rencananya pengambilan gambar akan dimulai bulan depan. Film ini menitikberatkan tentang tiga sisi kehidupan. Perantauan, pendidikan dan persahabatan. Syuting akan dilakukan di tiga tempat, Sumatra (Maninjau), Jawa dan Inggris. Sutradaranya masih muda dan belum tersohor di tanah Air, Affandi Abdurrahman. Karena lokasi syutingnya hingga Inggris, film ini membutuhkan budget super besar. Tapi Mas Fuadi belum mau menyebut angka riilnya. Katanya itu urusan produser…

Aaaah…yang jelas jadi tidak sabar menunggu film Negeri Lima Menara dan buku ketiga Mas Fuadi beredar. Tapi sekarang saya tidak bisa berbuat apa-apa, selain mendoakan Mas Fuadi lancar menulis dan novelnya cepat kelar…:)

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: