Damai Itu Indah

Selama bertahun-tahun Aceh sarat dengan berbagai konflik. Namun, ketika kedamaian datang, tempat berjuluk Serambi Mekah tersebut benar-benar menawarkan keindahan luar biasa.

Masjid Baiturrahman

Ada pertanyaan menggelitik dari atasan di kantor tentang rencana perjalanan saya dan seorang teman, Lutfiyah, ke Aceh, Oktober tahun lalu. Kebetulan kami mengambil rute darat Solo-Surabaya, kemudian disambung penerbangan Surabaya-Medan. Baru setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan darat dari Medan menuju Banda Aceh.

“Apakah aman perjalanan dari Medan ke Banda Aceh dengan bus?” tanyanya. Sambil tertawa namun serius, saya menjawab bahwa perjalanan ini aman. Keyakinan tersebut terbukti ketika saya menginjakkan kaki di Tanah Rencong. Situasi di Aceh sangat berbeda dengan stigma seram yang selama ini masih melekat di benak banyak orang.

Tsunami dasyat pada 26 Desember 2004 berperan besar mengubah Aceh. Kedamaian yang didambakan masyarakat Serambi Mekah akhirnya datang sekitar setahun berselang. Setelah itu, perlahan Aceh bangkit dan bersolek. Slogan Damai Itu Indah yang bertebaran di setiap sudut kotam seolah menegaskan bahwa masyarakat Aceh pun sudah lelah hidup dalam konflik.

Slogan Damai Itu Indah bertebaran di kota Banda Aceh

Gara-gara jadwal perjalanan yang padat, saya dan Lutfiyah hanya punya waktu sehari untuk mengeksplorasi keindahan Banda Aceh. Terpaksa kami hanya mendatangi beberapa ikon wisata. Tapi kunjungan singkat tersebut terasa sangat berkesan. Apalagi ada enam kawan baru yang dengan baik hati menemani kami mengeksplor harta karun Banda Aceh.

Tur singkat kami diawali dengan mengunjungi ikon tersohor di Banda Aceh, yaitu Masjid Baiturrahman. Bangunan megah nan indah yang terletak di pusat kota Banda Aceh bukan sekadar tempat ibadah. Masjid tersebut sangat bermakna karena berhasil menyelamatkan banyak warga dari terjangan tsunami. Walaupun bukan hari libur, Baiturrahman tampak dipadati pengunjung, yang beribadah maupun berekreasi bersama keluarga.

Piknik keluarga di Baiturrahman

Setelah puas menyesapi kemegahan Baiturahman, kami melanjutkan perjalanan ke obyek wisata Kapal PLTD Apung I. Keberadaan kapal besar yang terdampar di tengah pemukiman warga tersebut menjadi bukti kedasyatan tsunami. Kapal berbobot 2.600 ton tersebut terseret gelombang tsunami hingga sekitar empat kilometer. Sayang sekali, saat itu kami tidak diizinkan naik ke kapal karena sedang dalam proses perbaikan.

PLTD Apung yang terdampar di daratan akibat tsunami

Setelah itu kami juga sempat mengunjungi museum dan rumoh aceh, plus museum tsunami dan rumah yang pernah dipakai oleh pejuang Tanah Rencong, Cut Nyak Dien. Lelah mengubek-ubek sejarah dan budaya Aceh, kami akhirnya menutup perjalanan singkat di Banda Aceh dengan menunggu keindahan matahari tenggelam di Pantai Lampuuk. Pantai yang terletak 15 km dari Banda Aceh itu sangat memesona lantaran memiliki hamparan pasir putih yang indah.

Bagi pecinta kopi, jangan lupa mampir untuk menikmati sedapnya kopi khas Aceh. Kedai-kedai kopi yang berkonsep tradisional hingga modern dengan mudah dijumpai di sudut-sudut Banda Aceh. Kedai kopi dan Aceh adalah dua hal yang tak mungkin dipisahkan.

Slogan damai itu indah yang dipilih warga Aceh rasanya sangat tepat. Tapi sayang sekali, menjelang Pilkada situasi di Aceh dikabarkan agak tegang. Semoga ketegangan itu segera berlalu karena Aceh benar-benar indah jika berbalut kedamaian.

Pantai Lampuuk

Nama-nama korban tsunami terukir di Museum Tsunami

 

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: