Pesona Samosir

Ketika turun dari pesawat di bandara Polonia Medan, pertengahan Oktober silam, saya berteriak girang dalam hati karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di bumi Swarna Dwipa alias Sumatra. Tentu saja rasa penasaran tak berhenti sampai di situ.

Rumah Batak

Bersama teman perjalanan dari Solo, Lutfiyah, kami pun lantas menyusuri Kota Medan, ibukota Sumatra Utara. Namun entah mengapa kami seperti belum menemukan apa yang dicari, yaitu aroma dan suasana khas suku Batak. Bahkan setelah berkunjung ke Istana Maimun dan Masjid Raya, yang menjadi ikon Medan, dahaga itu belum juga terpuaskan. Lutfiyah bahkan masih merasa seperti di Solo.

Namun rasa penasaran kami perlahan terpuaskan seiring perjalanan kami ke Danau Toba. Dari Medan, perjalanan ke Danau Toba membutuhkan waktu sekitar lima jam. Dengan alasan enggan gonta-ganti moda transportasi, kami memilih naik sebuah bus <I>bumel<I> yang rutenya langsung sampai Pelabuhan Ajibata di pinggir Danau Toba.

Nah, sejak dari bus itulah suasana khas Sumatra Utara akhirnya tersaji. Sepanjang lima jam perjalanan, telinga saya dimanjakan dengan alunan lagu-lagu khas Batak yang melengking namun empuk. Obrolan-obrolan dengan bahasa Batak pun terdengar bersahutan. Bahkan di dalam angkot sebelum naik bus tujuan Danau Toba, kami sempat ditanyai apakah punya marga oleh penduduk lokal. Pertanyaan yang memancing senyum karena sebelumnya kami jelas-jelas mengaku sebagai orang Jawa.

Ketika tiba di Pelabuhan Ajibata, saya akhirnya benar-benar menyadari sudah berada di Sumatra Utara. Di dalam feri dari Pelabuhan Ajibata ke Tomok di Pulau Samosir, lagu-lagu Batak tak berhenti diputar kencang-kencang. Sambil mengencangkan jaket untuk menahan rasa dingin, kami pun menhirup dan meresapi aroma khas Sumatra Utara.

Pulau Samosir adalah jantung dari Danau Toba yang di dalamnya menetap orang Batak dari berbagai marga. Letaknya di tengah-tengah danau paling tersohor di Indonesia. Ada beberapa akses ke Pulau Samosir, salah satunya melalui pelabuhan Ajibata. Dengan berbagai pertimbangan, kami berdua pilih menyebrang ke Tomok dan menginap di sana. Penyeberangan membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Banyak destinasi menarik yang bisa dikunjungi di Pulau Samosir. Pulau yang memiliki luas 603 km2 ini menawarkan beragam pesona khas suku Batak. Selain pemandangan indah Danau toba, pengunjung juga bisa bersentuhan dan mengenal lebih dekat budaya suku Batak. Tetapi karena keterbatasan waktu, kami hanya bisa mengunjungi beberapa tujuan saja.

Tempat bersejarah pertama yang kami kunjung adalah museum Batu Kursi Persidangan Huta Siallagan di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo. Tempat ini diaga oleh Nurul, keturunan raja Siallagan yang sempat menetap di Bandung, tapi akhirnya dipanggil kembali ke Samosir untuk menjaga harta bersejarah itu.

Prasasti Batu Kursi

Begitu memasuki gerbang, kami langsung disuguhi deretan rumah adat Batak. Kemudian di bawah sebuah pohon besar nan rindang, terlihatlah batu kursi persidangan yang menjadi salah satu bukti peninggalan sejarah hukum Batak di masa silam.  Yaitu persidangan terhadap warga atau penduduk yang terbukti melakukan tindak kejahatan seperti pencurian, pembuhunan dan pemerkosaan. Di bagian lain, terdapat tempat pemasungan maupun  batu yang dipakai itu memancung warga yang terbukti melakukan kejatahan berat.

sigale gale

Ragam budaya unik lain yang bisa dijumpai di Pulai Samosir adalah pertunjukan tarian Sigale-gale. Si Gale-gale adalah nama sebuah boneka kayu yang bisa digerakkan untuk menari. Bentuknya unik dengan pakaian tradisional batak melekat di badannya. Salah satu tempat yang biasa menggelar pertunjukan ini adalah di Tomok, tak jauh dari tempat kami menginap.

  

Menurut legendanya, Sigale-gale dulu hanya digelar di hadapan seorang raja yang kehilangan keturunan. Cerita Sigale-gae bermula ketika seorang raja kehilangan anaknya di medan perang. Untuk mengenang sang anak, raja tersebut memesan patung yang dibuat semirip anaknya dan dinamai Sigale-gale. Namun sayangnya sore itu sedang tak ada pertunjukan sehingga kami gagal menyaksikan secara langsung seperti apa tarian Sigale-gale yang mistis itu.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Pesona Samosir

  1. orlandolabz says:

    Terima kasih, Senang bisa membaca review anda yang sangat luar biasa tentang danau toba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: