Tugu Nol Kilometer yang Terabaikan

Lagu Dari Sabang Sampai Merauke melintas di benak saya ketika melakukan perjalanan ke ujung barat Indonesia, Sabang, pertengahan Oktober lalu.

Selain penasaran dengan cerita keeksotisan pantai-pantai di sana, saya juga tak sabar melihat dengan mata kepala sendiri keberadaan Tugu Nol Kilometer di Sabang. Bagi saya, tugu itu penting karena menjadi penanda ujung paling barat Tanah Air tercinta ini. Makanya, saya penasaran ingin menyambangi tugu itu.

Tugu Nol Kilometer


Ketika sampai di Sabang yang berada di Pulau Weh, saya begitu mensyukuri keisengan setahun silam. Saat itu saya tanpa pikir panjang membeli tiket promo super murah Air Asia dengan rute Surabaya-Medan. Mau tahu berapa harga yang saya dapatkan? Cuma Rp 150 pulang-pergi! Saya berpikir kalau akhirnya tidak jadi pergi, juga tak terlalu rugi. Syukurlah perjalanan itu akhirnya terwujud juga, walaupun ada perjuangan tambahan yang harus dilakoni. Mengingat domisili saya di seputaran Solo, maka saya harus naik bus dulu ke Surabaya. Begitu juga ketika untuk mencapai Banda Aceh harus dilakukan dengan naik bus selama 12 jam dari Medan. Bus jadi pilihan yang realistis untuk uang saku saya yang pas-pasan.

Setibanya di Sabang, yang saya lakukan di hari pertama adalah mengeksplorasi keindahan Pantai Iboih. Nah, baru keesokan harinya, saya mengunjungi Tugu Nol Kilometer. Karena tak ada angkutan umum di Sabang, saya dan teman seperjalanan saya dari Solo, memutuskan menyewa mobil, sekalian untuk muter-muter seharian. Pemilik mobil itu adalah Pak Zainun, guru SD yang baik hati.

Dari Iboih, perjalanan yang harus ditempuh ke Tugu Nol Kilometer tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 7 atau 8 kilometer. Kami berangkat cukup pagi sekitar pukul 09.00 WIB dan tiba sekitar 20 menit berselang. Kami memang sengaja start pagi karena itu adalah hari Jumat. Otomatis perjalanan kami akan terpotong karena Pak Zainun harus berhenti untuk Sholat Jumat.

Jalan menuju Tugu Kilometer berkelok-kelok naik turun perbukitan dan sangat sepi. Praktis kami hanya ditemani rimbunnya pohon-pohon besar yang menjulang tinggi di kanan dan kiri. Ketika mobil akhirnya melambat, pandangan saya tertumbuk ke sebuah tugu menjulang setinggi 22,5 meter berwarna dominan putih. Ada patung Garuda bertengger gagah di bagian paling atas. Inilah Tugu Nol Kilometer yang legendaris itu.

Bangunan terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah menempel prasasti Nol Kilometer Indonesia, yang diresmikan Wakil Presien Try Sutrisno pada 9 September 1997. Sedangkan di lantai kedua terdapat prasasti yang menunjukkan prosisi geografis di sana. Posisi Lintang : 05 54′ 21.42″ LU, Bujur 95 13′ 00.50″ BT.

Rasanya lega menapakkan kaki di tugu ini. Tapi sebersit kekecewaan menyergap ketika saya mengedarkan pandang ke sekeliling. Tugu ini terlihat begitu merana dan terabaikan. Lantainya kotor , sedangkan di dindingnya banyak dijumpai coretan-coretan tangan yang tidak bertanggung jawab. Kami juga hanya disambut kesunyian. Tak ada seorang pun petugas yang bisa mengobati rasa dahaga tentang sejarah tugu tersebut. Yang ada cuma segerombolan kera yang agresif meminta makanan. Jangankan mencari penjual suvenir nol kilometer, warung makan pun yang konon pernah ada sekarang sudah tutup. Katanya seekor babi hutan jinak juga menjadi pengunjung tetap tugu tersebut. Sayangnya, saat itu saya tidak berjumpa dengan si babi hutan.

“Dulu di sini ada penjaganya. Tapi sudah beberapa waktu ini dia sudah tidak bertugas lagi karena sepi. Sebenarnya yang terluar itu Pulau Rondo, bukan Pulau Weh. Tapi bagaimana jadinya nasib prasasti nol jika dibangun di pulau sepi itu, di sini saja tidak terawat,” cetus Pak Zainun.

Nada prihatin juga diungkapkan Pak Iskandar, pemilik penginapan yang kami sewa di Kota Sabang. Kebetulan dia adalah seorang pejabat di Pemkot Sabang. Sebagai orang lokal, Pak Iskandar mengakui ada keengganan di dalam dirinya untuk mengunjungi Tugu Nol Kilometer jika tak ada keperluan khusus. Apalagi jalan ke sana cukup sepi.

“Coba bangunan Tugu Nol Kilometer itu dibuat lebih bagus dan megah, terus dikelola dengan serius. Pasti pengunjungnya banyak. Selain diperbagus bangunannya, juga perlu ditunjang dengan suvenir-suvenir pendukung, seperti gantungan kunci, kaos dan sebagainya yang dijual di sekitar sana,” tutur Pak Iskandar.

Untuk membuktikan diri pernah datang ke Tugu Nol Kilometer, para turis biasanya membuat sertifikat. Tapi, sertifikat tidak dibuat di sekitar tugu tersebut. Para pengunjung harus membuat sertifikat di Dinas Pariwisata yang ada di Kota Sabang dengan biaya Rp 13.000. Alhasil, banyak pengunjung yang enggan atau memang tidak tahu menahu tentang hal itu. Tapi saya jelas tahu dong…hehehe. Mau tahu saya menjadi pengunjung yang ke berapa? Ternyata saya adalah pengunjung yang ke-47.931.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: