Negeri di Atas Awan

Sejumlah traveller atau pejalan meyakini datang ke Danau Toba belum lengkap tanpa mampir ke tempat yang menawarkan salah satu pemandangan terbaik.
Tempat yang dimaksud adalah sebuah bukit yang berjarak sekitar sejam perjalanan dari Tomok dan berada di ketinggian 350 meter dari permukaan Danau Toba. Warga setempat menyebutnya bukit Siulak Hosa.

Panorama Danau Toba dari Bukit Siulak Hosa



Saya dan Lutfiyah, teman seperjalanan, enggan melewatkan destinasi ini. Pagi-pagi benar pada hari kedua di Pulau Samosir, kami bertekad ke sana. Yang pertama kami lakukan adalah mencari persewaan sepeda motor. Karena kurang sreg dengan tukang ojek pada hari sebelumnya, kami mencari alternatif lain.
Semula kami berniat menyewa sepeda motor dan mengendarainya sendiri. Namun mendengar tujuan kami, pemilik motor melarang karena medannya sulit. Alhasil, kami berangkat menggunakan dua kereta (sebutan warga lokal untuk sepeda motor-<I>red<I>) yang dikemudikan Pak Biston dan Pak Sihite.
Perjalanan awalnya mulus-mulus saja. Jalanan yang kami lewati beraspal, meskipun tidak semuanya halus. Namun setelah 30 menit, jalanan beraspal tinggal kenangan. Saat itulah saya dan Lutfiyah bersyukur batal mengendarai motor sendiri. Bisa-bisa kami kesasar karena tak ada satu pun petunjuk arah. Jalannya jelek, menanjak curam dan di kanan kiri sangat sepi, tak ada orang bisa bisa ditanya atau dimintai tolong.

 
Tapi, semua perjuangan itu terbayar lunas setelah kami berempat tiba di bukit Siulak Hosa. Wow, luar biasa! Saya dan Lutfiyah berteriak kegirangan seperti anak kecil melihat pemandangan yang terhampar di depan mata kami. Danau Toba terlihat begitu indah di bawah sana, dengan air yang tampak berwarna biru tua. Tuk-Tuk, Tomok dan sudut-sudut lain Danau Toba terlihat sangat eksotis dari bukit tersebut.
Menurut Pak Sihite, Siulak Hosa artinya berhenti untuk bernapas. Ketika orang lelah setelah melakukan perjalanan, bukit itu biasanya jadi pilihan untuk berhenti beristirahat alias mencari napas. Sebutan itu rasanya sangat pas. Silauk Hosa memang pilihan terbaik untuk melepas lelah sembari menyerap pemandangan fantastis!


Sayang sekali, cuaca kurang bersahabat pagi itu. Kabut tiba-tiba datang dan mengambil keindahan yang terpapar. Namun, ternyata panorama yang tak kalah memesona datang menggantikan. Kami seolah berada di negeri di atas awan. Jarak langit terasa begitu dekat. Sedangkan kabut-kabut yang bergerak pelan terlihat seperti gumpalan awan. Sembari mengorek berbagai cerita dari Pak Biston dan Pak Sihite, kami pun menikmati pesona negeri di atas awan.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

3 Responses to Negeri di Atas Awan

  1. Avant Garde says:

    semua tempat di sekeliling danau toba indah mbak, hehehe ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: