Sisa Kejayaan Golden Triangle

IMG_0368

Jangan lupa mampir ke Golden Triangle! Komentar itu sontak meluncur dari bibir seorang rekan di kantor ketika saya bercerita tentang rencana trip ke Thailand pada pertengahan April.

Namun, saat menyusun rencana perjalanan, Golden Triangle, yang merupakan wilayah perbatasan Thailand, Laos dan Myanmar yang dipisahkan sebuah delta pertemuan antara Sungai Mekong dan Sungai Ruak, terpaksa dicoret dari daftar. Saya dan empat teman seperjalanan khawatir tenaga dan waktu bakal terkuras jika memaksa berkunjung ke wilayah Segitiga Emas itu. Maklum kami memulai perjalanan darat dari ujung selatan Thailand, padahal Golden Triangle terletak di bagian utara Negeri Gajah Putih. Namun siapa sangka, sang nasib memang menggariskan kami menginjakkan kaki di Segitiga Emas.

Ya, datang ke Golden Triangle adalah keputusan spontan yang diambil saat berada di Chiangmai. Kami tergiur paket trip sehari yang ditawarkan Nina, pemilik Guest House tempat kami menginap di Chiangmai. Dengan merogoh kocek senilai 700 bath atau sekitar Rp210.000, kami dijanjikan petualangan asik di Segitiga Emas. Wah, siapa yang bisa menolak? Tapi untuk trip ini, saya terpaksa berpisah dengan dua teman seperjalanan, yang pilih mencoba berpetualang menaiki gajah!

Keesokan harinya, tepat pukul 07.30 waktu setempat kami berangkat ke Golden Triangle. Setelah mampir di beberapa destinasi lainnya, kami akhirnya sampai di tempat legendaris tersebut sekitar tiga jam berselang. Lega juga akhirnya sampai di sini. Secara adminsitratif Golden Triangle berada di Sop Ruak, Kota Chiang Saen, di Provinsi Chiang Rai, sekitar 829 kilometer dari Bangkok. Tapi, jangan bayangkan Anda akan menjumpai tempat wisata yang indah dan eksotis ala Thailand. Golden Triangle yang tersohor itu sejatinya kini hanya menyisakan keping kenangan kejayaan masa lalu.

Golden Triangle ini dulunya adalah rute perdagangan dan penyelundupan candu. Tempat ini sangat identik dengan opium. Konon pada periode 80-an, sekitar 70% heroin di negara Barat berasal dari wilayah ini. Namun cerita kejayaan opium ala Golden Triagle itu  tinggal sejarah. Kini, nyaris tak ada celah untuk penyelundupkan opium.  Disetiap pos perbatasan akan dijaga oleh tentara bersenjata lengkap dan akan menindak tegas pengedar opium baik itu penduduk lokal maupun wisatawan mancanegara.

Kisah Golden Triangle sekarang lebih lekat dengan wisata. Ada sebuah papan sederhana bertuliskan Golden Triangle dan peta besar yang menandai keberadaan tempat legendaris ini. Dengan kocek sebesar 300 bath atau Rp90.000, kami pun naik perahu untuk menyusuri sungai sembari melihat daratan Thailand, Myanmar dan Laos. Seperti sudah diduga, pemandu wisata kami langsung menyebut tentang opium. Dengan gaya setengah melawak, dia bertanya apakah ada penumpang yang berminat mencoba opium. Tentu saja tawaran itu hanya basa-basi saja! Sekali lagi, kejayaan opium di Golden Triangle tinggal kenangan. Tapi entahlah jika masih ada pasar gelap.

Di sepanjang sisi sungai, terlihat berbagai bangunan. Salah satu yang menonjol adalah patung Budha besar berwarna kuning yang berada di wilayah Thailand. Patung ini dikenal dengan sebutan Budha on River. Kemudian saat melayangkan padangan ke daratan Myanmar dan Laos, masing-masing tampak sebuah bangunan besar yang megah. Usut punya usut, itu adalah kasino. Yang berada di Myanmar bernama Paradise Casino. Uniknya, menurut sang pemandu wisata, pengelola kedua kasino tersebut adalah orang Thailand! Di Thailand sendiri, perjudian ilegal sehingga tak mungkin membangun kasino.

Seusai mengelilingi sungai, rombongan dibawa ke pasar yang masuk wilayah Laos. Masuk ke pasar ini tak perlu melalui pemeriksaan imigrasi lazimnya melintasi batas negara. Cukup membayar 20 bath atau sekitar Rp6.000 untuk memperoleh kertas kecil yang menyatakan kami telah berkunjung ke sana. Pasar di Laos itu ukurannya kecil. Mayoritas berisi penjual suvenir. Di tempat ini kami diberi waktu menjelajah selama 30 menit.

Tepat setengah jam kemudian, kami diminta kembali ke kapal, untuk kembali lagi ke wilayah Thailand. Tak ada sesi mengunjungi wilayah Myanmar. Namun, setelah makan siang kami sempat dibawa ke Mae Sai, wilayah paling utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar. Kami hanya memandangi kesibukan border Myanmar. Niat sekadar menyebrang perbatasan kami batalkan, karena harus mengeluarkan uang lagi senilai 500 bath atau Rp150.000. Apapun itu, kesempatan menjejalahi Golden Triangle tetap meninggalkan kesan mendalam. Setidaknya kami telah menapaki sisa cerita tentang sebuah kejayaan masa lalu.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Sisa Kejayaan Golden Triangle

  1. Avant Garde says:

    wiiiiii ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: