Ngadem di Chao Phraya

Jembatan Raja Rama VIII

Jembatan Raja Rama VIII

Cuaca Bangkok pada bulan April benar-benar tidak bersahabat! Panasnya minta ampun. Rasanya malas ketika hendak meninggalkan sejuknya sapuan AC di penginapan.

Tapi jelas rugi besar kalau sudah sampai Bangkok hanya duduk manis di kamar hostel. Alhasil, saya dan dua orang teman perjalanan memutuskan tetap keluar untuk mengeksplor kota Bangkok. Dengan berbekal air mineral di tas, kami menerobos garangnya mentari di atas ibukota Thailand tersebut.

Tujuan pertama kami adalah ikon kota Bangkok, yaitu Grand Palace alias istana raja. Namun, berkeliling istana indah itu dalam cuaca yang super terik butuh perjuangan keras. Sebentar-sebentar kami berhenti berteduh atau menenggak minuman dingin.

Wat Arun dipandang dari Chao Phraya

Sekitar 1,5 jam berkeliling Grand Palace, tenaga sudah terkuras. Sempat bingung juga mau ngapain lagi di tengah cuaca terik itu. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba ikon wisata kota Bangkok yang lain, Sungai Chao Phraya. Sungai yang membelah Bangkok ini memiliki panjang 372 kilometer yang mengalir dari utara Thailand menuju ke Teluk Thailand (Teluk Siam) di selatan. Hulu sungai Chao Phraya ini berada di Sungai Ping.

Ya, kami ingin mencoba menyusuri sungai termasyur itu dengan menggunakan transportasi air yang banyak tersedia di sana. Tapi di tengah jalan menuju Sungai Chao Phraya salah satu teman saya tumbang oleh teriknya matahari Bangkok. Dia pun pulang lebih dulu ke penginapan naik tuk tuk.

Di sepanjang Chao Phraya atau yang biasa disebut Sungai Raja tersebut berdiri 34 dermaga.  Kami mencoba naik dari dermaga yang terletak tak jauh dari Royal Palace. Sempat bingung juga bagaimana mengenali kapal publik yang konon murah meriah itu, soalnya di sungai itu riuh berbagai jenis kapal. Kondisi itu menguatkan fakta tentang pentingnya keberadaan Sungai Chao Phraya bagi masyarakat Bangkok.

                       

Tak berapa lama, datang sebuah kapal, yang sepertinya untuk publik. Kami membeli tiket dan masuk ke kapal. Ternyata, kapal itu khusus untuk turis karena dilengkapi dengan pemandu berbahasa Inggris. Tiket kapal ini dibanderol sebesar 30 bath atau sekitar Rp9.000. Dua kali lipat lebih mahal dari kapal publik atau dikenal dengan taksi air yang dibanderol 15 bath atau senilai Rp4.500. Tetap murah kok.

Pilihan menyuri Chao Phraya, sungai terpenting dan terpanjang di Thailand, dengan kapal ternyata tepat. Terpaan angin terasa adem, lumayan menghalau panasnya cuaca Bangkok. Apalagi kadang kami kena cipratan air dari sungai. Warna air sungai ini memang cokelat sih tapi tidak bau. Pokoknya serasa ngadem deh. Di kami kami hanya perlu duduk manis, sembari mendengarkan cerita pemandu di depan plus mengedarkan pandang ke kanan dan tepi sungai.

Gedung-gedung pencakar langit di sisi Chao Phraya

Bangunan modern berpadu dengan wat

Pemandangan di sepanjang Chao Phraya seolah merangkum karakter Bangkok atau Thailand pada umumnya. Yaitu kota tempat berpadunya modernitas dan budaya lokal yang saling melengkapi. Di tepian, bisa dilihat gedung-gedung pencakar langit yang modern. Tapi tampak juga pemukiman yang agak kumuh, maupun sampan-sampan kecil di pinggir sungai, serta tempat ibadah umat Buddha atau wat.

Kalau tempat menarik yang bisa dilihat dari sisi sungai ada beberapa macam, antara lain Wat Arun dan Jembatan Raja Rama VIII yang megah. Ya, pokoknya dari sungai ini kita bisa merangkum tentang Thailand. Kehidupan modern terus berjalan, namun budaya lokal dan kegiatan peribadatan terus berdetak. Mungkin inilah yang membuat Thailand masih menjadi magnet kuat bagi turis-turis dari berbagai belahan dunia.

Sesi narsis

Kapal melintas di Chao Phraya

Sambil memotret ke kanan kiri dengan ponsel andalan, saya sempat  mengkhayal. Alangkah indahnya jika suatu saat nanti Sungai Bengawan Solo bisa “dijual” seperti Chao Phraya. Soal pamor, sungai terpanjang di Jawa itu sudah cukup dikenal. Tinggal memoles dan mengemas dengan manis, saya yakin bisa menarik minat turis-turis mancanegara, terutama Jepang.

Cuma usul sih, bagaimana jika Pemkot Solo sudi merapikan, membersihkan dan menata aliran sungai dan wilayah di pinggiran sungai dan kemudian mengemasnya jadi paket wisata menarik. Sediakan saja transportasi sederhana macam perahu kecil, sampai atau malah rakit. Tentu saja pembenahan Bengawan Solo tanpa menghilangkan ciri khas atau cita rasa lokalnya. Percaya deh, turis-turis mancanegara itu suka sekali melihat hal-hal yang mungkin kita anggap sepele. Misalnya orang memancing atau mungkin mencuci di pinggir sungai. Jika dikemas dengan bagus, semua itu  berpotensi menjadi paket yang menggiurkan bagi turis-turis mancanegara.

Sambil melamun, tak terasa kapal berhenti di dermaga yang jadi tempat pemberhentian akhir. Kami pun langsung turun bersama seluruh penumpang lainnya. Semula kami berencana berencana kembali ke penginapan di Khaosan Road sembari mencoba kereta bawah tanah Bangkok. Memang sih tidak bisa langsung, harus disambung dengan bus. Tapi karena rumit, kami memutuskan kembali naik taksi air. Kali ini kami mencoba kapal publik yang bertarif 15 bath. Rasanya sama saja kok. Sama-sama menyenangkan…:)

Bangkok, April 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: