Skandal dan Mitos Juara

Ada sebuah ungkapan terkenal. History repeats itself alias sejarah bakal berulang. Quote ini terus menjadi perdebatan. Ada yang meyakininya, namun tak sedikit yang konsisten menolaknya.

Kubu yang kontra mengklaim sebuah kejadian berikut orang-orang yang terlibat di dalamnya mustahil terulang di masa mendatang. Mungkin mirip, tapi tidak sama. Bahkan ada pula yang meyakini, sejarah ada untuk dipecahkan. Selalu ada ruang untuk goresan cerita baru.

Skuat Timnas Italia (goal.com)


Ungkapan yang dalam bahasa Prancis berbunyi l’histoire se répète kembali populer dalam sepekan ini. Pemicunya adalah insiden pada pukul 06.25 pagi di tempat pemusatan latihan Timnas Italia, di Coverciano, Senin (28/5) lalu. Polisi memecah kecerian pagi ketika masuk mencari kamar Domenico Criscito.

Tak berapa lama, muncul kabar sang pemain terlibat skandal pengaturan skor yang disebut scommessopoli. Tepat sebelum tengah hari bek kiri Zenit tersebut didepak dari skuat sementara Gli Azzurri. Sore harinya, rekannya Leonardo Bonucci juga diduga terlibat dalam skandal tersebut. Kasus semakin melebar, termasuk menyeret sosok pelatih Juventus, Antonio Conte dan yang terbaru adalah dugaan aliran dana mencurigakan ke rekening kiper gaek, Gianluigi Buffon.

Publik Negeri Pizza serasa mengalami deja vu. Ingatan melompat ke periode 1982 dan 2006. Mereka malah seolah ”girang” dengan mencuatnya insiden memalukan tersebut. Mitos skandal selalu diiringi juara. Apalagi momennya pas, Euro 2012 sudah di depan mata. Bahkan Wakil Presiden Italy Football Federation (FIGC), Demetrio Albertini, mengamini teori tersebut.

Sejarah mencatat sudah dua kali Italia mendekap kejayaan seusai diguncang skandal. Yang pertama pada 1980, saat terjadi pengaturan skor yang melibatkan sejumlah klub Seri-A dan Seri-B. Ajaibnya, dua tahun berselang, Italia tampil sebagai juara dunia. Hal itu terulang menjelang Piala Dunia 2006. Sepakbola Italia digunjang Calciopoli. Di tengah cibiran pecinta sepakbola, lagi-lagi Gli Azzurri jadi juara dunia. Akankah sejarah berulang untuk kali ketiga?

Kalau mau usil, dua kasus terdahulu tak sepenuhnya identik dengan skandal terbaru ini. Ingat, skandal pada 1982 dan 2006 terjadi menjelang Piala Dunia. Sedangkan kali ini Gli Azzurri tengah menatap gelaran Euro 2012 alias Piala Eropa. Dalam hal ini sudah ada sekeping puzzle yang melenceng.

Selain itu, keindahan sepak bola terletak pada misterinya. Orang boleh berkonspirasi, menghitung statistik atau meramal. Tapi Dewa sepak bola selalu bekerja dengan cara misterius. Itulah resep rahasia mengapa permainan ini masih paling menarik dan dicintai di muka bumi. Yang jelas, nasib Italia sepenuhnya bergantung pada perjuangan mereka di lapangan hijau, bukan di lembar ramalan atau itung-itungan sejarah. Salam sejarah.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Skandal dan Mitos Juara

  1. buzzerbeezz says:

    Hmmm.. Analisis yang bagus. Aku njago Italy lhooo.. Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: