Berkah Gua Pindul

Terpesona keindahan Gua Pindul (foto by Akbar Gumay)

Definisi piknik idaman buat saya adalah perjalanan yang menyenangkan tapi murah. Maklum dompet saya jarang sekali isinya tebal. Alhasil, paket piknik murah meriah selalu jadi prioritas.

Nah, soal piknik murah tapi meriah, cave tubing di Gua Pindul layak direkomendasikan. Kita hanya perlu merogoh kocek senilai Rp25.000 untuk menikmati cave tubing, dengan didampingi pemandu yang dijamin handal.

Apa sih cave tubing? Itu adalah kegiatan susur gua berair dengan menggunakan ban dalam. Salah satunya Gua Pindul yang berlokasi di Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul. Sejak dibuka untuk umum sejak tahun lalu, gua yang panjangnya sekitar 350 meter ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Yogyakarta. Hampir setiap hari gua ini didatangi pengunjung. Apalagi kalau akhir pekan. Ramai bangeet…

Sekitar akhir Mei lalu, saya dan enam orang teman akhirnya menjajal sensasi cave tubing di Gua Pindul. Sekitar pukul 12.15 WIB, rombongan kami mulai menyusuri gua. Tentu saja masing-masing orang dilengkapi dengan sebuah ban besar dan pelampung untuk keamanan. Maklum sungai di Gua Pindul lumayan dalam, sekitar 5-11 meter. Bagaimana nasib saya jika tidak dilengkapi ban dan pelampung? Maklum saya ini hanya tahu satu gaya berenang, yaitu gaya batu..:)

Stalaktit (Foto by Akbar Gumay)

Pintu masuk Gua Pindul (foto by Akbar Gumay)

Rombongan kami berjumlah 12 orang. Kami bertujuh, plus dua pengunjung lain dan tiga orang pemandu. Sebelum memulai susur gua, pemandu mengajak berdoa bersama. Saya berdoa lumayan khusuk, maklum guanya dalem bangettttt…Rampung berdoa, tak lupa kami berfoto narsis di depan gua (sesi ini pantang dilewatkan dong).

Salah seorang pemandu kami, Mas Bani, banyak bercerita selama menyusuri gua. Atap gua tingginya sekitar empat meter dan kedalaman airnya bervariasi. Warna air sungai di dalam gua ini agak kehijauan. Gua dibagi menjadi tiga zona, yakni terang, remang-remang dan gelap. Untuk mengantisipasi kegelapan total di dalam gua, para pemandu melengkapi diri dengan head lamp alias lampu yang dikenakan di kepala. Swear, para pemandu itu benar-benar tangguh. Demi menjaga rombongan tetap sehat sejahtera sampai ujung gua, mereka menarik dan mendorong ban-ban yang kami tumpangi sembari berenang.  Bagi saya apa yang mereka lakukan sungguh beresiko. Tapi mereka sepertinya santai-santai saja tuh…hehehehe

Cave tubing di Pindul memakan waktu sekitar 45 menit. Selama di dalam gua, kami mendengar banyak cerita dari Mas Bani. Mulai stalaktit dan stalakmit yang ada di situ, sampai banyaknya kelelawar yang bergelantungan di atap gua. Menjelang ujung gua, tepatnya di bagian yang atapnya terbuka, kami diperbolehkan melompat ke air dari tebing di sisi gua. Teman-teman pun langsung heboh ingin mencoba. Saya sih pilih memandang saja, takut tenggelam….

Melompat (Foto by Akbar Gumay)

Kelar menyusuri pindul, kami keluar dengan wajah ceria. Tentu saja petualangan belum berakhir. Kami memang sengaja memilih paket wisata dobel, caving di Gua Pindul dan rafting dengan ban di Sungai Oya. Untuk paket tambahan itu, kami harus mengeluarkan dana sebesar Rp 35.000. So, setelah berfoto narsis di bendungan di depan Gua Pindul, kami bersembilan digiring menuju Sungai Oya. Rafting ini pun tak kalah mengasyikkan dan memakan waktu sekitar satu jam. Lelah mengarungi Sungai Oya, mata kami berbinar-binar ketika melihat nasi kotak yang dijual di pinggir jalan. Ternyata isinya sungguh menggiurkan. Nasi, sambal plus ikan wader! Ditambah tempe goreng yang nikmat dan teh panas, kami makan bagai orang yang tidak menyentuh nasi selama berhari-hari. Pokoknya ajiiiib…

Basah-basahan (foto by Akbar Gumay)

Rafting di Sungai Oya (foto by Akbar Gumay)

Menggotong ban (Foto by Akbar Gumay)

Nah, ada satu hal membuat saya sangat terkesan dengan petualangan di Gua Pindul ini. Dari Mas Bani, meluncur kisah betapa Gua Pindul ini menjadi berkah besar bagi warga sekitar. Tentu saja, semua itu tak lepas dari komitmen dan semangat masyarakat setempat. Berkat kerja keras bersama, obyek wisata Gua Pindul kini mampu menggerakkan roda perekonomian warga Bejiharjo. Wisatawan dari Jogja maupun daerah lain, sudah berbondong-bondong datang ke sana. Menurut Mas Bani, dalam sepekan pengunjung Gua Pindul mencapai 400 orang, jumlahnya bisa meningkat tajam jika bertepatan dengan libur panjang atau long weekend.

Mas Bani mengungkapkan ide mengangkat wisata Gua Pindul salah satunya datang dari mantan Bupati Gunungkidul yang telah meninggal dunia, Sumpeno Putro. Dulunya, gua Pindul itu sama sekali tidak dilirik. Hanya satu dari sekian banyak gua sejenis yang terdapat di Gunungkidul. Biasanya, masyarakat setempat hanya mencuci baju di depan pintu masuk gua pindul.

gembira

Ide mengembangkan Gua Pindul, nyatanya sungguh brilian. Obyek wisata tersebut mampu menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Pada awal berdiri, menurut Mas Bani hanya ada sekitar 10 pemandu. Namun, hanya dalam tempo sekitar 6 bulan, jumlah pemandunya telah membengkak menjadi sekitar 40 orang. Yang mengesankan, para pemandu tersebut semuanya berasal dari masyarakat sekitar.

Selain pemandu, obyek wisata tersebut juga membutuhkan penjual tiket, penjaga tempat penitipan barang dan penjual suvenir. Semuanya diisi warga lokal. Warga sekitar juga banyak membuka warung di sekitar area wisata. Bahkan beberapa ibu-ibu lanjut usia juga dilibatkan. Mereka bertugas menghibur para pengunjung yang tengah menunggu gilirang caving dengan memainkan musik dengan menabuh lesung. Wow…luar biasa.

Jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 100 orang. Mereka berasal dari lima dusun di Desa Bejiharjo. Kreativitas mereka juga tidak berhenti sampai di situ. Dengan mempertimbangkan keterbatasan anggaran, para pengelola wisata Gua Pindul berinisiatif membuat pelampung sendiri. Mereka kini telah memiliki sekitar 200 pelampung. Mas Bani mengatakan meskipun biaya pembuatan pelampung lebih miring, tapi mereka menjamin kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan.

Mendengar kisah yang dituturkan Mas Bani, saya benar-benar girang. Model pengelolaan wisata di gua pindul pantas diapresiasi dan ditiru. Bukan sekadar menguntungkan pihak tertentu, namun bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Kalau begini, bukan hanya wisatawan yang senang karena bisa melepas stres dengan menikmati eksotisme cave tubing. Masyarakat pun bisa tersenyum lebar karena bisa mendapatkan penghasilan untuk membuat dapur tetap ngebul. Semoga hal seperti ini bisa segera menular ke tempat-tempat lain.

Gunungkidul, Mei 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Berkah Gua Pindul

  1. buzzerbeezz says:

    Wow.. keren. Kalo kata National Geographic Indonesia, ini namanya konsep geowisata atau wisata berkelanjutan.

  2. nahhh betul itu…wisata berkelanjutan…kalau semakin banyak wisata yang kayak gini, pasti dunia pariwisata indonesia tambah maju🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: