Karma dan Goal-Line Technology

That is karma for what happened to us in South Africa….ball over the line both times!—Rio Ferdinand

Apakah Anda percaya dengan karma? Benarkah karma benar-benar ada? Jawabannya hanya dua macam. Sebagian mengaku percaya, sedangkan sisanya tidak.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, definisi karma ada dua. Yang pertama, karma adalah perbuatan manusia ketika hidup di dunia, hidup sebagai umat Tuhan itu sekadar melakukan darma. Adapun definisi lainnya, karma adalah hukum sebab akibat, bukan hanya menguasai manusia, tetapi juga merupakan suatu hukum mutlak di alam.

Foto by : Dailymail

Foto by: Dailymail

Perbincangan tentang karma muncul, Rabu (20/6) dini hari WIB, tepat beberapa saat setelah insiden kontroversial dalam laga pamungkas Grup D Euro 2012 antara tuan rumah Ukraina kontra Inggris.  Tepat di menit ke-63, pemain Ukraina, Marko Devic, mampu menaklukkan Joe Hart dan melepaskan tendangan ke gawang Inggris. Namun bola berhasil dihalau keluar oleh John Terry dan gawang The Three Lions selamat dari kebobolan.

Sekilas bola memang tampak belum masuk gawang. Tapi melalui tayangan ulang televisi terlihat si kulit bundar sudah melewati garis gawang dan seharusnya sah gol. Sontak kubu Ukraina memrotes keras karena merasa dirugikan. Adapun kubu Inggris lega karena skor tak berubah. Pertandingan akhirnya dimenangi Inggris dengan skor 1-0 melalui gol tunggal Wayne Rooney. Tim Tiga Singa menjadi juara grup dan bersua Italia di babak perempat final

   

(Foto by : Dailymail.co.uk)

”Itu adalah karma atas apa yang menimpa kami di Afrika Selatan…dalam kedua insiden itu, bola sama-sama sudah melewati garis gawang!”

Ucapan Ferdinand bernada emosional. Para pecinta sepak bola tentu tahu maksud di balik kalimat Ferdinand itu. Ucapan pemain berakun @rioferdy5 tersebut merujuk pada insiden di babak perempat final Piala Dunia di Afrika Selatan dua tahun silam. Insiden bertajuk ”luka lama’ The Three Lions. Dalam kedudukan tertinggal 1-2, gol Frank Lampard ke gawang Jerman yang dikawal Manuel Neuer dianulir wasit. Lampard melepaskan tembakan. Bola sempat mengenai tiang dan memantul ke bawah, sebelum ditangkap oleh Neuer. Namun, terlihat dari siaran ulang, bola sudah melewati garis. Tapi apa daya, wasit tetap bersikukuh menganggap itu bukan gol. Inggris akhirnya takluk 1-4 dan terdepak dari turnamen.

Gol Lampard ke gawang Jerman di Piala Dunia 2010 (skalanews.com)

Benarkah “karma” ikut campur dalam insiden kali ini? Benarkah kesialan Inggris dua tahun lalu terbayar oleh keberuntungan kali ini?  Mungkin hanya Tuhan yang tahu jawabannya.

Yang jelas, insiden ini kembali memanaskan perdebatan tentang penggunakan teknologi garis gawang atau goal-line technology. Inggris merupakan salah satu Negara yang paling ngotot meminta penggunaan teknologi itu setelah merasa sangat dirugikan pada Piala Dunia 2010. Tapi ironisnya publik Inggris mungkin sedikit bersyukur karena tuntutan mereka belum dikabulkan UEFA maupun FIFA.

Kubu yang menyetujui teknologi garis gawang berargumen, sebagai manusia biasa, wasit tidak bisa selalu diharapkan bisa memberikan keputusan akurat. Di sinilah mereka menganggap bantuan penggunaan teknologi sudah sangat mendesak.

Di sisi lain, kubu yang kontra menilai penggunaan teknologi garis gawang hanya akan merusak keindahan sepak bola. Apa asiknya jika sepak bola berubah menjadi permainan kaku karena batasan teknologi. Kadang kejadian-kejadian kontroversi justru dianggap sebagai bumbu pemanis drama di lapangan hijau. Gol tangan Tuhan Maradona, gol ”imajiner” pemain Inggris Geoff Hurst kontra Jerman di final Piala Dunia 1966 dan gol Frank Lampard yang dianulir pada Piala Dunia 2010 adalah deretan kontroversi yang akan selalu menarik dibahas meski dekade sudah berganti.

Sejauh ini, Presiden UEFA, Michael Platini, masih bersikukuh mengabaikan penggunaan teknologi garis gawang. UEFA memilih menguji coba penggunaan ofisial kelima pada Euro 2012 ini. Wasit dibantu dua hakim garis dan dua asisten tambahan. Masing-masing asisten berdiri di dekat gawang untuk membantu memutuskan apakah bola sudah melewati gawang dan mendeteksi pelanggaran di area tersebut. Ternyata partai Inggris kontra Ukraina membuktikan keberadaan ofisial tambahan tidak banyak membantu.

”Konfirmasi, keberadaan ofisial tambahan di belakang gawang hanya membuang-buang waktu…tapi saya tidak protes!” tulis Michael Owen di akun Twitter-nya seusai insiden di laga penyisihan Grup D tersebut.

Jika dipikir-pikir, asisten wasit di belakang gawang seharusnya memiliki sudut pandang terbaik. Dia hanya berdiri kurang dari 10 meter dari gawang. Tapi ternyata “gol” Ukraina luput dari pengamatannya. Protes keras Andriy Schevchenko dkk hanya menjadi angin lalu.

Kini bola ada di tangan petinggi UEFA dan FIFA. Menarik ditunggu apakah UEFA akan ngotot mengabaikan penerapan teknologi garis gawang demi ”menghormati” keindahan sepakbola. Ataukah mungkin Platini akhirnya menyerah pada teknologi?  Yang jelas, FIFA akan mengambil keputusan pada 5 Juli mendatang. Pilihannya adalah mengadopsi penggunaan lima ofisial di lapangan atau menggunakan teknologi garis gawang. Saat ini, teknologi tersebut sudah diuji coba oleh FIFA di Inggris dan Denmark. Jadi, selamat menunggu! Salam kontroversi.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Karma dan Goal-Line Technology

  1. buzzerbeezz says:

    Denger-denger bakalan diulang nih pertandingan ini.. we’ll see.. hmm..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: