Rasisme? Nothing! (Ukraina-2)

Kabar seputar isu rasisme sempat membayangi persiapan Ukraina sebagai tuan rumah Euro 2012. Kabar ini ramai-ramai dibantah. Mulai petinggi negara hingga bintang sepakbola Ukraina, Andrey Schevchenko ikut angkat bicara.

Ketika mendengar kabar saya mendapat tugas meliput ke negara pecahan Uni Soviet ini, seorang teman mengirim pesan pendek. Dia meminta saya berhati-hati terhadap kemungkinan adanya tindakan rasialis. Apalagi media marak memberitakan potensi rasisme khususnya terhadap orang Asia. Pesan tersebut sempat mengganggu pikiran, tapi kemudian cepat-cepat saya tepis. Intinya, positif thinking saja.

Setelah beberapa hari berada di Ukraina, kabar lawas soal isu rasisme itu tiba-tiba melintas begitu saja. Saya kemudian berpikir, siapa sebenarnya yang mulai menghembuskan isu tersebut. Faktanya, selama berada di negara ini, baik Kiev maupun Donetsk, saya tidak menjumpai satu pun kasus rasisme. Orang-orang berwajah Asia bisa berjalan-jalan nyaman tanpa rasa khawatir atau tatapan curiga dan menyelidik dari warga setempat.

Aktivitas warga Kiev

Saya bahkan merasa mendapat perlakuan sangat baik dari penduduk lokal. Wajah Asia tidak membuat mereka memandang dengan tatapan aneh. Semuanya terasa wajar. Saat berjalan kaki, naik bis maupun kereta, saya merasa dianggap normal. Tidak ada lirikan curiga maupun kata-kata kasar yang terlontar dari penduduk lokal.

Yang ada, warga Ukraina justru sangat terbuka. Kesan dingin di wajah tidak otomatis menandakan hati mereka juga dingin. Faktanya, mereka selalu siap mengulurkan bantuan. Padahal antara warga Ukraina dan orang asing biasanya terkendala perbedaan bahasa. Mayoritas warga Ukraina memang tidak bisa berbahasa Inggris. Kalaupun bisa bahasa asing, kebanyakan adalah Rusia.

Sudah berulang kali saya menanyakan arah atau letak tempat kepada warga lokal di Kiev maupun Donetsk. Belum pernah sekalipun saya mendapat tanggapan kasar. Mereka menjawab meskipun dengan bahasa setempat yang sukses membuat saya bengong. Jika tahu saya tidak mengerti, mereka akan berusaha menjelaskan dengan bahasa isyarat.

Warga Donetsk memotong bunga-bunga di taman

Pada suatu kesempatan saya dibikin takjub dengan kebaikan warga Donetsk. Saat itu saya dalam perjalanan pulang dari Fanzone ke penginapan. Setelah turun dari bis, saya berjalan sendirian menuju apartemen pada pukul 23.00 waktu setempat. Mengingat perut kosong, terpaksa harus mencari restoran cepat saji terlebih dahulu. Tapi dasar cacat geografis, ujung-ujungnya saya kesasar. Di depan saya ada seorang warga Ukrainan yang sedang berjalan sendirian. Spontan saya mencegatnya dan bertanya letak restoran cepat saji asal Amerika itu.

“Kamu bisa bahasa Rusia,” tanya dia. Saya hanya menggeleng. Tiba-tiba dia mengisyaratkan untuk mengikutinya. Ternyata daripada sulit menjelaskan, dia rela mengantar saya yang berwajah sangat Asia ini sampai tempat tujuan. Padahal itu artinya dia harus berbalik sangat jauh. Alhasil, saya Cuma bisa berterima kasih berulang kali.

Kiev, Juni 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

8 Responses to Rasisme? Nothing! (Ukraina-2)

  1. Indradya SP says:

    Tergantung sih mbak. Kalo pas lagi apes, ya apes. Saya pernah mengalami, sampe 4 kali malah😦 Tapi biasanya yg rasis itu ya preman2 atau orang mabok gitu. Kalo secara keseluruhan sih nggak🙂

  2. Mungkin gitu ya, soalnya pas di sana memang gak ketemu sama preman-preman gitu. Ketemu beberapa orang mabuk di jalan, tapi terlalu teler jadi gak ngomong apa2 :)…Wah diapain tuh mas sama preman2-nya?

    • Indradya SP says:

      Dari dikatain “orang Afrika” sampe diludahin di muka pernah tuh…tapi yg ngeludahin langsung dihajar sama temen saya orang Ukraina yg jago aikido, sampe akhirnya kami harus kabur karena 2 lawan 6😛

  3. Diludahin? kurang ajar banget…tapi lumayan udah sempet menghajar, walaupun akhirnya kabur..wkwkwkw. Mungkin kemarin pas Euro 2012 itu sudah ada kesadaran lebih dari masyarakat sana karena jadi tuan rumah turnamen sebesar itu, jadi harus menjadi tuan rumah yang baik. Duta Besar Indonesia Indonesia yang di sana juga lumayan kaget karena kami semua wartawan gak pernah mengalami perkaluan rasis…:)

    • Indradya SP says:

      Dubesnya kaget? hahaha….asal tau aja, dulu ada staf Kedubes di Kiev yg pernah dikeroyok segerombolan rasis. Beruntung dia bawa pistol di mobilnya buat bela diri😛

  4. Wah siapa tuh mas nama staf Kedubes-nya? serem benerr…iya Dubesnya kaget, karena beberapa kali staf kedubes dapat perlakuan gak enak dari orang sana. Pernah salah satu diplomat lama banget diteliti paspor dan visanya di bandara, padahal dia jelas2 diplomat…:)

  5. wah, saya pernah kena perlakuan rasis kaya gitu. Lucunya, kejadiannya di Lviv, kota kecil yg notabene orang2nya jauh lebih ramah dan santai dibanding Kiev atau Donetsk. Tapi memang tergantung lokasi di kotanya juga, biasanya banyak kejadian di wilayah slum/suburb, seperti yg saya alami kemarin. Tulisan2 mbak tentang ukraina bikin saya kangen lagi kesana😀 walaupun cuma sempat ke Kiev dan Lviv sih.haha.

    • yusmei says:

      Waah dulu pengin banget ke lviv tapi gak keburu, soalnya kerjaa hehe. Iya mungkin tergantung lokasinya dan momennya. Saya ke sana kan oad Euro, jd sepertinya suasana lebih “terkontrol” ya. Samaa kangen juga, tp sayangnya sebagian ada yg rusak gara2 perang ya? Eh, dulu ke sana dalam rangka apa mas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: