Sepenggal Maaf dari Belanda

Malam belum terlalu larut. Jarum jam belum juga merapat ke angka sembilan. Tapi rasanya seperti sudah jam 11 malam. Maklum, siraman cahaya listrik di kawasan penginapan di pinggir Pantai Iboih Sabang ini, memang minimalis.

Jalanan di depan penginapan gelap total. Para wisatawan terpaksa mengandalkan senter untuk membelah kegelapan jalan. Saya sendiri memilih duduk di gazebo sederhana di depan kamar penginapan milik Mamamia. Ditemani Lutfiyah, teman seperjalanan saya dari Solo, kami menunggu matangnya makanan yang sedang dimasak Mamamia. Selain menyewakan kamar, Mamamia juga membuka warung makan.

Tak berapa lama datang sepasang lelaki dan perempuan, yang bergabung duduk di gazebo. Sekilas pandang, jelas mereka berasal dari Eropa. Kami pun saling bertukar senyum. Ternyata, beberapa saat kemudian berlanjut menjadi obrolan. Percakapan yang hangat dan menyenangkan.

Si lelaki bernama Mark, asli Negeri Kincir Angin Belanda. Sedangkan yang perempuan bernama Jana, dari Cheska atau Ceko. Perpaduan Eropa Barat dan Timur. Mereka adalah sepasang kekasih yang tinggal bersama di Amsterdam, Belanda. Flat mereka katanya hanya selemparan batu dari Amsterdam Arena, markas Ajax Amsterdam.

Wisatawan menunggu pesanan makanan di warung Mamamia

Mamamia

Pasangan ini rupanya sedang menikmati liburan panjang selama sembilan pekan, keluar dari rutinitas pekerjaan. Traveling ke Asia Tenggara dipilih untuk memanjakan diri dan menyegarkan pikiran. Laos, Vietnam, Kamboja dan Thailand telah disambangi, sebelum terbang ke Indonesia. Mark dan Jana sengaja mencoret Bali dari daftar destinasi. Bali dianggap terlalu turistik. Dengan berbagai pertimbangan, mereka memilih Sumatra. Danau Toba dan Sabang.

Awalnya kami antusias membahas pengalaman liburan mereka. Mulai dari keruwetan Vietnam, hingga mahalnya penginapan pohon di Luang Prabang, Laos. Entah bagaimana, topik percakapan perlahan mulai melebar, hingga ke ranah ekonomi dan politik. Hingga tanpa sadar saya berkata pada Mark. “Yah, bagaimanapun juga Belanda dan Indonesia pernah punya sejarah panjang. Iya kan Mark?”

Mendengar perkataan saya, Mark tersenyum, tapi ada yang aneh dalam ekspresinya. Ternyata tebakan saya tidak salah. “Saya memang tidak tahu banyak tentang bagaimana sejarah Indonesia dan Belanda. Tapi untuk apapun yang terjadi di masa lalu, saya ingin minta maaf terhadap Indonesia,” tutur Mark.

Saya kaget mendengar kalimat itu. Dengan senang hati saya menyambut ucapan maaf Mark. Tak ada gunanya menyimpan dendam atas insiden masa lalu. Biarlah itu menjadi pelajaran bagi kita semua. Toh, kita harus terus melangkah kan?

Dalam percakapan hangat di KBRI Kiev dengan diplomat Indonesia yang bertugas di Ukraina, Bu Teresa, belum lama ini, saya banyak mendengar cerita menarik tentang hubungan Belanda dan Indonesia. Bu Teresa ini pernah ditugaskan di Belanda selama beberapa tahun. Menurut dia, di Negeri Belanda, orang Indonesia diterima dengan baik. Bahkan orang-orang Indonesia dianggap sebagai saudara tua. Alhasil, tukas Bu Teresa, di setiap sudut kota mudah menemukan saudara se-Tanah Air. Makanan Indonesia jenis apa pun ada di Belanda.

Tapi urusan sejarah, jangan harap pelajaran yang diterima anak-anak Belanda sama dengan yang apa didapatkan bocah-bocah Indonesia. Penjajahan Belanda di Indonesia tak pernah diterangkan dengan gamblang. “Yang jelas, anak-anak Belanda tak tahu jika Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Setahu mereka, kemerdekaan Indonesia adalah pemberian Belanda pada 1949 hasil dari Konferensi Meja Bundar,” beber Bu Teresa.

Akhirnya saya memahami alasan Mark tak tahu banyak tentang sejarah Indonesia dan Belanda. Tapi kami tak mau larut dalam percakapan konyol dan saling menyalahkan. Bahkan, Mark tidak marah ketika masa lalu Belanda disindir oleh Jana. Sindiran itu muncul ketika percakapan kami bergeser ke krisis ekonomi yang tengah membelit Eropa.

Yunani sudah jadi korban, belakangan Spanyol menyusul. Negara Jana juga tidak kebal. Ekonomi Ceko mulai tak stabil. Jana menyebut semua itu tak lepas dari perilaku korup para pejabat di sana. Saya tertawa lebar mendengar kata-kata Jana. Kelakuan pejabat Ceko ternyata tak jauh beda dengan di negeri ini.

Tiba giliran Mark bicara. Menurutnya Belanda cenderung stabil menghadapi badai krisis ekonomi di Benua Biru. Perkataan Mark ternyata membuat Jana terpancing. “Tentu saja negaramu baik-baik saja. Belanda sudah banyak mencuri dari negara jajahannya.” Bukannya marah, Mark malah tertawa keras mendengar komentar nyinyir Jana. Kami pun akhirnya tertawa bersama di tengah cahaya temaram di gazebo Mamamia.

Aceh, Oktober 2011

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

4 Responses to Sepenggal Maaf dari Belanda

  1. hqs07 says:

    bagus mbak artikelnya😀

  2. yusmei says:

    Makasihhh pujiannya, jadi malu🙂🙂

  3. hqs07 says:

    Soalnya saya pernah baca buku klo gak salah judulnya “negeri van oranje”, intinya org belanda saat ini malu pny nenek moyang yg suka ngejajah bangsa lain, ternyata pas baca blog ini beneran kejadian hehee..

  4. yusmei says:

    wah malah belum pernah baca bukunya yang itu…. Iya, apalagi mereka seperti sengaja tidak diberi cerita yang sebenarnya. Multatuli menjadi bukti kalau tidak setiap orang Belanda setuju dengan kolonialisme…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: