Sunrise Sikunir di Hari Kemerdekaan

Mendengar cerita orang-orang yang pernah merasakan momen hari kemerdekaan Indonesia di puncak gunung benar-benar membuat iri. Konon, perasaan saat menancapkan sang merah putih dan kemudian menyanyikan Indonesia Raya di ketinggian ribuan kaki sulit dicari tandingannya.

Gara-gara itu, saya penasaran ingin merayakan hari kemerdekaan di puncak gunung. Masalahnya, seumur-umur saya belum pernah mendaki gunung dan sepertinya tak ada niat melakukannya. Membayangkan perjalanan yang harus ditempuh saja sudah membuat ngos-ngosan terlebih dulu.

Sunrise Sikunir (Foto : Akbar Nugroho Gumay)

Pemandangan puncak gunung dilihat dari Bukit Sikunir (Foto : Akbar Nugroho Gumay)

Nah, impian lama merayakan 17-an di puncak gunung itu tiba-tiba muncul lagi setahun silam. Tepatnya Agustus 2011. Kebetulan saat itu saya dan enam orang teman sedang menikmati liburan di Dieng, Jawa Tengah. Kami tiba di Dieng pada 16 Agustus, sebelum sang mentari muncul malu-malu dari peraduannya. Sesuai rencana awal, seharian itu kami agendakan untuk mengeksplor Kawah Sikidang, kompleks candi Arjuna dan telaga warna. Baru keesokan harinya kami akan berburu sunrise alias matahari terbit di Bukit Sikunir dan langsung balik ke Solo.

Lelah seharian mengeksplor Dieng, malam itu kami “kruntelan” di penginapan. Gila!!, Dieng dinginnya minta ampun. Jaket tebal, penutup kepala, kaos kaki dan sarung tangan tak mampu menghalau dingin yang menusuk tulang. Mandi pun menjadi hal terakhir yang ada di pikiran saya. Mending selimutan daripada harus masuk kamar mandi!

Malam itu, tiba-tiba muncul ide untuk melakukan ritual khusus saat mendaki Bukit Sikunir. Momennya pas banget. Ya, rencana kami mendaki Bukit Sikunir bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan, 17 Agustus. Kami berniat mengibarkan bendera merah putih sembari mengadakan upacara kecil-kecilan di puncak Bukit Sikunir. Yah, pura-puranya seperti sedang berada puncak Gunung Merapi, Merbabu atau Semeru. Untuk merealiasikan rencana itu kami akan meminjam bendera dari pemilik penginapan. Tapi sayang seribu sayang, bendera mereka sudah terlanjur dipasang di halaman dan tidak ada cadangan lagi.

Untungnya, waktu itu saya membawa sebuah syal istimewa. Syal merah putih bertuliskan Indonesia, oleh-oleh seorang teman seusai menyaksikan Timnas berlaga di Jakarta beberapa tahun silam. Sepertinya syal itu cukup oke untuk merayakan hari kemerdekaan di puncak Sikunir. Kalaupun tidak menggelar upacara, cukup diganti dengan acara foto-foto dengan atribut syal tersebut. Hehehe

Keesokan harinya, kami bangun subuh-subuh demi menjemput keindahan sunrise di Bukit Sikunir. Hawa dingin terpaksa kami abaikan. Sembari merapatkan jaket dan menutupi seluruh tubuh dengan berbagai penghangat kami masuk ke mobil.

Untuk menuju ke Sikunir kami menyewa jasa guide, tapi sayang saya lupa namanya, yang juga berfungsi ganda menjadi supir. Maklum kami memang buta dengan rute ke bukit itu. Padahal sebenarnya lokasi Sikunir tak terlalu jauh dari penginapan kami yang terletak di dekat kompleks Candi Arjuna. Dengan mengendarai mobil, kami hanya butuh sekitar 15 menit untuk sampai di kaki bukit. Selanjutnya kami harus berjalan kaki menuju puncak.

Bukit Sikunir ini terletak di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Sembungan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 2400 mdpl. Berjalan kaki dari kaki menuju puncak bukit, menurut pemandu kami jaraknya sekitar 850 meter. Medannya tak terlalu sulit. Tapi dasar tak pernah berolahraga, mendaki bukit Sikunir terasa sangat meguras energi. Pengaruh lapisan udara yang tipis membuat napas saya seperti mau putus. Beberapa kali terpaksa berhenti istirahat sekalian mengambil napas. Untung pemandu kami sabarnya minta ampun. Dia dengan telaten menemani kami yang jalannya super lelet.

Dengan perjuangan keras dan napas yang terengah-engah, saya berhasil juga sampai di puncak. Seorang kawan nyaris menyerah di tengah perjalanan. Tapi berkat bujukan bapak pemandu, dia akhirnya mau melanjutkan pendakian meski dengan wajah pusat pasi. Dan perjuangan kami “menaklukan” Bukit Sikunir memang tidak sia-sia. Pemandangan yang terhampar di depan mata sungguh luar biasa indah. Tak heran, sunrise di Bukit Sikunir disebut sebagai salah satu yang terindah di dunia oleh sejumlah situs pejalan dunia!

Bayangkan saja, di depan mata terhampar deretan puncak gunung yang menjulang gagah. Sindoro, Merapi dan Merbabu berdiri kokoh membentuk lukisan alam yang sulit dicari tandingannya. Prosesi munculnya sang pusat tata surya juga begitu sempurna. Perlahan sang mentari muncul malu-malu dari peraduannya sebelum menampakkan diri utuh dengan paduan warna indah. Kuning, oranye dan jingga. Saya pun hanya bisa terkagum-kagum. Melihat pemandangan indah seperti itu, kelelahan yang dirasakan akibat mendaki di pagi buta langsung lenyap. Yang tersisa hanya senyum dan rasa takjub. Hawa dingin yang tadi begitu menusuk tulang perlahan berubah menjadi kehangatan.

Selain kami bertujuh, pagi itu juga ada empat turis asing yang menikmati momen sunrise di Bukit Sikunir. Setelah bertukar sapa, mereka ternyata berasal dari Prancis.  Dua laki-laki dan dua perempuan. Ketika ditanya kesannya tentang sunrise pagi itu, mereka seperti kehilangan kata-kata. “Beautiful, very beautiful,” ujar mereka.

Syal Indonesia (Foto : Akbar Nugroho Gumay)

Syal Indonesia lagi (Foto : Akbar Nugroho Gumay)

Nah, sembari menyerap keindahan panorama di depan mata, kami tak lupa berfoto ria. Seperti rencana semula, kami berfoto dengan membentangkan syal bertuliskan Indonesia. Seru! Antusiasme kami rupanya membuat penasaran empat turis Prancis tersebut. Langsung saja kami sampaikan bahwa saat itu adalah peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Sontak, empat orang asal Prancis itu mengucapkan selamat. Ujung-ujungnya, kami berfoto bersama dengan membentangkan syal Indonesia. Sungguh, perayaan hari kemerdekaan yang sangat mengesankan. Damn, I Love Indonesia!

Dieng, Wonosobo, Agustus 2011

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

7 Responses to Sunrise Sikunir di Hari Kemerdekaan

  1. nggoo says:

    nice photo and nice post…🙂

  2. Makasih dah mampir ke blog ini…itu foto yang ngambil teman seperjalanan…akbar nugroho gumay🙂

  3. Avant Garde says:

    gunung padang di sumbar cuma perlu 15 menit, tapi bikin ngos2an juga hehe

  4. viaphioo says:

    emang amazing di sikunir mbakk,,, akuu motoran dr purwodadi sampe dieng mbak,, sungguh luarr biasaaa😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: