Pemilik Penginapan Perlu Meniru Nina

Panggil dia Nina. Umurnya mungkin sekitar 45 tahun. Bergaya enerjik, murah senyum dan seperti tak pernah kehabisan kata-kata. Ngobrol dengan Nina tak perlu takut bakal bosan.

Nina adalah pemilik sebuah guest house di Chiang Mai, Thailand. Saya tinggal di penginapan miliknya ketika berkunjung ke Chiang Mai, April 2012 lalu. Dua malam saya menginap di Srisupan Guest House, nama penginapan tersebut.

Perjalanan saya ke Thailand agak berbeda. Berangkat bersama empat orang teman (dua dari Solo dan dua dari Jakarta), kami sengaja tak memesan penginapan terlebih dahulu. Biasanya ketika bepergian seperti ini, booking penginapan dari internet adalah hal wajib. Tapi saat itu kami berlima ingin menikmati pengalaman berbeda, berburu penginapan langsung di tempat tujuan. Go show istilahnya.

Chiang Mai adalah tujuan kami berikutnya setelah ngubek-ubek Ibukota Thailand, Bangkok. Nah, setelah menempuh perjalanan darat selama sekitar 12 jam, bus tingkat yang membawa kami tiba di Chiang Mai. Hari masih lumayan gelap, sang surya belum nongol. Pemberhentian akhir bus tersebut sangat sepi, tidak seperti terminal-terminal di Indonesia. Ketika mengedarkan pandang ke sekeliling, tak banyak bus yang terlihat. Ternyata tempat itu memang hanya pemberhentian untuk bus-bus tertentu, bukan sebuah terminal.

Kami kemudian mencoba mencari-cari informasi tentang penginapan. Di buku panduan yang kami bawa, ada referensi beberapa penginapan. Saya kemudian mendekati seorang turis yang juga sedang sibuk browsing dengan menggunakan telepon genggamnya. Turis yang berasal dari Kanada itu kemudian menyebut nama sebuah hotel dan tarifnya. Saya langsung mundur teratur karena budgetnya tak sesuai dengan isi kantong. Terpaksa harus mencari alternatif lain.

Nah, itulah kali pertama kami melihat Nina. Sebenarnya sejak turun bis suara Nina sudah melengking memecahkan kesunyian pagi. Dengan semangat 45 dia mempromosikan guest house miliknya. Hampir setiap pelancong yang turun dari bis didekatinya, termasuk kami. Gaya marketingnya oke banget. Berbekal bahasa Inggris yang lancar, Nina telaten membujuk turis yang ditemuinya dengan membeberkan kelebihan Srisupan Guest House.

Bujukan Nina ternyata ampuh menggoda kami. Bagaimana tidak, menurut Nina, penginapan miliknya murah, ada AC dan fasilitas lainnya, plus dekat dengan pasar malam tumpah. Daripada pusing-pusing kami setuju menginap di Srisupan Guest House. Tarifnya 200 bath atau sekitar Rp60.000 perorang/hari. Yang makin membuat kami sulit menolak bujukannya, Nina sudah standby membawa rod daeng, kendaraan sejenis angkot di Chiang Mai.

Setiba di penginapan saya langsung tersenyum dalam hati. Promosi Nina tak seindah kenyataannya. Srisupan berlokasi di Wualai, bukan kawasan ramai untuk para turis. Tempatnya agak di pinggiran kota. Tempat nongkrong 24 jam sangat jarang di kawasan itu. Pasar malam tumpah yang dijanjikan Nina ternyata cuma ada setiap akhir pekan. Padahal kami berada di Chiang Mai tak bertepatan dengan akhir pekan. So, bye bye pasar malam.

Srisupan Guest House bentuknya sederhana. Di bagian depan ada sejenis lobi tapi dalam versi sederhana. Ada sebuah sofa panjang untuk duduk-duduk santai yang terletak di dekat resepsionis. Selain itu ada juga sebuah meja panjang dengan beberapa kursi mengelilinginya. Ruang makan diletakkan di bagian depan. Tamu guest house bisa makan di sini, tapi tak ada menu makanan berat. Kondisi kamarnya lumayan, sederhana tapi bersih. Not bad.

resepsionis Srisupan

Meskipun sederhana, saya merasa betah di guest house tersebut. Alasannya adalah sosok Nina. Perempuan yang berpostur agak tambun dan sering menguncir rambutnya itu pandai membuat tamu-tamunya merasa nyaman. Kami dibuat seperti berada di rumah sendiri dan dikelilingi teman lama. Nina selalu ramah menyapa dan mengajak ngobrol kami, plus dengan gaya kocak. Berbagai pertanyaan dilemparkan mulai asal kami, tentang orangtua hingga apakah kami sudah punya pasangan. Jawaban kami lantas dijadikan amunisi oleh Nina untuk menjaili.

Seperti hampir seluruh penginapan di Chiang Mai dan Bangkok, Srisupan juga menyediakan paket-paket wisata. Harganya miring dan cukup bersahabat bagi kantong kami. Tapi yang membuat berbeda adalah gaya Nina saat menawarkan. Dia bilang karena kami dari Indonesia, maka akan diusahakan diskon spesial. Tak lupa Nina memuji turis-turis Indonesia yang menurutnya mampu berbahasa Inggris dengan oke! Ah Nina ini bisa saja.

Srisupan di malam hari

Gara-gara gaya Nina yang asik, sepulang jalan-jalan mengeksplor kota Chiang Mai saya enggan langsung tidur. Saya memilih ngobrol bersama Nina di lobi. Kami duduk di kursi yang mengitari meja kotak di bagian depan penginapan. Saat itu ada suami Nina dan beberapa pegawai penginapan. Suami Nina orangnya lumayan pendiam dan kurang bisa berbahasa Inggris. Selain itu ada seorang pria muda berwajah Eropa. Setelah mengobrol ketahuan dia berasal dari Swedia, tapi sayangnya saya lupa namanya. Sudah dua bulan dia tinggal di Srisupan Guest House. Dia seorang atlet dan berada di Chiang Mai untuk belajar Thai Boxing.  Katanya dia sangat betah tinggal di penginapan Nina dan ingin menetap lama di Chiang Mai.

Sembari ngobrol, Nina dan yang lain menikmati bir. Saya memilih minum air putih saja. Nina kemudian berinisiatif memutar lagu-lagu jadul Thailand sembari menyanyi. Nina antusias meminta pria Swedia itu membuka youtube dan menunjukkan gambar penyanyi favoritnya kepada saya. Nina mencoba mengajak saya menyanyi dan jelas saya menolak!. Tapi musiknya asyik kok, rancak bana! Berikutnya giliran si pria Swedia saya todong menunjukkan penyanyi favoritnya. Ternyata dia menggemari seorang penyanyi Swedia, bernama Timbuktu. Dari namanya sudah keliatan jika sang penyanyi keturunan imigran.

Lelah bernyanyi dan menggosip dengan Nina, saya undur diri ke kamar. Keesokan paginya saya berkunjung ke Golden Triangle dan sehari berselang cabut dari Chiang Mai untuk kembali ke Bangkok.

Selama menginap di Srisupan Guest House saya belajar banyak dari Nina. Di tengah persaingan bisnis penginapan yang ketat, Nina mencoba kreatif. Salah satunya dengan menjemput bola ke tempat pemberhentian bus. Meski penginapannya tidak berada di kawasan menggiurkan, Nina sepertinya tak kekurangan tamu. Jika dia tak agresif dan kreatif, mungkin penginapannya akan selalu sepi. Selain itu saya juga salut dengan gaya Nina yang akrab dan ngocol terhadap tamu-tamunya. Trik ini mungkin perlu ditiru para pemilik penginapan lainnya. Selain tempat yang oke, tamu juga senang jika disambut dengan keramahan dan kehangatan sang pemilik atau pegawai penginapan. Jadi mereka bisa merasa seperti di rumah sendiri.

So, jika suatu saat saya punya kesempatan mengunjungi Chiang Mai lagi, mungkin saya dengan senang hati akan kembali menginap di tempat Nina. Siapa tahu nanti pulang-pulang bisa nyanyi tembang Thailand jadul.

Rod Daeng, angkutan khas Chiang Mai

Chiang Mai, Thailand, April 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

3 Responses to Pemilik Penginapan Perlu Meniru Nina

  1. buzzerbeezz says:

    Wah boleh tuh rekomendasi menginapnya. Beberapa bulan lagi saya juga mau ke Chiang Mai nih..

  2. Tapi itu gak di pusat kota lho…kalau mauyang dekat kemana-mana ya cari yang di dekat pusat kota aja…kalau kita kemarin ceritanya “nyasar” hehehe

  3. Pingback: Postcard From Wat Doi Suthep | Usemayjourney

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: