Nikmatnya Berbuka Puasa di Puncak Bromo

Traveling saat Ramadan? Kenapa tidak. Haus, lapar, agak lemas? Memang.

Kebetulan saya punya dua cerita berbeda tentang pengalaman traveling di bulan puasa. Yang pertama saat jalan ke Dieng pada Ramadan 2011, tepatnya pada 16 dan 17 Agustus. Sedangkan pada Ramadan 2012, Bromo menjadi destinasi pilihan.

Senja

Senja

Saat traveling ke Dieng pada Ramadan tahun lalu, semuanya lancar-lancar saja. Maklum saya sedang libur puasa alias sedang datang bulan. Jadi traveling Ramadan saat itu tidak terlalu spesial, soalnya agenda makan dan minum tetap berjalan normal. Yang berbeda hanya suasana di seputaran obyek wisata Dieng. Sebagian warung makan tutup dan baru buka menjelang maghrib. Namun ada juga warung makan yang tetap buka siang hari.

Traveling Ramadan yang sebenarnya ya saat mengunjungi Bromo akhir Juli 2012 lalu. Kami berangkat berombongan sebanyak 11 orang dengan mencarter mobil. Perjalanan dimulai dari Jogja sekitar pukul 22.00. Setelah berhenti di Solo untuk menjemput beberapa teman, mobil melaju cukup kencang menuju Bromo. Sekitar pukul 02.30 dini hari kami berhenti untuk bersantap sahur di Jawa Timur, kalau tidak salah ingat di Caruban. Daripada nanti siang kelaparan dan gak kuat melanjutkan puasa, makanan di piring harus disantap sampai ludes!

Sebelum ke Bromo, kami mampir dulu ke air terjun Madakaripura. Jarak Madakaripura ke kawasan Gunung Bromo sekitar 30 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Kami tiba di Madakaripura sekitar tengah hari, ketika matahari sedang bersinar super garang. Penderitaan belum berhenti sampai di situ. Ternyata, untuk mencapai lokasi air terjun, kami harus berjalan kami sejauh 1,5 km. Sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi kalau perut sedang kosong dan tenggorokan sedang kering, jarak tersebut terasa bertambah dua kali lipat!

Perjalanan dari pintu masuk ke lokasi air terjun lumayan seru. Kami harus melewati sungai yang berbatu-batu dan lumayan naik turun. Di tengah perjalanan ada air terjun kecil yang mencurahkan air kemana-mana. Karena harus berjalan menembus air terjun tersebut, sekujur tubuh langsung basah kuyup. Segar pokoknya. Petualangan sepanjang 1,5 km akhirnya berujung dengan pemandangan super indah. Tak menyesal sudah berjalan jauh sambil menahan haus dan lapar. Mau tahu seperti apa keindahan air terjun itu? Daripada berpanjang lebar menggambarkannya, silakan lihat sendiri di foto-foto di bawah ini. Indah bukan?

Madakaripura (Foto: Jimboeng)

Bersama (Foto: Jimboeng)

Keren ya air terjunnya….(Foto by Budi Cahyana)

Puas mereguk keindahan air terjun Madakaripura kami kembali ke mobil. Itu artinya kembali berjalan kaki sejauh 1,5 km. Tapi kali ini perjalanan terasa lebih mudah dan cepat dibanding saat berangkat tadi. Mungkin karena mata dan hati sudah terhibur dengan keindahan Madakaripura.

Destinasi selanjutnya adalah Gunung Bromo! Setelah menemukan rumah untuk menginap, meletakkan barang-barang dan membersihkan badan, kami langsung menyewa jeep untuk menuju Gunung Bromo. Nah, inilah ujian selanjutnya. Bayangkan, untuk mencapai puncak Bromo kami harus berjalan kaki cukup jauh dari pemberhentian jeep dan meniti anak tangga yang katanya berjumlah 250 buah. Belum lagi menghitung faktor tipisnya lapisan udara di sana yang membuat napas seperti mau copot.

Saat turun dari jeep, kami langsung diserbu tukang sewa kuda. Sebenarnya tergoda juga karena lumayan menghemat tenaga sebelum menaiki ratusan anak tangga. Tapi saya langsung mengurungkan niat setelah tahu mereka mematok tarif Rp100.000. Mahal amat. Tukang sewa kuda tidak patah semangat. Mereka terus membuntuti kami yang berjalan dan sesekali berhenti untuk berfoto bersama. Semakin lama, tarif kuda pun semakin turun. Karena kelelahan, saya mencoba menawar. Eh, di luar dugaan ketika saya menyebut harga Rp20.000, mereka langsung mengiyakan. Memang saat itu kami sudah setengah jalan dan suasana sudah mulai sepi. Begitu harga disepati, saya langsung naik ke punggung kuda. Lumayan lah bisa menghemat tenaga yang tinggal 20%.

Sebelum berjalan menaiki tangga, saya mampir dulu membeli sebotol air mineral berukuran 1,5 liter dan sebungkus kacang. Sebentar lagi waktu berbuka tiba. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Dan inilah tantangan terberat. Menaiki ratusan anak tangga di ketinggian sekitar 2.390 di atas permukaan laut ternyata berbeda dengan jalan kaki di tengah Kota Solo atau Jogja. Sebentar-sebentar harus berhenti untuk mengatur napas. Berulang kali saya melirik air mineral di botol, apalagi tenggorokan juga menjerit-jerit minta dibasahi. Tapi godaan itu terus saya abaikan. Lagipula dalam hitungan menit waktu berbuka sudah tiba.

puncak bromo ( Foto: Jimboeng)

Dengan napas ngos-ngosan, akhirnya saya sampai juga di puncak Bromo. Leganya minta ampun. Kebahagiaan semakin berlipat ketika pandangan mata diedarkan ke sekeliling. Bromo memang menawan. Gunung Semeru terlihat gagah di satu sisi. Di sisi lain, hamparan pasir luas tampak eksotis. Prosesi matahari kembali ke peraduan juga tak kalah indah. Apalagi suasana sangat tenang karena semua pengunjung sudah menghilang. Ya, hanya rombongan kami yang masih bertahan di puncak Bromo pada pengujung sore itu.

Tak lama kemudian, waktu berbuka puasa akhirnya tiba. Saya hanya mengandalkan jam karena tak ada suara azan yang bisa menjadi penanda. Begitu yakin waktu berbuka sudah datang, saya langsung mereguk air mineral yang sejak tadi begitu menggoda iman. Ya ampun, segarnya tak terkira. Mungkin itu adalah air putih tersegar sepanjang hidup. Dan mungkin itu adalah buka puasa ternikmat meski dengan menu seadanya. Kapan lagi bisa buka puasa di Puncak Bromo dengan pemandangan menawan dan ditemani sahabat-sahabat yang menyenangkan?

Kawah Bromo

Bromo, Juli 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

6 Responses to Nikmatnya Berbuka Puasa di Puncak Bromo

  1. aning says:

    salut! aku aja yang ngga puasa dah berasa klengeeeerrrr….😀

  2. demi pemandangan indah…lapar jadi tak terasaaa🙂

  3. bromo tour says:

    Bromo memang keren dan ga ada habisnya..

    Kalau berlibur ke Bromo wajib ngunjungi savanah..

    Wisata Bromo

  4. viaphioo says:

    wahh,, kapann ya bisaa smpe bromoo😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: