Koleksi Buku Traveling

Setiap berkunjung ke toko buku, rak kategori pariwisata selalu menjadi godaan terindah. Tujuannya apalagi kalau bukan berburu buku perjalanan. Kalau nemu buku oke pasti langsung kalap. Dompet tipis juga gak jadi soal, kalau perlu puasa jajan sampai gajian tiba (halah). Pas nengok rak buku di rumah, ternyata koleksi buku perjalanan sudah lumayan banyak. Jadi pengin berbagi cerita soal buku koleksi di rumah, siapa tahu ada yang tertarik membeli buku serupa.

Finding Rumi (Najmar)

Nemu buku ini Agustus dua tahun lalu pas ada diskon di Gramedia. Kalau gak salah buku ini didiskon menjadi Rp15.000. Isinya tentang petualangan seorang perempuan Indonesia di Turki. Najmar namanya. Jika pengin ke Turki, dijamin tambah ngebet pergi ke sana setelah membaca buku ini. Selain bercerita tentang Ankara dan Istanbul, buku ini juga berkisah mengenai perjalanan Najmar ke Konya, kota tempat makam sufi terkenal, Maulana Jalaluddin Rumi. Petualangannya ke Konya menjadi bagian paling mengesankan dari buku ini. Tentu saja ceritanya tentang Istanbul dan segala macam isinya, seperti jembatan Bosphorus dan Hagia Sophia, juga terlalu menarik untuk diabaikan.

Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar (Marina Kusumawardhani)

Pengalaman Marina yang tertuang di buku ini benar-benar membuat iri. Selama enam bulan dia berkeliling Benua Biru, 13 negara tepatnya, hanya berbekal 1.000 dolar. Tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain Jerman, Italia, Denmark dan Rusia. Selain memberikan tips-tips melakukan perjalanan, Marina juga menyuguhkan cerita-cerita ringan namun “hidup” dan sarat makna, di setiap kota yang disinggahinya. Bagian favorit saya di buku ini adalah halaman 107. Judulnya Ground Zero, Moscow 20 Juni 2006. Ketika berjalan menyusuri sepanjang dinding merah Kremlin bersama temannya di Rusia, Suster Nadezhda, ada sebuah momen istimewa. Suster Nazehda yang seorang nasrani meminta Marina mengajarinya doa seorang muslim. Marina kemudian membacakan surat Al Fatihah dalam bahasa Inggris dan diselingi diskusi yang damai. Perbedaan itu memang indah.

Naked Traveler 1, 2, 3, 4 (Trinity)

Tak perlu bercerita panjang lebar tentang Naked Traveler. Buku bersampul warna-warna ngejreng (hijau, biru, oranye dan pink) ini jadi salah satu favorit para pejalan di Indonesia. Bukunya ringan dan kocak, khas Trinity. Biasanya kalau sudah baca buku ini malas berhenti kalau belum tamat. Cara Trinity menuturkan pengalaman “gilanya” berhasil membuat banyak orang ngebet mengangkat ransel dan berangkat keliling dunia. Kalau lagi bosan tingkat tinggi dan don’t know what to do, mending baca buku ini. Dijamin langsung pengin pelesir menjelajah negeri ini dan sudut-sudut dunia. Yang jelas buku ini juga bisa ngakak-ngakak menghilangkan suntuk.

Selimut Debu (Agustisnus Wibowo)

Buku perjalanan bintang lima. Boleh dong saya kasih nilai tinggi untuk buku ini. Agustinus tidak sekedar mengangkat ransel dan berpetualang di negara baru untuk bersenang-senang. Perlu dicatat, negara yang dikunjunginya ini adalah Afghanistan, suatu tempat di belahan bumi yang identik dengan perang, perang dan perang. Agustinus dengan peka dan detail mengungkap selimut yang menyelubungi kemisteriusan Afghanistan. Membaca buku ini seolah belajar sejarah, namun dari sisi yang berbeda. Testimoni Kompas di back cover pas dengan persepsi saya tentang buku ini : “Agustinus tak ingin hanya menjadi penonton isi dunia. Ia mau terlibat sepenuhnya dalam perjalanan itu. Ia tak sekedar melihat pemandangan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengenal budaya dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.”

Meraba Indonesia (Ahmad Yunus)

Tepat di bawah judul utama buku tertulis Ekspedisi “Gila” Keliling Indonesia. Kemudian di bawahnya lagi ada tulisan : Mengenal lebih dekat, lebih rekat…mencintai Indonesia apa adanya. Yes, dijamin setelah membaca Meraba Indonesia, pasti tambah cinta Tanah Air. Bersama Farid Gaban, Ahmad Yunus mengelilingi Indonesia selama setahun. Yang bikin geleng-geleng kepala, mereka keliling Nusantara dengan mengendarai sepeda motor butut. Kita bakal diajak mengenal kekayaan bahari Indonesia, temasuk pulau-pulau terluar Nusantara, lengkap dengan keseharian masyarakatnya. Catatan dari dekat. Hingar bingar di Jawa terasa asing dan jauh dari jangkauan warga di pulau-pulau terluar Indonesia. Masih banyak PR yang harus diselesaikan negeri ini.

Journey (Gola Gong)

Buku ini terbitan 2008. Isinya tentang catatan petualangan Gola Gong menyusuri bumi Asia, mulai dari Jakarta, Malaysia, Thailand, Laos, Bangladesh, India, Nepal dan Pakistan. Bagi penggemar Balada Si Roy, pasti bisa membayangkan bagaimana gaya tulisan Gola Gong di buku ini. Suka dan dukanya selama perjalanan dituangkan dengan detail, termasuk pelajaran berharga yang didapatkannya. Sebagian perjalanannya dilakukan dengan mengendarai sepeda lho! Gila. Di buku ini juga dikisahkan perjalanan spiritualnya sebagai proses perjalanan hidup yang panjang menuju perhentian abadi di sisi-Nya.

Pelangi di Persia (Dina Y Sulaeman)

Jarang-jarang ada buku perjalanan bertema Iran. Maklum Negeri para Mullah itu memang negara yang terkesan tertutup dan bukan menjadi destinasi incaran para pejalan. Saya girang seperti menang undian ketika menemukan buku ini di tumpukan buku yang tengah didiskon di Gramedia. Kalau gak salah, buku ini didiskon hingga Rp37.500. Lumayan terjangkau kantong. Cerita-cerita Dina lumayan memuaskan keingintahuan saya tentang Iran, termasuk tentang kota Qom, jantungnya Syiah. Buku Pelangi di Persia ini juga mengulas keseharian masyarakat Iran, misalnya saat perayaan Idul Adha, Karbalah hingga perkawinan antara penganut Sunni dan Syiah. Ada juga bahasan tentang kebiasaan masyarakat Iran yang sangat hobi berdemo.

Garis Batas (Agustinus Wibowo)

Karya kedua Agustinus setelah Selimut Debu. Jika di buku pertama dia berkisah mengenai perjalanannya di Afghanistan, kali ini dia menuturkan petualangannya di negeri-negeri Asia Tengah yang misterius. Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Negeri-negeri yang semuanya berakhiran “stan”. Intinya buku ini menguak misteri tentang takdir manusia yang terpisah dalam kotak-kotak garis batas. Seperti buku yang pertama, Garis Batas ini juga recommended. Layak dibaca untuk memperluas cakrawala tentang kehidupan lain di belahan bumi nun jauh di sana.

Perjalanan ke Atap Dunia (Daniel Mahendra)

Yang punya mimpi menjamah atap dunia, silakan baca buku ini. Pasti tambah mupeng pengin ke sana. Tulisan di back covernya seperti ini: Bagi yang merasa mustahil ke sana, nikmatilah buku perjalanan ini karena memang menyediakan eksotisme kelas tinggi. Bagi yang ingin segera ke sana, bawa dan bawalah buku ini sebagai karib perjalanan. Benar-benar racun. Kata pembuka buku ini juga asyik : Untuk orang-orang yang berani memperjuangkan mimpi masa kecilnya. Cara bertutur Daniel di buku ini sangat mengalir, membuat kita serasa ada dalam perjalanan itu. Yang jelas foto-fotonya di bagian tengah buku juga keren. Nepal dan Tibet…someday.

Jingga (Marina Kusumawardhani)

Jika di buku sebelumnya Marina berkisah tentang perjalanan keliling Eropa, kali ini dia menuturkan petualangannya ke India dan Thailand. Katanya mencari surga di bumi. Buku ini penuh dengan kata-kata filosofis dan penuh makna, mengajak kita untuk berpikir tentang kehidupan. Perjalanan Marina ke dua negara tersebut sebenarnya dilakukannya sebelum berkeliling Eropa. Namun bukunya malah baru terbit belakangan karena beberapa alasan. Gara-gara buku ini, saya jatuh cinta dengan Kashmir. Oleh sebagian warga India, Kashmir dijuluki sebagai Surga di Bumi. Tempat yang sangat indah namun terkoyak oleh konflik India dan Pakistan yang seolah tidak berujung. Oh ya di bagian prolog, Marina menulis seperti ini: buku ini sebetulnya adalah tentang anda. Tentang kita. Tentang betapa indah dan berharganya menjadi manusia dalam waktu kita yang sangat terbatas di atas bumi ini.

Journey to Iran (Dina Sulaeman)

 Melihat judulnya, tanpa banyak berpikir buku ini langsung saya beli. Eh, setelah dibaca, ternyata ini hanya versi baru dari buku Pelangi di Persia. Hampir sebagian isinya sama, hanya ada sedikit penambahan cerita, disesuaikan dengan waktu cetak buku ini. Tapi tidak apalah, sudah terlanjur dibeli. Bukunya tetap disampuli, kemudian disimpan rapi di rak buku. Siapa tahu buku yang satunya hilang dan buku ini berguna suatu saat nanti. Tak ada buku yang tak berguna kan?

Menyusuri Lorong-Lorong Dunia (Sigit Susanto)

Buku ini sudah memasuki jilid ketiga. Namun dari tiga jilid yang dirilis, saya hanya punya yang edisi ketiga. Dua jilid sebelumnya hanya numpang membaca buku milik teman. Sigit ini adalah seorang warga negara Indonesia yang kini tinggal di Swiss, negeri asal istrinya. Sebagai penggemar sastra, buku Sigit Susanto ini sangat kental dengan aroma sastra. Di buku pertama dan kedua, perjalanan Sigit banyak berhubungan dengan dunia sastra, misalnya tentang tempat tinggal atau landmark yang berhubungan dengan tokoh-tokoh sastra dunia. Hal itulah yang membedakan buku ini dengan yang lain. Di buku ketiga, cerita perjalanan Sigit terasa lebih “normal”. Dia menuliskan perjalanannya bersama sang istri ke Kenya, India, Turki, Yordania, Skandinavia, Polandia, Mesir, Kamboja dan Yunani dan kunjungannya ke Hongkong untuk menengok tenaga kerja Indonesia di negeri tersebut.

Travelicious Yogya dan Solo (Ariyanto)

Penulisnya teman sendiri ini. Buku ini bakal berguna bagi yang ingin menjelajah Solo dan Yogya. Mau mencari referensi transportasi, penginapan, tempat kuliner enak dan murah? Semua ada di buku ini. Peta Yogya dan solo juga terlampir. Referensi penginapannya juga beragam lho, mulai yang berlabel bintang sampai yang bertarif Rp70.000. Pokoknya lengkap! Dijamin dengan berbekal buku ini, tak akan kehabisan ide bagaiman bersenang-senang di Solo dan Jogja.

Honeymoon with My Brother (Franz Wisner)

Tema buku ini keren: bertualang keliling dunia gara-gara putus cinta! Bukunya karangan orang Amerika Serikat, Franz Wisner. Ide keliling dunia muncul setelah tunangan Franz yang telah dipacarinya selama 10 tahun memutuskan hubungan seminggu sebelum hari pernikahan mereka. Dia berkelana bersama adiknya, Kurt Wisner. Keduanya memutuskan berhenti dari pekerjaan, menjual rumah dan menyumbangkan pakaian dan perabotan, membuang ponsel, lalu bersama mengelilingi dunia. Cara Franz bercerita menghibur dan kadang bikin ngakak. Mereka mengeksplor Eropa Timur, Timur Tengah, Australia, Amerika Latin hingga Asia Tengah. Di buku ini, juga ada tentang petualangan mereka di Indonesia, tepatnya di Bali dan Lombok (Gili Trawangan dan Pantai Kuta Lombok Tengah). Kisah mereka di Indonesia ditutup dengan perjalanan ke Pulau Komodo lengkap dengan suka dukanya. Selain menemukan banyak pengalaman baru, perjalanan panjang itu juga membuat dua bersaudara itu menjadi lebih dekat dan saling memahami. Hal yang tidak mereka temukan ketika berkutat dengan pekerjaan menumpuk di gemerlapnya Amerika.

Rp 2 Juta Keliling China Selatan dalam 16 Hari (Ariyanto)

Buku ini salah dari sejumlah panduan perjalanan yang dihasilkan sang penulis. Jika Anda ingin ke Negeri Tirai Bambu bagian selatan, buku ini bisa dijadikan teman perjalanan. Ada petunjuk lengkap tentang beberapa tempat seperti Guangzhou, Nanning, Guilin, Kunming, Dali dan Chengdu. Tentu saja dengan biaya yang miring, meliputi konsumsi, akomodasi dan transportasi. Angka Rp2 juta yang tertera pada sampul buku ini merupan total pengeluaran selama perjalanan, tapi tentu saja minus tiket pesawat.

The Journey of Muslim Traveler (Heru Susetyo)

Perjalanan Heru ini punya tema khusus, yaitu dengan perspektif Islam. Maklum dia selain suka bertualang, juga seorang aktivis HAM. Heru menyapa anak-anak di Siem Riep (Kamboja), Pattani (Thailand) dan Mindanao (Filipina). Dia juga berinteraksi dengan mualaf dari Jepang, Belanda, Jerman, hingga Republik Cheska. Dari buku Heru saya menumukan banyak hal baru tentang Islam dari sudut yang berbeda, misalnya tentang duka wanita dan anak-anak korban konflik di Thailand Selatan yang dituturkan lebih personal dan menyentuh. Di bagian back cover buku ini tercantum tulisan seperti ini: Perjalanan pada hakikatnya harus memiliki nilai. Entah itu nilai yang bersifat transenden ataupun idealis, sehingga ia tak sebatas menikmati sebuah pelesiran. Perjalanan yang tak memiliki nilai sama artinya menafikan keberadaan manusia sebagai makhluk yang membawa sifat keilahian.

The Journeys

Ini buku keroyokan. Isinya kisah perjalanan para pencerita berisi 12 tulisan perjalanan dari 12 penulis dengan latar belakang berbeda. Sebut saja Trinity, Raditya Dika, Valiant Budi, Ve Handojo dan Adhitya Mulya. Kisahnya beragam dari sudut rumah sakit jiwa di Singapura, keindahan Karimunjawa, eksotisme Bromo, damainya Shuili hingga mencari parfum impiah di Mekkah. Saya dibuat ngakak campur haru oleh cerita Raditya Dika di Belanda, ikut termotivasi oleh kisah Alexander Thian di Karimunjawa dan terhibur oleh The Truth Behind Free Traveling-nya Trinity.

Independent Traveling (Agung Basuki)

Kiat-kiat tentang bagaimana melakukan perjalanan secara independent di buku ini lumayan berguna. Banyak hal remeh yang kadang kita lupakan ketika hendak melakukan perjalanan. Jika masih ragu untuk bertraveling, silakan buka buku ini. Buku ini melabeli diri sebagai panduan praktis merencanakan dan melakukan perjalanan keliling dunia. Dijanjikan juga kiat memperoleh penghasilan besar sambil berkeliling dunia secara gratis.

Kedai 1001 Mimpi (Valiant Budi)

Tema buku ini sudah bikin penasaran, tentang kisah nyata seorang penulis yang menjadi tenaga kerja Indonesia alias TKI. Di Arab Saudi tepatnya. Valiant adalah seorang penulis yang tergila-gila dengan dunia Timur Tengah. Salah satu ambisinya adalah adalah menulis sebuah buku travel dari belahan bumi 1001 mimpi. Kesempatan itu datang ketika ia diterima bekerja di sebuah kedai kopi internasional dan ditempatkan di Dammam, Arab Saudi. Valiant menuturkan dengan gamblang suka dukanya selama menyandang status TKI tersebut. Dengan cara penuturan yang apa adanya, buku ini menawarkan sisi-sisi kehidupan di Arab Saudi yang mungkin selama ini luput dari perhatian. Banyak fakta-fakta yang membuat tercengang. Soal percaya atau tidak, itu terserah urusan masing-masing.

99 Cahaya di Langit Eropa (Hanum Salsabila)

Eropa menyimpan misteri besar tentang Islam. Benua Biru pernah menjadi saksi bisu masa kejayaan panji-panji Islam. Namun Eropa juga menyaksikan sendiri bagaimana peradaban Islam di benua itu runtuh. Bukti dari sisa-sisa kebesaran Islam di Eropa masih bisa ditemui di berbagai sudut di Benua Biru. Dimulai dari gemerlapnya kota Paris, dinginnya Wina, kehangatan Cordoba, Granada dan Madrid, serta kemegahan Istanbul. Proses mengumpulkan mosaik-mosaik peradaban Islam di Benua Biru itulah yang menjadi inti dari buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Penulis, Hanum Salsabiela dan suaminya Rangga Almahendra, menyebut buku ini sebagai catatan perjalanan dari sebuah pencarian. Recommended.

Boyolali, November 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

20 Responses to Koleksi Buku Traveling

  1. aning says:

    top banget nih tulisannya. komplet dan bermanfaat🙂

  2. Baru nyadar gak punya lonelyplanet satupun😦

  3. banyak banget buku travelingnya mbak …………………. weleh2 hehehe

  4. sip …. itu disimpennya di boy / solo ? kapan2 pinjam ah hehe

  5. DianRuzz says:

    Baru pernah baca yang The Naked Traveler, The Journeys, dan Kedai 1001 Mimpi. Lainnya belum😦

    Eh ada honeymoon with my brother juga😀 Dari dulu masih nangkring di wishlish tuh bukunya

  6. ijin copy ya mbak🙂

  7. mbak njenengan solo nya mana?? saya pengen pinjem tu buku – buku travelingnya, duh bikin ngiler🙂

  8. Whaa wartawan ya mbk?
    Hehe. . . Tyta pnh deketan mbk, saya kerja di solopeduli yg kantornya di solopos juga tapi di lt.3, sekarang masih di solopeduli sih tp yg di kantor pusat jebres😀
    kalo pulang ke boyolali jgn lupa diboyong buku2 nya mbk, saya antri minjem😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: