Cerita dari Gerbong Kereta

Jika diminta memilih moda transportasi favorit saat melakukan perjalanan, pilihan saya jatuh pada kereta api. Alasannya simpel. Gerbong kereta bagaikan etalase kehidupan berwujud sederhana. Berbagai cerita mengalir hanya dengan mengamati interaksi di antara kursi dan lorong yang nyaris tak pernah sepi.

Di kereta ekonomi Rangkas dari Stasiun Kota Jakarta menuju Rangkasbitung Banten, 24 November 2012 lalu, saya mengalami gegar budaya. Kereta bertarif Rp4.000 untuk perjalanan selama tiga jam tersebut menyuguhkan gambaran nyata kaum marjinal Indonesia. Riuh rendah, tak beraturan, namun berbalut tekad dan kegigihan. Kondisi fisik di dalam gerbong kereta jauh dari standar layak. Bangku memanjang menempel di kedua sisi, bertekstur keras dan tak menawarkan kenyamanan. Lantai gerbong mengelupas di sana-sini, merusak teori keindahan. Kereta berjalan lambat seolah tak ada cita-cita mulia yang tengah dikejar.

Tapi tampaknya tak ada yang peduli. Kereta penuh sesak dan terus berdenyut. Puluhan pedagang bercampur aduk dengan penumpang yang tak terganggu oleh udara panas dan lembab. Saya lebih suka menyebut kereta ini sebagai pasar berjalan. Barang dagangan biasa hingga yang “mustahil” ditemukan di kereta normal, ada di sini. Buah-buahan, kue, kosmetik, nasi bungkus, permen, senter, mainan anak, pita rambut atau baju, silakan pilih sendiri. Pengamen dengan speaker bertalu-talu ikut menyemarakkan suasana.

Beberapa kali saya dan tiga teman seperjalanan melontarkan keluhan. Manusiawi sekali. Tapi orang-orang di sekeliling kami terlihat baik-baik saja. Para pedagang menampar “kemanjaan” kami dengan kegigihan mereka. Seorang perempuan muda menjajakan sekotak kecil permen tolak angin dari gerbong satu ke gerbong satunya tanpa kenal lelah. Tak ada gurat putus asa meskipun selama tiga jam kotak dagangannya hanya berkurang sedikit. Tekad besar juga terpancar dari seorang pria paruh baya yang mematok harga Rp5.000 untuk 30 butir salak. Dengan rayuan maut, dia mampu menggoyahkan keteguhan seorang ibu berwajah keras yang duduk tak jauh dari saya. Yang hebat, ada seorang pedagang mangga yang sukses menjual habis sekeranjang dagangannya dalam tempo tiga jam. Benar-benar jempolan tekad dan kegigihan mereka.

Selain kegigihan, potret kesemrawutan tetap melekat. Sampah perlahan menyesaki lantai kereta. Tak ada rasa kikuk apalagi bersalah ketika tangan demi tangan melempar sampah ke segala arah. Tradisi membuang sampah sembarangan memang menjadi satu dari ratusan atau ribuan masalah klasik bangsa ini. Kedisplinan, keteraturan dan tanggung jawab masih jadi harapan muluk. Lelah mengamati, saya pun memejamkan mata sembari dibuai musik cempreng dari pengamen tanpa nama yang masih setia menanti dentingan receh dari para dermawan di kereta ini.

Ingatan kemudian melompat ke Thailand Utara, ke sebuah kereta ekonomi yang melaju pelan dari Chiang Mai menuju Bangkok pada pertengahan April 2012. Terdampar di kereta itu bagaikan berkah di balik bencana. Ada cerita yang didapat dari kesialan itu. Kepanikan setelah kehabisan tiket bus pagi dari Chiang Mai menuju Bangkok mengantarkan saya dan teman-teman seperjalanan memilih moda kereta api. Apesnya tiket kereta api tipe eksekutif yang nyaman sudah ludes. Kereta ekonomi dengan waktu tempuh 12 jam jadi alternatif tunggal. Dengan harapan tiba di Bangkok lebih awal daripada naik bis siang, kami mantap merogoh kocek. Tapi siapa menyangka, waktu tempuh di tiket hanya kamuflase. Faktanya keterlambatan kereta di Thailand dianggap sewajar anak kecil mengompol di celana. Waktu tempuh 12 jam molor menjadi 16 jam. Bus siang dari Chiang Mai pun tiba lebih dulu di Bangkok daripada kereta ini.

Esensi dari perjalananan adalah perjalanan itu sendiri. Daripada merutuki diri sendiri, kami memilih tertawa dan menikmati saja romansa kereta ekonomi ala Thailand. Sepintas tampilan fisiknya mirip dengan kereta ekonomi Indonesia. Tipe penumpangnya juga sejenis, mayoritas golongan menengah ke bawah. Kursi-kursi diatur berhadapan, persis kereta Senja Bengawan jurusan Solo-Jakarta. Bedanya sebagian penumpang masih berdiri, sedangkan kereta ekonomi di Indonesia kini sudah menghapus penumpang non-tempat duduk. Pedagang juga berseliweran di gang-gang gerbong kereta.

Urusan kebersihan, saya angkat jempol. Harus diakui masyarakat Thailand setingkat lebih unggul dibandingkan Indonesia. Gerbong kereta tetap terjaga bersih sampai roda kereta menyentuh stasiun di Bangkok. Para penumpang dengan kesadaran sendiri membawa plastik untuk menampung sampah makanan mereka. Sebuah plastik hitam besar digantungkan petugas di salah satu sudut gerbong. Para penumpang dengan patuh membuang sampah di sana. Tumpukan sampah di lantai kereta sepertinya menjadi pemandangan langka bagi pengguna kereta di Negeri Gajah Putih. Toiletnya ternyata juga bersih hingga tiba di stasiun terakhir.

Kereta ekonomi Chiangmai-Bangkok disesaki penumpang

Kereta ekonomi Chiang Mai-Bangkok disesaki penumpang

Sepanjang perjalanan yang terasa sangat lambat, perhatian saya banyak tersedot pada sepasang kekasih “unik”. Mereka berdiri di samping bangku saya karena tidak mendapat tempat duduk. Sekilas mereka seperti pasangan kekasih normal. Tetapi setelah diperhatikan lebih jelas, keduanya ternyata perempuan. Sang “lelaki” berkulit putih bersih, dengan rambut cepak, bercelana panjang dan mengenakan sepatu maskulin. Tapi bayangan tali BH di kaosnya memberi bukti dia adalah kaum hawa. Adapun sang wanita berambut panjang dengan wajah lembut dan memenuhi syarat menjadi kembang sekolah.

Bagi kami orang Indonesia, keberadaan pasangan itu menjadi pemandangan menarik. Saya dan teman seperjalanan tak bisa menahan diri untuk membahasnya. Maklum,unjuk kemesraan pasangan sejenis di depan umum masih menjadi hal tabu di Tanah Air. Padahal kalau mau jujur, isu homoseksual sudah bukan hal aneh di berbagai jenis lapisan masyarakat. Kami sempat bertukar sapa dengan mereka untuk menanyakan kira-kira berapa lama lagi sampai di Bangkok. Mereka pun dengan ramah menjawab pertanyaan dengan bahasa Inggris cukup lancar.

Di tengah perjalanan, mereka mendapat tempat duduk di seberang kami. Sembari duduk berseberangan, keduanya berinteraksi layaknya kekasih normal. Memamerkan kemesraan dan bertukar momen-momen romantis. Selain kami, sepertinya tak ada penumpang lain yang peduli dengan tingkah mereka. Seorang lelaki muda berambut panjang yang duduk di samping “sang pria” sama sekali tak melirik dan asyik menyerap pemandangan dari jendela atau sesekali memejamkan mata untuk mengobati kantuk. Penumpang yang lain juga sibuk dengan urusan masing-masing, total mengabaikan pasangan tersebut.

IMG-20120420-00746

Chiang Mai dari jendela

Itulah gambaran karakter masyarakat Thailand yang terbuka. Keberadaan pasangan sejenis dan waria (lady boy) sangat ditolererir. Ruang berekspresi bagi kaum yang kerap dipandang sebelah mata itu lebih terbuka di Negeri Gajah Putih. Sepertinya sepanjang tak mengganggu orang lain, silakan menjalani pilihanmu. Keterbukaan Thailand itu diamini Roo, seorang pria humoris asal Korea Selatan yang dengan baik hati mentraktir kami di Bangkok. Tanpa rikuh, dia mengaku sebagai gay, punya pasangan yang telah melamarnya dengan cincin elegan dari Tiffany and co.

Di negerinya, Roo harus rapat-rapat menyembunyikan orientasi seksualnya. Meskipun modernitas telah menggempur Korea Selatan, masyarakatnya masih konservatif. Hanya sang kakak yang sudah mengetahui jati dirinya. Roo bahkan tak berani membayangkan reaksi ibunya jika tahu kondisinya. Oleh karena itu dia mewanti-wanti sang kakak agar mengunci rahasia besar tersebut. Di Thailand lah Roo mengaku menemukan kemerdekaan. Dia bisa terang-terangkan mengekspresikan diri. Baginya Bangkok adalah “surga”. Kehidupan Roo di Bangkok berkutat di antara kamar hotel dan pesta di klub gay. Kebahagiaan yang tak mungkin ditemukan di negeri asalnya.

Roda kereta akhirnya berhenti berderit pada pukul 11 malam. Layaknya kota metropolis, Bangkok belum tidur. Badan kami lengket bukan main dihajar debu dan panas di gerbong kereta ekonomi. Badan sudah menjerit minta istirahat. Dengan sisa tenaga yang ada, kami menyegat taksi untuk mengantar kami ke empuknya kasur dan segarnya siraman air dingin di bawah shower.

Rangkasbitung & Chiangmai, 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

18 Responses to Cerita dari Gerbong Kereta

  1. aning says:

    wohooo, seru sekali ceritanya… dari sesaknya gerbong KA ekonomi sampai lady boy!! well writen!!😀

  2. Ini setengah curhat momen kemringet di kereta…heheheheh

  3. Latifah says:

    woooww….interesting articles, Kak May….
    Memang, Thailand surga bagi kaum gay dan lesbi….

  4. Tengkyu dah mampir ke blogku kak. lady boy-ne malah lebih cantik dari kita ya kak emy xixixixi

  5. pencangkul says:

    wah, sudah melanglangbuana kemana-mana ya, tetapi tetap pencinta Persis kan🙂

  6. Tetep dong mas…masih menikmati banget nonkrong di tribun stadion manahan hehehehe

  7. Tapi kok tetep isoh angler le turu nang gerbong kereta ekonomi sing riuh rendah dan tak beraturan kuwi yo..😛

  8. Frenky ( www.thedreamerblog.com ) says:

    Cerita nya bagus, bs mendeskripsikan keadaan sekitar, berasa kaya baca novel haha..
    Untuk harga tiket ekonomi yang di thailand masih inget harga nya?

  9. yusmei says:

    Lagi pengen nulis yang mendayu-dayu jadinya kayajk gini…hahaha. Kalau tiket kereta ekonomi bangkok-Chiangmai kalau tidak salah sekitar 270 bath…itu harga tahun lalu🙂

  10. buzzerbeezz says:

    Coba ada ada fotonya itu pasangan lesbiannya pasti lebih seru baca artikel ini.. #eh

  11. Ruslan says:

    kalo diliat2 sih ga beda jauh ama di indonesia ya.. ga keliatan cewenya sama sekali itu😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: