Baduy Dalam, Riwayatmu Kini…

Dua tahun lalu, saya menyusun imajinasi eksotis tentang kehidupan di Baduy Dalam. Sekelumit cerita mengenai masyarakat yang bebas dari rongrongan modernitas. Hidup apa adanya, berpegang pada kearifan lokal dan menyeleraskan diri dengan alam sekitar.

Warga Baduy Dalam

 

 

Berbagai imajinasi liar dua tahun silam terus menuntut pembuktian. Kegagalan mengunjungi kampung Baduy Dalam pada 2010 akhirnya terbayar lunas bulan lalu, tepatnya pada 24 November 2012. Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan dari Solo, tiba juga kesempatan melongok kampung Baduy Dalam. Hati kecil dengan kritis mengingatkan bahwa kenyataan kadang tak seindah imajinasi. Berbagai artikel hasil pencarian di internet tentang masyarakat Baduy Dalam menguatkan keyakinan itu.

Untuk sampai di Baduy Dalam, saya dan tiga orang teman seperjalanan harus berjalan kaki naik-turun bukit sejauh 12 km dari Desa Ciboleger, wilayah terdekat dari Baduy yang masih terjangkau kendaraan. Perkampungan Baduy terletak di di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten. Tentu kami ditemani seorang pemandu. Pak Cacak namanya. Seorang pria pemalu berusia sekitar 40-an tahun warga Kampung Cicakal, Baduy Luar, yang pendiam, namun murah senyum. Gara-gara dihajar hujan lebat, perjalanan kami ke Desa Cibeo, satu dari tiga kampung Baduy Dalam, harus dibagi dalam dua sesi. Di tengah perjalanan, kami memutuskan menginap di rumah Pak Cacak.

Keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan. Setelah dua jam berjalan dari kediaman Pak Cacak, sampailah kami di Desa Cibeo. Puluhan lumbung padi khas Baduy menyambut. Selebihnya kampung terasa tenang, hanya satu-dua orang melintas dalam kesunyian. Memang, beberapa kilometer sebelum menapak ke Desa Cibeo, kami berjumpa hiruk pikuk wisatawan yang baru kembali dari kampung Baduy Dalam.

Lumbung padi

Lumbung padi

Memasuki Desa Cibeo, deretan rumah panggung beratapkan ijuk atau daun kelapa serta tanpa jendela khas Badui, berjejer teratur. Nyaris tak ada aktivitas. Sepi, sunyi. Kami kemudian melangkah membelah jalan di pemukiman warga.  Sontak kesunyian pun lenyap.  Pada pukul 08.00 pagi, kehidupan di Desa Cibeo sudah menggeliat kencang. Seorang perempuan paruh baya yang berpakaian khas Baduy Dalam menyambut kami dengan hangat. Ternyata perempuan ramah tersebut adalah pengusaha kerajinan asal Jakarta yang setiap tiga pekan atau sebulan sekali datang berkunjung ke Baduy Dalam untuk mengambil barang dagangan, hasil kerajinan warga Desa Cibeo. Ia sangat akrab dengan warga Desa Cibeo, terlihat nyaman seperti di rumah sendiri.

Selain si ibu tersebut, banyak juga wajah-wajah pendatang yang bersliweran. Tampaknya mereka rombongan wisatawan yang memang menginap di sana pada malam sebelumnya. Kami juga langsung disapa oleh penduduk Cibeo yang berpakaian khas putih dan biru tua, serta ikat kepala putih. Semula saya berharap mendengar sapaan dalam bahasa Sunda, bahasa utama mereka. Tapi harapan tinggal harapan. Kalimat sapaan mengalun dengan bahasa Indonesia yang lancar dan rapi. Ternyata hampir semua penduduk Cibeo memang sudah fasih berbahasa nasional itu. Jadi jangan takut berkunjung ke sana meskipun tanpa modal bahasa Sunda memadai!

Kami dipersilakan masuk ke salah satu rumah. Belum juga duduk lama, mereka menyodorkan barang-barang dagangan, mulai baju khas Baduy Dalam, kain batik Baduy, gelang-gelang anyaman, tas rajut hingga gantungan kunci. Beberapa warga lainnya ikut mendekat, menawarkan hasil kerajinan mereka. Sembari berbincang ringan, mau tidak mau kami pun melihat-lihat kerajinan yang ditawarkan dan akhirnya membeli untuk oleh-oleh. Memang, interaksi yang tercipta tidak sekedar tawar-menawar barang dagangan. Kami  juga bertukar cerita dengan mereka (saking banyaknya saya malah lupa menanyakan nama-namanya), tentang tradisi dan kehidupan sehari-hari. Tak lupa kami minta dibuatkan gelang yang langsung dirajut di tangan dari bahan mirip rotan. Konon hanya orang Baduy Dalam yang bisa membuat gelang tersebut, itu pun tidak setiap warga punya keahlian tersebut.

Selesai berbincang dan berbelanja, kami keluar untuk berkeliling Desa Cibeo. Di luar suasana bertambah ramai oleh kedatangan rombongan besar anak-anak SMP. Mereka sedang mengerjakan tugas karya tulis. Beberapa warga terlihat menggelar dagangan di depan rumah, yang tentu saja langsung dikerumuni rombongan anak-anak sekolah tersebut. Sedangkan di ujung desa, para pria Baduy dengan ramah melayani pertanyaan para siswa sembari duduk-duduk santai di dekat rumah panggung. Harapan saya menemukan kesunyian “sakral” di kampung Cibeo lenyap sudah. Desa ini sudah benar-benar menjelma menjadi sebuah “obyek wisata”. Satu-satunya tempat yang sepi dan “sulit” dijamah adalah rumah kepala suku. Sebuah rumah di pojok desa yang terpisahkan dari bangunan lain oleh rumput-rumput yang hijau. Tak ada warga yang berani mendekat tanpa alasan kuat, apalagi wisatawan.

Kentongan warga Baduy

Kentongan warga Baduy

Jujur, saya kaget melihat keriuhan Desa Cibeo. Imajinasi tentang suku pedalaman nan eksotis lenyap sudah. Desa kecil di puncak bukit tersebut tak kebal sepenuhnya terhadap bibit-bibit modernitas. Tradisi dan kearifan lokal warga Baduy Dalam memang masih terjaga, setidaknya menurut penilaian saya. Prinsip-prinsip “adiluhung” suku Baduy tetap melekat, termasuk bagaimana bersikap bijak terhadap alam semesta dan kehidupan. Tetapi entah mengapa saya merasa tidak menemukan “keaslian” suku Baduy Dalam. Mungkin perasaan itu muncul karena dipengaruhi riuh rendah transaksi dagang yang terjadi di sudut-sudut desa, atau mungkin juga lantaran sikap sangat terbuka warga Desa Cibeo. Percakapan dalam bahasa Indonesia yang terdengar di mana-mana membuat saya tak merasa berada di sebuah kampung pedalaman. Apalagi wisatawan seolah mengalir tanpa henti, maklum saat itu bertepatan dengan akhir pekan. Bahkan suasana kampung Pak Cacak di Badui Luar terasa lebih tenang dibandingkan di Desa Cibeo.

Saya kemudian berpikir. Mungkin selama ini imajinasi saya yang terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin mengharapkan masyarat Baduy Dalam tidak bisa berbahasa Indonesia jika setiap pekan wisatawan terus berdatangan? Masuk akalkah keinginan saya mendapati orang Badui memakai sistem barter karena belum mengenal uang?  Wajarkah jika saya berharap orang-orang Baduy tak mengenal SBY atau Jokowi? Sepertinya saya terlalu banyak nonton film!  Faktanya mereka mengenal siapa itu Jokowi dan baju kotak-kotak kebesarannya.

Rasanya tidak adil menyalahkan warga Desa Cibeo hanya gara-gara mereka telah membuyarkan imajinasi semu saya. Desa Cibeo dan warganya punya hak penuh mengakrabi bahasa Indonesia dan giat menambah pemasukan dengan berdagang barang-barang kerajinan. Menyalahkan mereka sama saja melecehkan sifat dasar manusia yang selalu ingin belajar, berkembang dan beradaptasi dengan kekinian. Lalu, apakah wisatawan yang pantas jadi tertuduh karena berbondong-bondong datang untuk melihat dari dekat kehidupan di Baduy Dalam? Sepertinya tidak juga. Hasrat masyarakat luar belajar tentang kearifan suku Baduy jelas bukan hal negatif.

Saya sendiri bingung jika ditanya seperti apa kondisi ideal untuk Baduy Dalam. Ideal menurut siapa dan apa parameternya? Haruskah jumlah wisatawan dibatasi supaya keriuhan berkurang? Haruskah warga Baduy Dalam dilarang agresif berjualan barang kerajinan agar suasana desa terasa lebih “asli”? Entahlah. Saya memilih menerima keadaan masyarakat Baduy saat ini apa adanya, asalkan kearifan dan budaya adiluhung mereka tidak tergerus. Soal imajinasi eksotis suku pedalaman, biarlah itu menjadi masalah saya sendiri.

Banten, 23-24 November 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Baduy Dalam, Riwayatmu Kini…

  1. nisa says:

    walaupun di baduy dalam tetap tidak tenang karena setiap harinya ada wisatawan, tapi orang2 sana masih tetap mempertahankan ke-adiluhung-annya. walaupun dari mulai makanan pun mereka sudah banyak beralih ke modern seperti bayi yang sekarang sedikitnya/yang saya temui 1 ibu yg memberi bayinya bubur sun, serta kurangnya peraturan ketat mengenai pembuangan sampah para wisatawan yang dimana saja hingga sayapun prihatin melihat sampah berserakan dipinggir sungai yg untungnya tidak sampai hanyut ke sungai. sepertinya wisatawan harus dikurangi jumlahnya dan wisatawan dibekali pelajaran sebelum memasuki kawasan baduy dalam.

    • yusmei says:

      Iya nisa…aku juga berpikir begitu. Harus ada pembatasan jumlah kunjungan supaya keseimbangan di Badui tetap terjaga. Wisatawan swharusnya bisa menjadi pengunjung yang cerdas dan bertanggung jawab, ikut menjaga dan menghormati segala sesuatu di Badui, bukan malah menciptakan masalah baru. Imbauan atau apapun tidak akan berguna jika tidak ada kesadaran dari wisatawan itu sendiri🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: