Momen Traveling Tak Terlupakan

Suka jalan-jalan tapi teledor, agak pelupa dan sering disorientasi arah. Bisa ditebak dong bagaimana efeknya? Benar-benar dasyat. Jangan heran, traveling saya nyaris tak pernah berjalan mulus.

Empat tahun lalu ketika traveling ke Bandung bersama seorang teman, kesialan datang gara-gara sebuah keteledoran. Ceritanya saat tiba di Stasiun Bandung, kami berdua harus naik angkot menuju rumah saudara di daerah Buah Batu. Saat itu saya membawa dua jenis barang, tas ransel dan kardus kecil berisi buah tangan untuk keluarga Budhe. Nah ketika turun dari angkot dan beralih naik becak, saya merasa ada yang aneh. Ternyata benar. Tas ransel berisi pakaian dan peralatan lainnya ketinggalan di angkot! Kami pun langsung mencegat angkot dengan jurusan yang sama untuk mengejar. Tapi hingga di ujung trayek, angkot tersebut seperti hilang ditelan bumi. Alhasil semua barang bawaan saya ludes! Untungnya, uang dan surat-surat penting tersimpan di tas selempang kecil yang terpisah. Kalau tidak, bisa berantakan acara jalan-jalannya dong. Yang jelas, anggaran traveling menjadi membengkak karena harus membeli baju dan celana baru. Apes.

Pose ini yang membuat kamera dan HP tercelup. Tepatnya beberapa saat sebelum berpose narsis ini

Pose ini yang membuat kamera dan HP tercelup. Tepatnya beberapa saat sebelum berpose narsis ini

Lain lagi insiden di Lombok dua tahun silam. Saya benar-benar rugi bandar. Bagaimana tidak, selain kehilangan kamera yang tercelup air laut, saya juga merusakkan telepon genggam milik teman. Gara-garanya sepele. Seusai bersenorkeling di dekat Pantai Tangsi, Lombok Timur, kami menepi untuk berfoto bersama. Karena tak terlalu hobi bersenorkeling, saya mendapat tugas membawa tas selempang kecil yang berisi kamera DSLR seorang teman, kamera poket milik pribadi dan telepon genggam milik teman juga. Nah, dalam sebuah sesi foto, kami sepakat berpose duduk di air. Tanpa berpikir panjang saya pun langsung duduk. Ya ampuuun, saya benar-benar lupa sedang membawa tas berisi benda-benda berharga. Tas tercelup air dan semua benda di dalamnya basah. Beruntung kamera DSLR masih bisa disemalatkan, tapi kamera poket oranye kesayangan saya langsung mati, begitu juga HP teman. Mau tidak mau, kantong pun terkuras untuk mengganti HP lumayan canggih itu. Saya juga harus berpisah dengan kamera poket oranye yang sudah setia menemani selama 1,5 tahun. Sedih.

Perjalanan ke Vietnam pada Maret 2009 juga menyisakan cerita konyol akibat keteledoran. Sehari menjelang kepulangan ke Tanah Air, saya dan dua teman traveling sibuk berbelanja oleh-oleh di Ho Chi Minh. Hari sudah cukup larut malam. Lelah berbelanja, kami kembali ke penginapan. Ketika menata barang, ternyata kaus pesanan seorang teman belum terbeli. Akhirnya saya sendirian kembali ke toko kaus berbekal amplop berisi dolar yang jumlahnya memprihatinkan. Benar-benar pas-pasan untuk bertahan hidup sampai ke bandara keesokan harinya. Kelar membeli kaus, saya langsung packing, sembari berencana menghitung uang tersisa. Tapi, ketika semua barang sudah masuk ke tas, amplop putih maha penting itu tak juga kelihatan. Oh tidaaak. Saya langsung panik membongkar-bongkar barang. Tetap saja si amplop tak mau nongol!  Sepertinya amplop dan uang di dalamnya itu ketinggalan di tempat penjual kaus. Mau mencari ke sana juga tak mungkin karena toko pasti sudah tutup. Akhirnya untuk menyambung hidup dan kembali dengan selamat ke Indonesia, terpaksa deh berhutang ke teman. Untung dia masih ada uang sisa. Kalau tidak, bagaimana nasib saya dong? Hehehehe

Jaket putih kesayangan sebelum hilang

Jaket putih kesayangan sebelum hilang

Perjalanan ke Thailand pada April 2012 juga tak luput dari insiden. Tidak terlalu dramatis sih. Kali ini saya kehilangan jaket putih andalan karena tertinggal di bus tingkat dalam perjalanan dari Bangkok menuju Chiangmai. Padahal jaket itu menyimpan banyak kenangan, termasuk kejadian menggelikan di Gili Trawangan, Lombok. Saat naik cidomo bersama teman-teman, jaket putih itu jatuh dari tangan. Sialnya…jaket itu jatuh ke sebuah lubang berisi air bercampur lumpur! Bisa dibayangkan dong apa jadinya jaket tersebut? Warna yang awalnya putih bersih langsung berubah menjadi cokelat pekat. Butuh direndam dengan sabun selama dua hari penuh untuk mengembalikan warna putihnya, itu pun tidak maksimal. Eh, sekarang jaketnya malah ketinggalan di bus. Bye bye.

Peristiwa menyebalkan tak hanya terjadi di tengah-tengah acara traveling senang-senang. Traveling dalam rangka tugas kantor juga tak luput dari insiden konyol. Bedanya, ini bukan akibat keteledoran saya. Ceritanya, pada akhir September 2008 saya ditugaskan meliput PON di Kalimantan Timur. Saya berangkat bersama rombongan atlet dan pengurus KONI Jateng dari Bandara Adisucipto Jogja dengan pesawat Mandala. Semula semuanya berjalan lancar tanpa masalah. Namun kelegaan itu tak bertahan lama. Sesampainya di Bandara Sepinggan, Balikpapan, saya langsung menuju ke tempat pengambilan bagasi. Satu persatu koper besar-besar muncul dan diambil pemiliknya. Tapiiiiii…. hingga barang terakhir, koper saya tak juga nongol. Saya langsung panik. Seluruh barang bawaan, kecuali dompet dan uang, ada di tas itu! Pengurus KONI Jateng sebagai penanggung jawab berinisiatif menanyakan ke pihak maskapai. Jawabannya bikin lemas. Sebagian tas milik penumpang belum terangkut, alias masih ketinggalan di Jogja. Saya terpaksa pulang ke hotel hanya membawa sebuah kaus yang dijual di bandara. Mau tahu berapa lama koper tersebut kembali ke tangan saya? Tiga hari! Selama tiga hari itu pula saya harus bolak-balik ke toko untuk membeli baju baru sambil berdoa supaya kopernya segera kembali.

Insiden terakhir terjadi pada awal Juli 2012 saat ditugaskan liputan di Ukraina. Awalnya semua berjalan lancar. Pemeriksaan di Imigrasi ketika hendak masuk ke negara tersebut berjalan mulus, begitu juga selama meliput Euro 2012. Diam-diam saya heran campur bersyukur karena jarang sekali perjalanan bisa lancar jaya. Lumayan….mungkin kali memang ditakdirkan lancar. Tapi tunggu dulu. Badai belum berlalu. Peristiwa tak mengenakkan ternyata datang belakangan, tepatnya saat kepulangan ke Tanah Air. Masalah sudah muncul di bandara Borispol, Kiev.

Ceritanya dari Ukraina saya harus ke Bandara Schipol Belanda dulu, kemudian lanjut penerbangan menuju ke Jakarta. Dari Kiev saya menggunakan maskapai Belanda, KLM. Masalah muncul karena saya tak mengantongi visa schengen. Padahal saat transit di Schipol saya perlu mengambil bagasi sehingga harus melewati pemeriksaan di imigrasi. Masalah serupa tak terjadi saat berangkat dari Tanah Air karena di pesawat Garuda Indonesia boleh membawa lebih dari satu tas ke kabin. Alhasil dua tas bawaan bisa masuk kabin dan tak perlu berurusan dengan bagasi di Schipol. Sedangkan di KLM ada peraturan setiap penumpang hanya boleh membawa satu tas ke kabin. Sempat terjadi perdebatan sengit antara saya dan tiga pegawai KLM. Saya ngotot ingin membawa kedua tas ke kabin, namun mereka bersikukuh menolak. Setelah adu argumen selama 15 menit, mereka akhirnya menawarkan solusi. Bagasi langsung di transfer ke Garuda saat di Schipol sehingga saya tak perlu berurusan dengan imigrasi. Saya langsung menarik napas lega!

Sudut Bandara Schipol. Tapi ini saat berangkat ke Ukraina. Lancar Jaya :)

Sudut Bandara Schipol. Tapi ini saat berangkat ke Ukraina. Lancar Jaya🙂

Sesampai di Schipol saya hanya hanya punya waktu jeda 2,5 jam ke penerbangan berikutnya. Mau tak mau harus buru-buru mencari loket transfer dan gate Garuda tujuan Jakarta. Di Schipol seluruh informasi terpampang jelas di papan informasi elektronik. Dari papan informasi saya harus transfer di T6 untuk check in. Tapi sesampainya di T6 tak ada loket Garuda Indonesia. Saya disarankan langsung ke Gate yang letaknya sekitar 15 menit berjalan kaki dari meja informasi. Saat itu saya sudah dua kali bertanya ke meja informasi dan dua kali bolak-balik ke T6.

Sesampainya di gate Garuda, suasananya sunyi senyap tak ada siapa pun. Kepanikan mulai mendera. Tak berapa lama kemudian beberapa penumpang tujuan Jakarta berdatangan dan sudah membawa tiket setelah check in di bagian depan. Lalu saya harus check in di mana, padahal waktu semakin mepet?? Sambil berlari-lari saya memutuskan kembali bertanya ke meja informasi yang jauhnya minta ampun. Sesampai di sana, sang petugas memandangi saya dengan heran. Ia kemudian menanyakan jam keberangkatan pesawat saya. “Saya sarankan sekarang juga anda kembali ke gate Garuda. Jika tidak kamu akan ketinggalan pesawat,” ujarnya tegas.

Tanpa membuang waktu saya langsung berlari secepat mungkin. Benar-benar bencana besar jika sampai ketinggalan pesawat. Dalam waktu 10 menit saya sudah sampai di gate keberangkatan pesawat Garuda dan para petugas maskapai sudah datang. Dengan napas ngos-ngosan saya bertanya apakah bisa check in di sana? Ternyata bisa! Tahu begitu dari tadi duduk manis saja di sana dan tidak perlu capek berlarian ke sana kemari. Huh! Tapi tak apalah, kadang kejadian-kejadian seperti ini yang justru membuat sebuah perjalanan menjadi berwarna serta menyenangkan untuk dikenang.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

4 Responses to Momen Traveling Tak Terlupakan

  1. turanggasp says:

    Kalau saya sih susah banget ngapalin jalan, jadi sering nyasar. Tapi malah ini nih yang bikin asyik pas nyasar di tempat baru, jadi banyak pengalaman😀

  2. viaphioo says:

    samaaa teledornyaa mbakk😀 pernah keguyur ombak dpantai siung smpe kamera rusakk,,, n hape masii dsaku celana ktika asyik bermain dpantai permisan nusa kambangan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: