Sekaten: Nostalgia Masa Kanak-Kanak

Bertahun-tahun silam ketika masih melakukan hal-hal konyol dalam balutan seragam merah-putih, ajakan ke Sekaten di Alun-Alun Utara Solo selalu menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu. Sekaten dalam bayangan masa lalu saya jelas bukan tentang rangkaian peringatan Maulud Nabi Muhammad dengan Grebeg legendaris sebagai puncak acara. Seorang anak kecil mana peduli dengan nilai budaya dalam prosesi Grebeg. Berangkat ke sekaten pada masa itu identik dengan berbelanja mainan dan barang-barang tradisional. Gangsingan alias gasing dan kapal othok-othok adalah dua benda yang tak boleh dilewatkan saat datang ke Sekaten. Saya pasti ngambek selama berhari-hari jika tak membawa pulang kedua mainan tersebut sebagai oleh-oleh. Untungnya, bapak saya selalu bersedia membelikannya. Maklum beliau juga merupakan penggemar berat gasing.

Gangsingan alias gasing

Gangsingan alias gasing

    IMG_1389     IMG_1392     IMG_1391 Bapak saya memperkenalkan teknik khusus dalam memainkan gasing. Beliau menyebutnya teknik Sundo. Jadi, dengan teknik tersebut gasing akan berputar sangat kencang. Di tengah-tengah putaran, gasing itu akan berbunyi “nguuuung” lumayan kencang. Jika tak berbunyi, maka teknik sundo-nya tak berhasil alias gagal total. Gasing ukuran kecil lebih ideal untuk mempraktikkan teknik ini dibanding yang ukurannya besar. Memainkan gasing memang butuh seni khusus. Susah-susah gampang. Beda gasing, beda juga kapal othok-othok. Bentuknya sederhana, harganya pun bersahabat di kantong. Nama othok-othok berasal dari bunyi yang dihasilkan kapal ketika bergerak. Mainan ini harganya hingga kini masih sangat terjangkau, cuma Rp5.000. Murah kan? Kapal ini terbuat dari kaleng dan berwarna cerah. Dulu bentuk kapal ini sangat konvensional, tapi sekarang sudah berkembang. Model terbaru yang saya temukan adalah kapal layar. Namun sistem pengoperasional mainan tersebut masih sama. Bahan bakarnya menggunakan minyak kelapa yang dituangkan ke kapas yang ditempatkan dalam wadah khusus di dalam kapal. Untuk menjalankannya, cukup dengan menyalakan kapas dengan korek api dan kapal akan bergerak lincah di air. Menyenangkan!

Kapal othok-othok

Kapal othok-othok

 IMG_1373   IMG_1371   IMG_1368

Barang ketiga yang pantang dilewatkan di Sekaten adalah celengan. Saya ingat pernah dibelikan celengan harimau super besar oleh bapak. Butuh waktu sekitar dua tahun untuk memenuhi celengan tersebut, itu pun dibantu penuh oleh bapak dan ibu. Mau tau gimana rasanya ketika celengan itu akhirnya penuh dan dipecah? Saya merasa seperti orang kaya mendadak, punya uang bejibun dan siap memborong barang-barang bagus di toko. Sayang, saya lupa berapa jumlah uang yang berhasil dikumpulkan di celengan macan super besar itu. Harga celengan macan besar masih lumayan terjangkau. Pedagang rata-rata menyodorkan harga Rp85.000. Tapi di Sekaten apapun bisa ditawar. Jika jago menawar, mungkin celengan itu bisa dibawa pulang dengan harga Rp50,000 atau Rp60.000. Adapun celengan buah-buahan berukuran kecil dilepas dengan harga Rp5.000.                   IMG_1384  IMG_1387 IMG_1385

IMG_1382

celengan

Dekade mungkin telah berganti. Tetapi kenangan terkuat saya tentang Sekaten tetap terfokus pada berderet mainan dan barang tradisional. Celengan, kapal othok-othok, gasing, dakon, gamelan mini dan sejenisnya. Berkunjung ke Sekaten tanpa membawa pulang satu dari berbagai benda tersebut sama saja dengan pergi ke Manchester tanpa mampir ke Old Trafford. Hambar. Sekaten saat ini sudah bermetamorfosis. Berbagai wahana permainan seperti Tong Setan, Bianglala dan Ombak Banyu kini menjadi primadona utama. Lapak penjual yang menyesaki Alun-Alun Utara juga didominasi barang dagangan modern, seperti aneka baju, sandal, mobil-mobilan dan boneka berbagai bentuk. Penjual mainan tradisional bukan lagi aktor utama. Untungnya, di tengah keterbatasan mereka masih bisa eksis. Kuncinya tak resisten terhadap perubahan. Kapal othok-othok tampil dalam bentuk lebih variatif. Begitu juga dengan celengan. Jika dulu bentuknya hanya hewan atau mirip kendi, kini pengunjung dapat menjumpai celengan beraneka rupa. Misalnya berwujud buah-buahan dan hewan-hewan dalam versi lebih centil. Penjual gasing juga masih bertahan, meskipun jumlahnya tak mencapai dua digit angka. Sekaten mungkin akan terus berubah mengikuti roda zaman. Namun di mata saya, Sekaten selamanya bakal menjadi ajang nostalgia masa kanak-kanak. Celengan, gangsingan dan kapal othok-othok!

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

2 Responses to Sekaten: Nostalgia Masa Kanak-Kanak

  1. dee nicole says:

    Enak mrene nek awan menjelang sore. Opo sore menjelang peteng. Sirahku kliyengan nek untel-untelan. Opo meneh gowo bayek telu. Siji njaluk mrene siji njaluk mrono. Hadeehh.. Tapi wajib memang. Biar Besok-besok mereka juga punya kenangan masa kecil tentang sekaten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: