Pecel Wader Waduk Cengklik

Ketika sedang “khilaf” ingin berolahraga, saya biasanya memilih bersepeda. Menyenangkan, bikin segar dan tidak secapek joging. Jujur sih saya gak punya sepeda. Jadi, kalau tiba-tiba pengen sepedaan, terpaksa ribut ke sana kemari mencari pinjaman (gak modal banget ya).  Rutenya pun yang landai-landai saja, salah satunya Solo-Waduk Cengklik.Hmmm jaraknya sekitar 5 km sepertinya…

Ini tampilannya pecel  wader

Ini tampilannya pecel wader

Ngomongin Waduk Cengklik, kurang lengkap rasanya menyambangi tempat wisata di Ngemplak, Boyolali itu, tanpa menikmati pecel wader. Sejak era 1990-an makanan ini telah menjadi ikon kuliner di kawasan wisata waduk tersebut. Hampir semua warung makan yang berjejer di pinggiran waduk menyediakan menu ini. Meskipun mereka juga menjual makanan-makanan lain seperti soto, tetapi pecel wader tetap menjadi incaran utama. Penasaran?

Cita rasa pecel di pinggiran Waduk Cengklik ini sebenarnya tak jauh beda dengan di tempat lain. Yang membuat beda adalah lauk pendampingnya, yaitu wader. Ciri khas ikan wader di kawasan Waduk Cengklik ini adalah kerenyahannya. Alhasil, wader yang disajikan bisa dimakan sekalian dengan duri-duri di dalamnya. Ajiiib…

Saya punya warung pecel wader langganan di sana, milik mbak Siti. Warungnya terletak di ujung timur dari berderet tempat makan sejenis di kawasan Waduk Cengklik. Mbak Siti orangnya lumayan supel. Jadi jangan heran warungnya selalu ramai, apalagi pas akhir pekan. Mbak Siti mengaku sudah berjualan di sana sejak 2012, alias 11 tahun silam. Betah banget ya jualan pecel wader🙂

Selain perseorangan yang memang sedang berwisata ke Waduk Cengklik, deretan warung Pecel Wader tersebut kerap diserbu rombongan bersepeda. Mereka biasanya mampir mengisi perut sembari melepas lelah. Rombongan pesepeda ini biasanya nongol tiap akhir pekan. Jumlahnya bisa belasan sampai puluhan orang. Rentang umurnya pun bervariasi, mulai dari yang masih ABG sampai yang sudah senja. Pokonya semuanya ada,,,,lengkap!

Mbak Siti pernah bercerita biasanya para pembeli minta wader digoreng garing. Jika kondisi ikannya masih agak basah, biasanya minta digoreng lagi. Pembeli yang menjadi langganan di warung miliknya mayoritas berasal dari Solo dan daerah-daerah lain seperti Klaten dan Semarang.

Daya tarik lain dari kuliner khas Waduk Cengklik ini adalah harganya yang ramah di kantong. Satu porsi pecel wader hanya dibanderol senilai Rp6.000. Jika ditambah es teh atau es jeruk, pembeli hanya perlu merogoh kocek Rp 8.000. Tak heran, makanan ini disukai oleh para pegawai hingga anak sekolah. Belum lagi ditambah suasana yang nyaman dan tenang di pinggiran waduk. Cocok untuk bersantai melepas lelah atau menyegarkan pikiran. Cocok deh buat agenda kulineran saat kantong lagi kering. Mau coba?

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

4 Responses to Pecel Wader Waduk Cengklik

  1. nyonyasepatu says:

    ahhhhhhhh wader, jadi pengen🙂

  2. yusmei says:

    nyam-nyam lho …ayo main ke solo mbak, takanterin ke sini dan makan wader sepuasnyaaa :):)

  3. Aaah jadi kangen kayaking sambil sunsetan disini….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: