Pesan Damai dari Iran

Semburat jingga penanda datangnya senja di ufuk barat entah mengapa tak kunjung muncul. Justru mendung yang datang beriringan menyapu damainya langit biru. Harapan bercengkerama dengan sunset sepertinya harus dilupakan.

Untunglah laut Gili Trawangan Lombok selalu setia menyuguhkan keindahan. Kemanapun memandang, mata dimanjakan kilauan laut biru. Ombak enggan menjadi pengganggu. Mereka datang dan pergi dengan porsi pas. Laut terasa  tenang dan damai.

Gili Trawangan

Gili Trawangan

Berada di tempat seeksotis Gili Trawangan, tak mungkin menyia-nyiakan sore dengan berdiam diri di kamar. Saya dan empat sahabat memutuskan menjemput senja sembari berharap keajaiban datang dan menghalau mendung di langit. Perlahan kami mengayunkan langkah menyusuri pantai. Berjalan ke arah matahari terbenam, mencari bagian pantai tenang, jauh dari hiruk pikuk turis asing.

Tanpa sadar, saya mulai tertinggal di belakang. Langkah saya mungkin terlalu lamban dan akhirnya menciptakan rentang. Jarak yang belakangan disyukuri karena menjadi pengantar sebuah perkenalan. Di tepi pantai Gili Trawangan yang indah sore itu, saya bertemu pasangan luar biasa dari Iran. Mereka tiba-tiba sudah muncul dari belakangan menjejeri langkah saya. Seperti sebuah petikan lagu, tak ada kebetulan di dunia ini. Saya yakin pertemuan dengan pasangan dari Iran itu pasti ada artinya.

Sembari melempar senyum, refleks mata saya mengamati mereka. Dilihat dari tampilan fisiknya, mereka mungkin berusia sekitar 65-70 tahun. Namun, tak ada tanda-tanda kelemahan karena gerusan usia. Keduanya tampak bahagia menghabiskan hari tuanya dengan berkelana, menepi dari Iran dan segala ceritanya. Jangan tanya siapa nama mereka, saya tidak tahu. Kami terlalu sibuk mengobrol hingga melupakan aturan dasar sebuah perjumpaan : menanyakan nama!

“Kamu orang Indonesia?” tanya sang perempuan membuka obrolan. Wajahnya masih memamerkan gurat-gurat kecantikan meski usia telah menggerogoti.

“Ya saya orang Indonesia. Dari Jawa tepatnya. Anda berdua dari mana?” saya balik bertanya.

Sang perempuan menjawab. Selama sekitar 20 menit percakapan kami, memang dia yang aktif merespons. Sang suami lebih suka menyimak sembari sesekali menimpali. “Kami dari Iran.” timpal sang perempuan.

Saya langsung tersenyum . Dalam hati saya sangat bahagia bertemu pasangan dari Iran ini. Sejak dulu, Iran adalah sekeping impian. Sebelum bersentuhan langsung dengan negeri Persia tersebut, nasib menggariskan saya terlebih dahulu bertemu dengan pasangan Iran tersebut.

“Kamu seorang muslim?” tanya dia. Lagi-lagi saya mengangguk. “Saya juga seorang muslim. Kamu muslim biasa atau sangat taat?” sambung sang perempuan Iran tersebut. Sepertinya arah pembicaraan mulai terbaca. “Lihatlah saya dan Anda pasti bisa tahu jawabannya. Saya seorang muslim biasa saja. Tak ada yang istimewa,” sahut saya yang sore itu mengenakan sehelai kaus santai dan celana pendek warna cokelat.

Sesuai tebakan, mereka kemudian menyebut terorisme. Topik ini memang tak ada habisnya untuk dibahas. Apalagi di luar sana, Indonesia memang kerap diidentikkan sebagai salah satu sarang teroris. Label yang hingga kini terasa sangat mengganggu.

“Saya banyak mendengar tentang aksi terorisme di negara ini. Saya seorang muslim dan saya sangat mencintai Islam. Tapi saya tidak pernah setuju dengan aksi terorisme dengan alasan agama, apapun agamanya. Untuk apa menebarkan kebencian dan teror jika di satu sisi sebenarnya kita semua bisa hidup berdampingan dengan damai. Indonesia dan negara-negara lain punya hak untuk hidup tenang tanpa diganggu aksi-aksi teror itu,” ujarnya.

Saya hanya mengangguk mengiyakan pernyataannya. Nyaris tak ada yang salah dengan rentetan kata-kata itu. “Sebagai seorang muslim, semestinya kita harus bisa menunjukkan bahwa agama ini sarat dengan pesan perdamaian. Bahkan Nabi Muhammad punya mertua seorang Yahudi dan dia sangat menghormatinya sampai mertuanya meninggal. Saya lelah dengan segala konflik karena agama atau perbedaan lainnya. Tidak bisakah kita hidup tenang dan damai berdampingan di tengah perbedaan?”

Sebenarnya ini pertanyaan retoris. “Semoga bisa,” jawab saya singkat. Pertanyaan sejenis sudah lama mengganggu pikiran saya. Mengapa harus ada pertumpahan darah di dunia ini hanya karena perbedaan agama, warna kulit, negara, bahkan hanya karena silang pendapat? Bukankah kedamaian selalu ada dalam kotak pilihan? Bukankan Tuhan memang sengaja menciptakan perbedaan supaya manusia belajar tentang toleransi? Entahlah. Dunia ini kadang memang sulit dimengerti. Mungkin sampai akhir zaman pertanyaan ini tak akan mendapatkan terjawab.

Topik pun beralih. “Saya ingin sekali mengunjungi Iran,” tukas saya. Mereka berdua terkejut. “Apa yang ingin kau cari di Iran. Indonesia ini surga, kamu bisa menemukan segala keindahan di sini. Pantai, pegunungan, semuanya ada. Negeri saya tak ada yang menarik. Ketenangan juga tak selalu ada. Golongan konservatif dan reformis selalu mau menang sendiri. Pemerintah kami juga keras. Apa yang ingin kau lihat di sana?”

Dengan bahasa Inggris yang belepotan, saya berusaha menjelaskan alasan ingin mengunjungi Iran. Sejujurnya saya hanya ingin lebih mengenal Islam, agama saya. Rasanya itu keinginan wajar bagi seorang muslim. Membaca dari buku  sepertinya tidak cukup.

Sejak dulu konflik antara Islam Sunni dan Syiah tak ada habisnya. Sebagai seorang yang terlahir di tengah lingkungan muslim sunni seperti di Indonesia, saya tak banyak tahu tentang syiah. Baru beberapa tahun terakhir saya mulai sedikit tahu tentang perbedaan kedua aliran tersebut. Iran adalah negara dengan mayoritas penduduk pemeluk Islam syiah. Mengenal langsung masyarakat di sana adalah alternatif menarik untuk mengenal Islam syiah. Berinteraksi dan belajar memahami secara langsung menurut saya adalah salah satu cara terampuh menghilangkan prasangka negatif. Dengan alasan itu pula saya memasukkan Iran ke dalam daftar 10 Place to See Before I Die.

Senja tanpa jingga

Senja tanpa jingga

“Baiklah, semoga kamu bisa memujudkan impianmu datang ke negara kami. Dan mari berdoa dan berusaha agar dunia selalu damai,” ucap sang perempuan dengan bijak.

Kami akhirnya berpisah. Saya melanjutkan langkah memburu sunset, sedangkan pasangan Iran yang ramah tersebut berbelok masuk ke penginapan mereka. Sayang sekali, sore itu kami gagal menyaksikan sang surya masuk ke peraduan. Namun pesan damai dari pasangan Iran tersebut membuat hati saya terasa hangat.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

6 Responses to Pesan Damai dari Iran

  1. aning says:

    “dengan bahasa inggris belepotan…” hahahaha so us, sekali! *yang jelas, tak membuat kita ngeper saat ngobrol dengan orang asing*

  2. Gili trawangan…
    wah udah lama banget gak kesana…😦

    dan emang…konflik sunni syiah gak nemu titik temu😦

  3. yusmei says:

    Gili Trawangan tetep rame dengan turis asing, sayang bagian pantai sebelah barat lumayan kotor….konflik sunni-syiah mungkin gak akan pernah selesai sampai kapanpun ya mbak😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: