Melarung Lilin Harapan

Lilin di wadah kertas mengapung di permukaan sungai (Foto By Akbar Nugroho Gumay)

Lilin di wadah kertas mengapung di permukaan sungai
(Foto By Akbar Nugroho Gumay)

Belum apa-apa saya sudah waswas ketika melihat tampilan sampan kayu yang seliweran di sungai ini. Sekali lagi saya menimbang-nimbang. Menyusuri sungai dengan sampan sederhana itu agak mengkhawatirkan, apalagi saya tak bisa berenang. Sampan tradisional itu juga tak dilengkapi pelampung. Kalau sampai oleng atau terbalik, habislah sudah.

Namun, hasrat merasakan pengalaman baru akhirnya mengalahkan kekhawatiran. Saya memutuskan harus mencoba menyusuri sungai di jantung kota tua Hoi An, Vietnam, ini bersama tiga sahabat , Aning, Krisna dan Akbar, serta ayah Aning. Mungkin kesempatan ini tidak akan datang dua kali.

Seperti lazimnya kawasan kota tua, Hoi An yang dikenal sebagai salah satu kota paling romantis di Vietnam ini tak bisa dipisahkan dari sungai. Sejak zaman dahulu sungai merupakan salah satu sumber kehidupan manusia dan hewan-hewan di sekitarnya. Tak heran, banyak kebudayaan kuno yang dimulai dan berlangsung puluhan, ratusan hingga ribuan tahun di tepi sungai. Hoi an termasuk salah satunya. Sungai Bach Dang adalah salah satu spot utama di kota tua indah dan tenang di Vietnam Tengah tersebut.

Ketika bertanya kepada salah seorang pegawai di tempat kami menginap, Dai Long Hotel, saya baru tahu sungai itu sebenarnya bernama Thu Bon. Namun karena berada di kawasan Bach Dang, sungai tersebut akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Bach Dang. Saat sore hingga malam tepian Sungai Bach Dang menjadi atraksi menawan. Turis asing dan warga lokal berbaur menikmati syahdunya Hoi An. Sungai Bach Dang adalah nyawa Hoi An. Jembatan bertabur lampion, pantulan sinar lentera khas Hoi An, sampan kayu, percakapan akrab antarsabahat, makanan lezat dan wajah-wajah menarik dari berbagai bangsa. Sempurna

Senja di jembatan

Senja di jembatan

Bareng

Bareng

Setelah sepakat ingin naik sampan menyusuri sungai, hal pertama yang kami lakukan adalah menanyakan tarifnya. Ternyata ini bukan pekerjaan mudah. Pemilik sampan tidak bisa berbahasa Inggris. Beruntung di dekat kami ada serombongan anak muda Vietnam yang lumayan jago berbahasa Inggris. Mereka dengan senang hati menjadi penerjemah percakapan kami dengan bapak pemilik sampan. Biaya sewa sampan 70.000 VND atau sekitar Rp35.000. Karena kami berlima, masing-masing hanya kena tarif Rp7.000. Murah!

Sebelum naik perahu kami membeli bekal yang akan menemani perjalanan susur sungai ini. Barang tersebut berbentuk lilin yang diletakkan dalam wadah kertas seperti “takir” berwarna-warni. Sebenarnya agak terpaksa juga membeli barang tersebut gara-gara terus dibujuk oleh penjual yang banyak berseliweran di tepian sungai. Harganya pun murah, hanya 5.000 VND atau sekitar Rp2.500. Ketika mengedarkan pandangan ke sungai, terlihat banyak cahaya berkerlap-kerlip di permukaan air. Itu adalah cahaya dari lentera kertas yang dilarungkan di sepanjang sungai tersebut.

IMG_0233

Sampan kami

Terpesona (Foto by Akbar Nugroho Gumay)

Terpesona
(Foto by Akbar Nugroho Gumay)

Setelah berhasil naik ke sampan dengan agak deg-degan, susur sungai dimulai. Matahari sudah lama kembali ke peraduan digantikan kegelapan. Sampan bergerak pelan. Laju sampan yang seperti merangkak membuat kami leluasa menikmati suasana sekitar. Sebenarnya saya masih menahan rasa takut. Bergeser tempat duduk saja nyaris tidak berani karena takut sampannya oleng dan kemudian terbalik. Tetapi pemandangan indah di depan mata membuat rasa takut perlahan lenyap. Kami berlima dibuat terpesona oleh indahnya bangunan-bangunan kuno, kafe dan toko suvenir yang berdiri anggun di tepian sungai. Hoi An pada dasarnya adalah campuran unik Timur dan Barat dalam bentuk arsitektur kota tua. Lentera yang dipasang di bangunan-bangunan tepian sungai memendarkan cahaya dan memantul dengan warna keemasan di permukaan air.

Sungai Bach Dang ini juga menjadi titik berkumpul. Tua-muda menyesaki kursi-kursi pendek, mayoritas berwarna merah, yang ditata para penjual makanan di tepian sungai. Segelas kopi, makanan pengisi perut dan cerita hidup menghangatkan suasana malam. Sayang sekali, ketika perahu bergerak makin ke barat, terdengar suara musik berdentum-dentum yang merusak ketenangan, mungkin berasal dari tempat hiburan malam.

Bercahaya (Foto by : Akbar Nugroho Gimay)

Bercahaya
(Foto by : Akbar Nugroho Gumay)

Cahaya lentera

Cahaya lentera

Sambil mendayung, pemilik sampan menghibur kami dengan nyanyiannya. Lagunya asing di telinga karena berbahasa Vietnam. Anggap saja nyanyian sang bapak berbahasa Italia, sembari membayangkan menyusuri lorong-lorong magis di Venezia, Italia. Tapi, rasanya ini malah lebih romantis karena kami bersampan di bawah siraman cahaya lentera dan uniknya arsitektur Hoi An.

Setelah sampan meninggalkan titik-titik keramaian, kami memutuskan inilah saatnya melarung lilin-lilin berwadah kertas. Lilin-lilin serupa sudah banyak bertebaran di sekitar sampan. Saya tidak tahu dengan pasti cerita di balik tradisi tersebut. Lilin-lilin berwadah kertas itu mungkin perwujudan harapan, mimpi, doa dan cinta. Entahlah. Namun, saat melepaskan lilin ke aliran sungai, saya pun menitipkan sepenggal harapan sederhana. Semoga suatu saat nanti kota-kota tua di Indonesia bisa bersolek dan berbinar seperti Hoi An. Jika Vietnam bisa menata Hoi An menjadi begitu indah, mengapa kita tidak bisa?

Hoi An, Oktober 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

14 Responses to Melarung Lilin Harapan

  1. omnduut says:

    Selama di Vietnam sempat kena ‘jebakan betmen’ nggak?

  2. nyonyasepatu says:

    Foto bercahaya itu bagus yaa

  3. aning says:

    jadi, kapan kita ke sana lagi?😀

  4. DianRuzz says:

    Aku selalu suka dan terkesan dengan paragraf terakhir dalam postinganmu mbak Mei😀

    • yusmei says:

      gregetan banget mbak Dian kalau liat Hoi An….kenapa Indonesia gak bisa memaksimalkan kota2 tua yang ada di sini…padahal potensinya sama😦

  5. buzzerbeezz says:

    Ahhh.. Kurang seru ceritanya. Harusnya sampannya oleng.. terus terbalik.. terus mbak Yusmei kecebur dong.. Megap-megap karena gak bisa berenang.. Terus ada ditolong oleh cowok Vietnam ganteng gitu.. Terus happily ever after deh.. Hahaaha..

    • yusmei says:

      hahahahha sial…sesama orang gak bisa renang dilarang saling mem-bully…tapi boleh juga tuh yang bagian ditolong cowok vietnam ganteng,…wkwkwk

  6. Cumi MzToro says:

    seru juga malam2 naik sampan menyusuri sungai🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: