Mencemburui Hoi An

Old House

Old House

Menapaki sudut-sudut Hoi An bagaikan memasuki dimensi lain Vietnam. Waktu terasa berjalan lebih lambat. Tak ada pemandangan hiruk pikuk ratusan motor seperti yang lazim ditemui di jalanan Ho Chi Minh. Ketenangan dan keramahan khas kota kecil begitu dominan. Kota yang tidak memiliki bandara dan stasiun kereta api ini juga mengakomodasi para pemburu romantisme. Cantik dan syahdu.

Jantung Hoi An adalah kawasan kota tuanya. Jejak-jejak peninggalan masa lampau dari abad ke-15, 16 dan 17, terpelihara baik dan masih berdiri anggun. Tak heran, Hoi An dinobatkan sebagai salah satu Warisan Dunia oleh UNESCO. Selintas pandang, saya langsung bisa memahami mengapa kota ini layak menyandang predikat itu.

Seperti mayoritas tata kota tua, lorong-lorong sempit mendominasi Kota Tua Hoi An. Akulturasi budaya terekam jejaknya melalui arsitektur bangunannya yang unik, makanan dan keberadaan sutra yang menjadi ikon Hoi An. Jembatan Jepang, rumah tua khas China, bercampur dengan bangunan berciri khas Vietnam dan Prancis. Barat dan Timur berpadu. Konon, Hoi An pernah menjadi pelabuhan perdagangan penting di Asia Tenggara. Bisa dibilang kota kecil di Vietnam Tengah ini menjadi saksi bisu pergerakan manusia dari berbagai bangsa dengan bermacam-macam tujuan.

Jalanan kota tua

Jalanan kota tua

 IMG_0212  IMG_0367 IMG_0462

IMG_0383

Suasana Hoi An malam hari benar-benar memikat dan penuh warna. Sinar lentera berpendar indah dari setiap sudut kota tua seolah berlomba memanjakan mata para penikmatnya. Saya dan tiga sahabat-Aning, Krisna dan Akbar-serta bapak Aning, dibuat terpesona oleh keelokan Hoi An. Rasanya setengah tak rela ketika harus meninggalkan semua itu untuk sejenak kembali ke penginapan. Keseokan harinya, kami pun bersemangat mengenal Hoi An lebih dekat.

 IMG_0209     IMG_0269  IMG_0254

Sentra penjualan lentera

Sentra penjualan lentera

Jika ingin mengeksplor bangunan-bangunan di dalam kota tua, pengunjung diharuskan membeli tiket seharga 90.000 VND atau sekitar Rp45.000. Tiket ini hanya berlaku untuk memasuki lima tempat dari total 18 titik atraksi di Hoi An, yang terdiri atas landmark, old house (di antaranya Tan Ky, Quan Thang, dan Phung Hung), assembly hall, museum (antara lain museum keramik, kebudayaan rakyat, sejarah dan budaya Say Huynh) pertunjukkan kesenian tradisional dan tempat kerajinan tradisional. Saat itu kami menggunakan tiket itu untuk melihat Jembatan Jepang yang menjadi ikon Hoi An, satu museum, sebuah rumah tua dan dua tempat pertemuan.

Menapaki jalanan kota tua Hoi An pada siang hari menumbuhkan sensasi unik. Tanpa kendaraan bermotor, berjalan kaki terasa nikmat, udara pun terasa segar meski mentari bersinar terik. Toko-toko cenderamata berarsitektur kuno berjejer rapi di beberapa sudut kota. Yang menarik, keberadaan toko-toko tersebut sama sekali tak mengintimidasi kami untuk mampir membeli. Ciri lain yang tak kalah mencolok adalah bertebarannya tailor atau tempat pembuatan jas dan baju khas Vietnam, yang menawarkan hasil bagus, cepat dan murah. Benarkah hasil bagus dan awet? Silahkan coba sendiri.

Jembatan Jepang

Jembatan Jepang

 IMG_0366 IMG_0382  IMG_0386

IMG_0473

Di pasar Hoi An

Di pasar Hoi An

Mengukur baju di tailor hoi an

Mengukur baju di tailor hoi an

Ciri khas lain Ancient Town Hoi An adalah warna kuning. Saya mengamati sebagian besar bangunan tua dicat dengan warna itu, mulai rumah kuno, toko cenderamata, kios penjual tiket hingga museum. Pasar tradisional juga tampil ngejreng dengan polesan cat kuning. Bahkan gadis penjaga loket tiket, penjaga rumah tua hingga para penjahit dan pegawai di tempat kerajinan sutra juga memakai baju kuning. Saya agak menyesal tak sempat menanyakan sejarah di balik warna kuning Hoi An kepada penduduk setempat.

Dua hari bercengkerama dengan Hoi An membuat saya terpikat. Panggilan untuk kembali kadang muncul tanpa diundang. Hoi An adalah kota kecil dengan pesona besar, menawarkan keunikan dan kenyamanan untuk pelancong. Tak heran, Hoi An nyaris tak pernah pernah sepi dari pejalan berbagai bangsa. Tradisi dan modernitas berkolaborasi dengan manis. Galeri seni, pagoda, rumah tua, bersisihan rukun dengan kekinian berwujud restoran, kafe dan toko-toko suvenir.

IMG_0223

Cafe di Tepi Sungai Hoi An

Bareng

Bareng

Di Old House

Di Old House

Sembari mengagumi keelokan Hoi An, tak urung muncul setitik kegetiran. Jujur saya cemburu melihat gemerlap Hoi An. Kota tua di Vietnam Tengah ini dilentarikan dengan baik, terawat dan cantik. Pesonanya berimbas dengan berbondong-bondongnya wisatawan ke sana. Namun, semua itu tak membuat Hoi An kehilangan identitas. Poin utamanya adalah melestarikan semua aset sejarah itu, sedangkan kedatangan wisatawan adalah bonusnya. Pemerintah Vietnam tampaknya paham benar dengan konsep itu. Tuntutan mendatangkan devisa dari sektor pariwisata di Hoi An dijalankan dengan porsi yang pas. Wisatawan datang, tapi tradisi dan identitas masih terpelihara. Tentu saja saya tak menafikkan imbas dari arus besar pejalan ke Hoi An. Tapi sekali lagi, Vietnam bisa menangani hal itu dengan cukup baik.

Mau tak mau saya membandingkan dengan kondisi kota-kota tua di Indonesia. Memang belum banyak yang saya kunjungi, tapi beberapa sepertinya cukup mewakili. Kota Tua di Jakarta dan Kota Lama di Semarang bisa menjadi contoh bagaimana nasib ancient town di Tanah Air. Berdiri di tepi, agak terabaikan. Jangankan bersolek dan menjadi magnet bagi wisatawan, untuk bertahan pun butuh perjuangan. Saya merasa miris ketika mendapat cerita bahwa salah satu bangunan di Kota Lama Semarang belum lama ini ambruk karena rapuh. Saya juga kecewa ketika mendapati Kota Tua di Jakarta kurang terurus. Padahal kota-kota tua adalah harta karun dan bagian identitas bangsa ini.

Ketika berkunjung ke Lasem, Rembang, pertengahan Maret lalu, saya antusias menunjukkan foto-foto perjalanan di Hoi An kepada Pak Toro, Pak Yono dan Mas Pop. Mereka adalah motor penggerak Forum Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem, yang bercita-cita menjadikan kota tua kaya sejarah itu sebagai Kota Pusaka Dunia. Tujuan saya menunjukkan foto-foto itu bukan mengajak mereka menjiplak mentah-mentah konsep kota tua Hoi An. Saya hanya ingin berbagi cerita bahwa kota tua bisa menjadi aset besar jika digarap dengan benar. Lasem punya potensi itu, meski membutuhkan proses panjang. Keberadaan sosok-sosok seperti Pak Toro, Mas Pop dan Pak Yono membuat saya punya harapan suatu saat nanti bakal melihat Lasem bisa berdiri sejajar dengan deretan kota tua tersohor dunia. Tentu saja cetak biru pelestarian pengembangan Lasem tidak bisa asal mengekor Hoi An atau kota-kota tua tersohor lainnya. Konsep pengembangan Lasem harus sejalan dengan kultur dan budaya mereka. Sekali lagi, jika akhirnya banyak wisatawan datang, itu adalah bonus.

Untuk urusan ini, kita tak perlu malu belajar dari Vietnam. Negeri yang bersatu jauh setelah Indonesia merdeka itu nyatanya cukup cakap melestarikan warisan sejarah dan budayanya, yang akhirnya berimbas terhadap meningkatnya kunjungan wisatawan. Hoi An adalah salah satu buktinya. Dan mencemburui Hoi An adalah salah satu cara saya mengekspresikan kecintaan terhadap Negeri Khatulistiwa nan elok ini. Sesederhana itu.

Vietnam, Oktober 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

17 Responses to Mencemburui Hoi An

  1. rintadita says:

    huhuhu bagus ya Hoi An, pengen kesana😀

  2. Fahmi Anhar says:

    judulnya artikelnya sentimentil sekali ibu :p

  3. nyonyasepatu says:

    Ada alasan balik ke viet

  4. omnduut says:

    Suka sekali tulisan ini🙂

  5. DianRuzz says:

    Bisa banget milih judulnya hehehehehe😀
    kota tuanya cantik sekali, jd pengen ksana … Yg keren dsana tdk hanya obyeknya, tetapi bagaimana mereka mengemas kota tua menjadi menarik untuk dikunjungi juga kereeeen!

    Sekali lagi, paragraf terakhirmu “gong”-nya pas banget mba *dari tadi penasaran dengan isi paragraf terakhir*

    • yusmei says:

      ayo mbak dian kita menabung trus ke sana. Aaah semoga kota2 tua di indonesia segera berbenah, jadi kita gak usah jauh2 sampai vietnam. Paragraf terakhirnya udah mengalami editan berulang kali mbak, kayakya kurang pas terusss :):)

  6. buzzerbeezz says:

    Aku mau bikin judul postingan ahh.. Mencemburui Yusmei. Cemburu karena udah jalan2 sampe Hoi An!!

  7. Dari judulnya kupikir cerita romantisme ketemu jodoh di Hoi An…ternyata cemburu sama kotanya hehe… Tulisan bagus, jadi tambah ngiler pingin ke sana🙂

  8. Pingback: Motoran Santai Keliling Da Nang | Usemayjourney

  9. Nank Rado says:

    walah..marai pengen mrono🙂 terima kasih share perjalanannya ke hoi an…coba ke hue city juga..katanya juga bagus lho🙂.eh aku dapat alamat blogmu dari via (erviana ratih hapsari) anak paklek ku..salam kenal

    • yusmei says:

      Dulu rencananya juga mau ke Hue City, tapi waktunya gak cukup. Akhirnya cuma ke Hoi An dan Da Nang. Oooh dari via…berarti kita saudara jauh banget ya,…hehe. Salam kenal juga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: