Kopi Lelet Memang Istimewa

IMG_1911

Kadang saya iri dengan para penikmat kopi. Mereka tahu betul bagaimana seni menikmati cita rasa minuman pahit berwarna hitam pekat itu. Bahkan bagi sebagian orang, secangkir kopi bisa mendatangkan inspirasi.

Saya sendiri bukan penikmat kopi, bahkan bisa dibilang menghindarinya. Kopi sepertinya tidak ditakdirkan bersahabat dengan saya. Jika nekat, efeknya adalah perut yang melilit perih atau kepala berat seperti habis dihantam bogem mentah. Meski tahu konsekuensi yang harus ditanggung, kadang saya nekat bercumbu dengan kopi. Tentu harus dengan alasan spesial, salah satunya seperti saat berada di Lasem.

Saat diajak mengunjungi sebuah warung kopi lelet di Lasem, pertengahan Maret lalu, saya tak bisa menahan godaan. Nongkrong di warung kopi lelet bukan melulu soal menikmati secangkir minuman, tapi juga sarana menyelami jati diri Lasem dan masyarakatnya. Warung kopi lelet mudah dijumpai di sudut-sudut Lasem. Rata-rata setiap desa memiliki sekitar lima warkop (warung kopi) atau jika ditotal jumlahnya mencapai lebih dari 100 buah. Lasem dan kopi bisa dibilang seperti sepasang kekasih yang tak terpisahkan.

Mas Pop, pemandu kami selama di Lasem dari Rembang Heritage Society, mengajak saya dan teman-teman seperjalanan ke sebuah warung kopi lelet sederhana di Jalan Karangturi, Desa Karangturi, salah satu kawasan Pecinan di Lasem. Pemiliknya seorang keturunanan Tionghoa, Pak Karjin, yang berpembawaan ramah. Siang itu warung kopi tersebut cukup ramai. Sadar bukan penggemar kopi, saya tidak memesan sendiri, cukup mencicipi beberapa teguk dari cangkir Nenny teman saya. Untuk diri sendiri, saya mantap memesan segelas es teh untuk mengusir dahaga yang menggigit setelah berpanas-panas menelusuri lorong-lorong Desa Karangturi.

Apa yang membedakan kopi lelet dengan kopi Aceh, Vietnam, Lampung atau yang lain? Cita rasanya mungkin tak jauh beda, apalagi buat orang yang buta kopi seperti saya. Ciri khas kopi lelet Lasem terletak pada ampasnya. Ampas itulah yang menjajikan kenikmatan lanjutan. Para penikmat kopi lelet kerap menggunakan ampas itu untuk menambah cita rasa rokok. Caranya dengan mengoleskan ampas kopi di batang rokok. Namun, pengolesannya tidak sembarangan. Nah, kebetulan di warung tersebut ada seorang pengunjung yang dengan suka rela menunjukkan kepada kami cara ngelelet.

IMG_1919

Kami pun langsung mendekat dan mengamati dengan super penasaran. Pertama-tama bapak tersebut mengambil sebuah tusuk gigi. Kemudian dengan mantap mencelupkannya ke ampas kopi yang sudah dituang ke piring kecil dan dicampur susu kental supaya gampang menempel ke batang rokok. Nah, ampas kopi yang terambil tersebut kemudian dioleskan ke batang rokok. Gerakannya sangat lincah, sehingga saya hanya bisa terpana. Tak berapa lama, gambar yang berasal ampas kopi pun mulai berbentuk jelas. Pola batik! Dalam beberapa menit sudah berjejer batang-batang rokok berhias gampar pola batik. Sungguh indah.

Fenomena rokok dan lukisan ampas kopi membuktikan budaya membatik memang sudah mengalir di nadi masyarakat Lasem. Lasem adalah batik dan batik adalah Lasem. Batik Lasem kualitasnya tak perlu diragukan, pantas berdiri sejajar dengan batik dari Solo, Jogja maupun Pekalongan. Konon, rokok yang diolesi ampas kopi ini cita rasanya bakal lebih sedap. Penasaran? Silahkan buktikan sendiri.

Namun, keistimewaan warung kopi lelet tak berhenti sampai di situ. Menurut Pak Toro, tokoh Forum Komunikasi Masayarakat Sejarah (Fokmas) Lasem, warung kopi lelet memainkan peran penting dalam menjaga harmonisasi di Lasem. Di warung sederhana tersebut masyarakat Jawa dan Tionghoa berinteksi, bertukar kata dan berdialektika. Lewat interaksi intens, kerukunan antaretnis di Lasem pun terus terpelihara meski generasi terus berganti. Ahh…inilah akar Indonesia yang sesungguhnya, bukan negeri yang mulai digerogoti virus intoleransi seperti sekarang ini.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

45 Responses to Kopi Lelet Memang Istimewa

  1. buzzerbeezz says:

    Kalau aku membatik di sarung bantal mbak.. pake iler. Hahaha..

  2. ngakak baca komentar yg diatas😀

  3. DianRuzz says:

    Dan waktu itu aku juga lebih memilih segelas es teh darpada secangkir kopi. Agak nyesel karena ga ikut incip2 kopinya😦

  4. Hanggar PS says:

    Budaya batik tidak mengenal kain saja tapi ternyata di media rokok pun bisa hahahaha

  5. kemaren pas saya beli es di sebuah warung di deket rumah…
    ada seorang bapak yang sedang melelet rokok dengan ampas kopi….

  6. nyonyasepatu says:

    Keren bgt,aku punya temen yg bs ngelelet jg. Cakep yaa

  7. garayy says:

    lama gak nglelet…

  8. pernah baca ini di lasem trip, temennya mbak azizah ya mbak hehe

  9. Erit07 says:

    Saya sekarang malah ketagihan kopi…

  10. johanesjonaz says:

    salah satu budaya di INdonesia lho.. #bangga

  11. Kalo di gresik nama nya NYEPET ROKOK, dan sampai sekarang masih banyak banget yg melakukan itu di warug2 kopi. Ayo kapan ke gresik ????🙂

    • yusmei says:

      wah menariiik, katanya di Tulungagung juga ada…beneran nih, ntar kapan2 main ke gresik deh. Bisa dianter kan nongkrong di warung kopi? *ngelunjak🙂

  12. Fahmi Anhar says:

    leleti aku kak, leleti aku!! | #apeu #ngaco

  13. noe says:

    Waah uniikkk. Jadi pingin ke lasem😉

  14. Salah satu seni warung kopi…sayang gak ngerokok nih..hehe

    • yusmei says:

      katanya di Tulungagung juga ada seni melukis rokok dengan ampas kopi gini mas..iya, sama juga tidak merokok…jadi gak tahu rasanya kayak apa…:)

  15. wah jadi pengen ke lasem nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: