Diramal di Hok An Kiong

image

Kelenteng Hok An Kiong

Hidup konon penuh dengan kejutan. Seperti pengalaman tak terduga dan kocak yang saya alami dalam trip akhir pekan ke Magelang, 13 April lalu.

Ceritanya saya dan empat teman seperjalanan yaitu Azizah, Indra, Affa dan Yudi bingung mau ke mana setelah mengunjungi Candi Ngawen dan Kerkoff Muntilan. Mau balik ke penginapan kok masih sore, ke Borobudur juga malas. Akhirnya kami memutuskan mampir ke klenteng Hok An Kiong yang beberapa kali kami lewati saat muter-muter di Muntilan sejak siang. Dari luar, kelenteng terlihat sepi. Sempat khawatir juga tidak diizinkan masuk, tapi nekat saja lah.

Setelah driver kami, Mas Supri, memarkir mobil di halaman, saya dan teman-teman berjalan menuju kelenteng. Ada seorang pria payuh baya yang sedang bercengkerama dengan tiga pengunjung yang masing belia. Mereka duduk di bangku panjang di depan pintu kelenteng. Dari bajunya, pria tersebut tampaknya penjaga kelenteng atau yang disebut biokong.

Kami langsung melontarkan sapaan dan menyampaikan niat kami untuk melihat-lihat ke dalam kelenteng. Awalnya biokong tersebut terlihat agak ragu, tapi kemudian dengan ramah mempersilakan kami masuk. Beliau malah tanpa diminta mendampingi kami mengeksplor kelenteng. Pesannya cuma satu, kami dilarang memotret di dalam kelenteng. Hanya bagian luar klenteng yang boleh kami abadikan gambarnya.

Klenteng Hok An Kiong ini berlokasi di Jl Pemuda nomor 100, Muntilan, Kabupaten Magelang. dari situs resmi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, saya mendapatkan keterangan Klenteng Hok An Kiong kali pertama didirikan pada 1878 dengan lokasi di sisi selatan Jalan Pemuda atau bersebelahan dengan Pasar Muntilan yang ada sekarang ini. Pada 1906 bangunan klenteng dipindahkan ke sisi utara Jalan Pemuda atau di lokasi sekarang ini. Pada 1929 bentuk bangunannya disempurnakan, ditandai dengan prasasti di tiang pintu pagar bertuliskan ANNO 11–5–1929. Hok An Kiong merupakan gabungan dari kata Hok, An, dan Kiong, yang mempunyai arti Hok : rejeki, An : Selamat, Kiong : Istana.

Penjaga klenteng itu belakangan kami tahu namanya Pak Panut. Beliau mengajak kami masuk melalui pintu paling kanan. Di klenteng ini, pintu masuk dan pintu keluar dibedakan. Masuk lewat pintu paling kanan, sedangkan keluar lewat pintu paling kiri. Sedangkan pintu paling besar di bagian tengah dipercaya sebagai jalan untuk Dewa. Jadi kami tidak diperkenankan keluar-masuk melalui pintu utama. Dewa utama di kelenteng ini adalah Dewa Bumi yang patungnya berada di altar utama. Sekitar 15 menit, tur singkat kami dalam klenteng selesai. Tapi, kami tak langsung pulang. Kami melanjutkan obrolan di bangku dekat pintu paling kiri.

image

image

Di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba Pak Panut melontarkan pertanyaan aneh kepada Mas Supri. Dia menanyakan bulan dan tahun kelahiran Mas Supri. Setelah dijawab, Mas Supri juga diminta menuliskan nomer HP-nya di ponsel Pak Panut. Ternyata oh ternyata, jawaban Mas Supri itu sebagai bahan untuk meramal! Dari data kelahiran dan nomor HP itu, Pak Panut menebak jenis teman-teman Mas Supri, kehidupan keluarganya dan kondisi finansialnya. Kami hanya bisa tertawa terkekeh-kekeh mendengar hasil ramalan Pak Panut yang lumayan kocak. Berikutnya satu persatu kami mendapat giliran diramal. Hasil ramalannya jelas tak perlu saya beberkan di sini. Biarlah menjadi rahasia kami berenam dan Pak Panut…:) . Tapi boleh percaya atau tidak, sebagian ramalannya memang pas. Kami pun saling menertawakan ketika ada ramalan yang lucu, apalagi di bagian percintaan. Ada juga seorang kawan yang diminta mengganti nomor teleponnya karena dianggap kurang hoki.

Nah, saya mendapat giliran terakhir diramal. Seperti teman-teman yang  lain, Pak Panut menebak bagaimana kondisi pertemanan, finansial hingga percintaan saya. Hasilnya? Lumayan kok. Lagian ini juga cuma ramalan, boleh percaya atau tidak. Kalau saya pilih mempercayai ramalan yang baik-baik saja, anggap saja itu doa. Yang jelek ya dilupakan saja. 🙂

Magelang, 13 April 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

12 Responses to Diramal di Hok An Kiong

  1. chris13jkt says:

    Urusan ramal-meramal memang kadang lucu, asal jangan jadi bersifat sugestif.

  2. DianRuzz says:

    aku dulu suka main ramal2an dengan kartu dan juga membaca garis tangan, tapi hasilnya tidak bisa dipertanggungjawabkan hihihihihihi

  3. Erit07 says:

    Hha,ramal hny bisa menebak,…

  4. DebbZie says:

    Hum….aku juga suka tuh iseng2 ramal meramal. Tapi percaya yang bagus2 aja, hihihi. Salam kenal yach😀

  5. Ayo hasil ramalan nya bagaimana ??? pingin tau nich ????🙂 Temen ku ada yg jago ngeramal pake kartu tarot, kita suka iseng2 main ramal2an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: