Belajar Ikhlas dari Mbah Parno

Sabtu pagi saya bangun tidur disambut perasaan gelisah. Ada sesuatu yang mengganjal. Entah mengapa tiba-tiba saya merasa gagal. Kegagalan yang sulit diterjemahkan…absurd. Padahal kalau dipikir-pikir semuanya berjalan lancar-lancar saja.

Perasaan tak enak itu terus menghantui meskipun seharian saya bergulat dengan berbagai aktivitas, mulai berkunjung ke rumah saudara sampai nongkrong bersama para sahabat. Rasanya seperti orang yang kesepian di tengah keramaian.

Damai, iklhlas

Damai, iklhlas

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.50 WIB ketika saya dan dua orang sahabat memutuskan beranjak dari warung langganan di kompleks Manahan. Hampir dua jam kami mengisi perut dan bertukar kisah. Percakapan tanpa arah yang menghibur. Awalnya, saya ingin langsung pulang ke rumah. Tetapi, di tengah perjalanan, rencana berubah. Sepeda motor saya belokkan ke rumah sahabat, Mbak Retno. Kebetulan Mbak Retno sempat mengirim pesan supaya saya mampir ke rumah.

Setelah dua jam lebih ngobrol ngalor ngidul tentang ulang tahun Jakarta dan kiprah Jokowi, Mbak Retno mengajak keluar untuk mengisi perut. Bersama Mas Eri suami Mbak Retno, kami membelah jalanan malam Kota Solo. Tujuannya ke sebuah warung gudeg lesehan di kawasan Jalan Gatot Subroto. Warungnya sederhana tapi bersih, makanannya pun enak. Tak butuh waktu lama untuk melahap habis isi piring kami. Setelah perut kenyang, obrolan pun mengalir. Namun, sebuah suara lirih tanpa power memecah perhatian kami.

“Tape..tape.” Mbak Retno yang pertama kali menengok ke arah sumber suara itu. Mas Eri dan saya ikut-ikutan menengok ke belakang tempat duduk kami. Suara itu ternyata bersumber dari seorang pria tua berbadan ringkih yang menggotong keranjang berisi tape. Ukuran wajahnya kecil, badannya kurus dan rambutnya hampir semuanya sudah memutih, mudah membuat trenyuh orang yang memandangnya. Tak perlu memiliki ilmu tinggi untuk menebak umurnya. Sekilas pandang, saya bisa melihat pria tersebut sudah memasuki masa senjanya.

Baru sebentar duduk dan menawarkan barang dagangan, seorang ibu dan anaknya yang baru turun dari mobil untuk makan di warung tersebut, mendekati penjual tape itu. Saya tak mendengar perkataan sang ibu. Yang jelas, penjual itu dengan cekatan langsung memasukkan tape-tape ke dalam plastik hingga penuh. Setelah menerima tape pesanannya, ibu muda yang berwajah agak dingin tersebut menyodorkan selembar uang Rp100.000. Dia kemudian masuk ke dalam warung tanpa minta kembalian. Mengharukan. Sontak saya mengingatkan diri sendiri supaya jangan sembarang menilai orang hanya dari kulitnya. Meskipun berwajah dingin, ibu tersebut ternyata menyimpan hati menawan.

Mas Eri kemudian juga mendekat untuk membeli tape. Kami akhirnya berbincang dengan bapak tersebut. Namanya Mbah Parno, umurnya 85 tahun. Tubuh ringkihnya berbalut baju batik rapi dipadukan dengan celana kain. Mbah Parno mengaku tinggal di Simo, Boyolali, lumayan jauh dari Kota Solo. Meskipun malam sudah larut, beliau masih bersemangat saat diajak bercerita. Kami menyimak kisah Mbah Parno sembari menahan rasa haru.

Bagaimana tidak haru, di usia yang sudah sangat senja Mbah Parno masih bergelut dengan kerasnya kehidupan. Seharusnya saat ini lebih banyak bersantai di rumah menikmati masa tua dan bercanda dengan cucu-cucunya. Tapi guratan nasib berkata lain. Mbah Parno masih dipaksa berjuang keras. Anak-anaknya mungkin “terlalu sibuk” untuk memperhatikan dan membuatnya bahagia di usia senja.

Memang tidak setiap hari Mbah Parno harus menyusuri jalanan Kota Solo untuk menjajakan tape bikinannya. Pekerjaan utamanya adalah bertani. Mbah Parno berjualan tape saat membutuhkan uang. Seperti Sabtu kemarin, Mbah Parno mengaku berangkat dari Simo pada pukul 09.00 WIB dengan menggunakan angkutan umum, yang disebutnya “kol”. Butuh biaya Rp20.000 untuk perjalanan pergi-pulang Simo-Solo. Setiba di Solo, Mbah Parno bakal menjajakan tape dagangnya dengan berjalan kaki. Panas dan hujan tak jadi penghalang. Jika seluruh tape terjual, Mbah Parno bisa membawa pulang uang sebesar Rp50.000 sampai Rp70.000. Tapi, Tuhan selalu bekerja dengan cara misterius. Buktinya hanya dalam tempo sekitar 10 menit berada di warung gudeg itu, Mbah Parno berhasil mengantongi uang lebih dari Rp150.000 hanya dari dua kantong kecil tape yang dijualnya.

Mbah Parno tak akan pulang ke Simo sebelum dagangannya habis. Jika tapenya baru ludes selama tiga atau empat hari, selama itu pula beliau terpaksa tidur ditemani dinginnya angin malam. Biasanya Mbah Parno memilih tidur di pasar atau pos polisi karena membuatnya aman dari gangguan preman-preman usil. Entah jam berapa biasanya Mbah Parno tidur. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB ketika kami berjumpa beliau malam itu. Hebatnya, selarut itu Mbah Parno masih enerjik dan bersemangat meladeni obrolan kami.

Di tengah-tengah percakapan, sebuah pertanyaan paling mengganjal akhirnya kami lontarkan kepada Mbah Parno. Berapa jumlah anaknya? Mengapa mereka mengizinkannya masih bekerja keras di usia sesenja itu?

“Anak saya ada sembilan, yang paling kecil sudah meninggal. Saya tinggal dengan istri saja di rumah. Anak-anak sudah punya urusan dan tanggungan masing-masing. Ya, saya dibiarkan saja seperti ini,” tutur Mbah Parno dengan bahasa Jawa halus tanpa lupa menyertakan senyum cerianya.

Kami hanya bisa tertegun mendengar jawaban Mbah Parno. Nada getir tertangkap kuat dari ucapannya. Namun, kegetiran itu langsung dihapusnya dengan senyum yang terus terkembang, seolah menegaskan keikhlasannya untuk menjalani skenario sang Maha Kuasa. Daripada mengeluh, Mbah Parno lebih memilih memperjuangkan hidupnya, memeras keringat menjemput rejeki untuknya dan sang istri. Justru kami yang merasa tidak terima dengan sikap putra-putri Mbah Parno. Bagaimana mungkin mereka bisa tidur nyenyak di rumah saat ayahnya yang sudah renta dimakan usia masih terseok-seok menyusuri jalanan Kota Solo untuk menjajakan tape? Tak khawatirkah mereka jika ada apa-apa dengan Mbah Parno di jalan?

Memang kami tak berhak begitu saja menghakimi anak-anak Mbah Parno dengan dasar opini pribadi. Mungkin mereka punya beribu alasan untuk menepis prasangka miring kami. Tapi, saya tetap tak habis pikir. Mungkin pertanyaan itu akan terus menghantui. Saya yakin di luar sana ada ratusan, ribuan atau mungkin jutaan orang yang senasib dengan Mbah Parno. Kehidupan memang kadang sangat kejam.

Bertemu Mbah Parno mungkin cara Tuhan untuk menjawab kegelisahan saya. Jawaban gamblang dan sangat menohok. Sungguh tak pantas saya mengeluh, patah arang dan merasa gagal tanpa alasan jelas. Padahal di sisi lain, Mbah Parno masih bersemangat memperjuangkan hidupnya meski tubuhnya sudah ringkih dimakan usia. Senyum Mbah Parno menunjukkan kebesaran hatinya untuk ikhlas menapaki kejamnya roda kehidupan. Mungkin Mbah Parno berpikir tak ada gunanya berkeluh kesah, toh itu tak akan akan menyelesaikan masalah.

Percakapan singkat malam itu sepertinya membuat Mbah Parno bahagia. Senyum lebar tak beranjak dari wajahnya ketika beliau berkali-kali melambaikan tangan saat mobil yang kami tumpangi perlahan menjauh dari warung. Kami pun membalas lambaian tangan ringkih itu dengan senyum tak kalah hangat. Sungguh malam yang mengesankan.

Solo, 22 Juni 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

6 Responses to Belajar Ikhlas dari Mbah Parno

  1. ghozaliq says:

    ilmu ikhlas memang susah mba, jadi inget film “kiamat sudah dekat”
    dari orang-orang seperti itulah kita bisa mengerti tentang keikhlasan dalam menjalani hidup ini.
    habis baca jadi tergugah kembali untuk mencoba lebih ikhlas menjalani hidup ini 😀

  2. lalatdunia says:

    Baca tulisane mbak ngingetin saya ama simbah2 jualan buah pake tenggok yg sering lewat depan rumah dulu.Saya ga tau namanya.Nggak pernah kepikiran untuk bertanya.Mungkin Ibu saya ingat.
    Pernah dia ngiyup keujanan malam2 diteras waktu rumah kami dibelakang GOR Catursari Kratonan.Sama Ibu disuruh masuk.
    Dibikinin wedhang.Saya masih SD dulu.Cuma plenthas-plenthus ingin tau.
    Ketika rumah kami pindah ke Sraten,simbah itu juga lewat situ.Sering berteduh di posronda dipertigaan depan rumah.Dan saya cuma ngindik dari kaca jendela.
    Seiring waktu,saya berdomisili di Ngruki,simbah itu masih sekali dua lewat.Ketika pertama bersua bukan dagangannya yg ditawarkan.
    “Wah sampun ageng nggeh Den.Putrine sampun pinten ?”
    Begitu dia bertanya.Kromo alus.Saya yg notabene cuma jelata,ngoko ga peduli dengan siapa,ternyata masih plenthas-plenthus ga bisa ngomong didepan dia.
    Mungkin saya malu karena di-kromoalus,malu karena sudah negative thinking duluan menyamaratakan dia dengan sales door to door,dan kagum akan daya ingat dan sopansantunnya.
    Ternyata rumah kami berada satu jalur dengan rute simbah tersebut.
    Simbah putri yang sepuh,yang kadang saya dibuat heran malam2 pulang kearah selatan kehujanan dengan bakul masih berisi pepaya atau mangga.Yang secara logis saya sering bertanya dalam hati “opo yo payu udan2 dodol pelem?”
    Ibu pernah bilang kalo rumah simbah tsb di Baki.Perjalanan Baki-Psr Legi ditempuh dengan berjalankaki.Pagi dia berangkat sambil jualan pecel ndeso,dan sore dia pulang sembari membawa buah sekedar untuk cucunya.Kalau dijalan buahnya ada yang laku ya syukur,kalo ngga ya dimakan sendiri.
    Coba saya yg kaya gitu.Dengan tenggok penuh buah.haduh,bisa pengkor ni kaki.
    Well…sekian tahun saya tidak melihat simbah tsb.Tidak tahu gimana kabarnya,masih jualankah,sehatkah,masih sugeng atau tidak.
    Tulisan mbak menggugah kenangan simbah tersebut.Terenyuh kalo ingat.
    Saya belum pernah bertemu Mbah Parno ketika masih ngere jualan kaset bekas dan poster bola depan(dulu)Optik Melawai samping gudeg Bu Mari.Sesekali sempat juga bersua penjual tape pohung ama tape ketan ijo pake pikulan melengkung dikampung2 seputaran Solo selatan.
    Apa mungkin itu Mbah Parno?Saya nggak pasti.
    Jika saya masih diberi kesempatan bertemu simbah putri tsb(InsyaAllah), saya berjanji akan mencoba bersikap lebih arif terhadapnya.
    Pun jika saya bersua diseputaran Solo selatan dg Mbah Parno,saya akan bertutur padanya bahwa seorang Yus Mei pernah menuliskan kisahnya didunia maya.
    Tentang ikhlas.
    Dan tentang belajar ikhlas menjalani hidup.
    Makasih ya mbak.
    Kadang kita perlu disentil untuk tidak terlalu manja menyikapi hari.

    • yusmei says:

      Komentarnya panjang bangettt…hehehe
      Iya, aku ketemu mbah parno memang di Gudeg Bu Mari mas. Mungkin beliau orang yang sama yang pernah mas lihat dulu.
      Semoga takdir bisa mempertemukan lagi dengan simbah putri tersebut ya mas..bisa berbagi cerita dan mungkin menimba ilmu kehidupan.
      Iya, sampai sampai sekarangpun saya kadang malu sendiri, terlalu manja dan kurang bersyukur. Memang sulit ya menerapkan ilmu ikhlas itu🙂

  3. ikhlas dan sabar itu berat banget..tapi seiring perjalanan pasti kita akan dapat menjalaninya Insya allah..:D perjalanan selalu membawa hikmah agar kita selalu bersyukur dengan nikmat yang diberikan yang kuasa…

    • yusmei says:

      Benerrr…belajar ikhlas dan sabar mungkin butuh seumur hidup ya ka…dan memang perjalanan bisa menjadi bagian dari proses belajar itu jika kita mau lebih banyak bersyukur dan peka🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: