Gaya Jalan Fans Sepakbola

Bderfoto di Stadion Diponegoro, Banyuwangi

Narsis di Stadion Diponegoro, Banyuwangi

Malam-malam chatting tentang sepak bola Indonesia? Terdengar kurang kerjaan kan? Tapi itulah yang saya lakukan dengan sahabat saya, Aning, di tengah malam kemarin. Buntutnya, setelah sesi chatting selesai, saya kepikiran menulis sebuah artikel.

Tentu bukan soal kebobrokan sepak bola di Tanah Air yang sangat membosankan dan memprihatinkan itu. Saya hanya ingin berbagi cerita mengenai perjalanan ala penggemar sepak bola. Saya memang menggemari olahraga paling popular sejagat itu, kebetulan sebagian besar teman traveling saya punya hobi yang sama.

Setiap kali melakukan perjalanan ke suatu daerah, biasanya saya mengajukan pertanyaan standar kepada pegawai hotel atau penduduk setempat. “Ada stadion sepak bola gak? Klub lokal sini apa ya? Ada yang jual syal klub sepak bola?” Pertanyaannya tak jauh-jauh dari itu.

Perjalanan ke Hoi An dan Da Nang, Vietnam, oktober tahun lalu, tak bisa lepas dari racun sepak bola. Apalagi kedatangan kami ke negara itu bertepatan dengan jadwal laga persahabatan antara Timnas Indonesia kontra Timnas Vietnam. Pertandingannya memang berlangsung di Hanoi, yang cukup jauh dari Da Nang. Tapi gaungnya tetap terasa di kota tersebut. Saya dan empat teman perjalanan (Aning, Krisna, Akbar dan ayah Aning) kebetulan semuanya suka sepak bola. Alhasil, kami berlima sibuk mencari tempat nonbar di kota Da Nang. Sayang sekali venue nonbar yang kami pilih kurang ramai, jadi gagal niat melakukan perang urat syaraf dengan supporter lokal. Keesokan harinya kami juga tak lupa mencari surat kabar setempat yang memuat berita tentang hasil pertandingan persahabatan tersebut. Di salah satu artikel ada yang mengulas tentang Andik Vermansyah yang sepertinya mendapat pujian. Tapi itu kesimpulan saya sendiri lho, karena sebenarnya saya sama sekali tak bisa membaca tulisan Vietnam di koran tersebut.

Nunggu nonbar Indonesia vs  Vietnam di Da Nang

Nunggu nonbar Indonesia vs Vietnam di Da Nang

Di Stadion H Agus Salim Padang

Di Stadion H Agus Salim Padang

Krisna di Stadion H Agus Salim Padang

Krisna di Stadion H Agus Salim Padang

Sisi unik perjalanan ala fans sepak bola adalah sesi kunjungan ke stadion. Saat nge-trip ke Banyuwangi bersama Pesta, Femi, Shava dan Ririn, pada Mei lalu, kami minta diatar pemandu kami, Mas Donna, ke Stadion Diponegoro, markas Persiwangi Banyuwangi. Maklum kami, kecuali Pesta, memang menyukai sepak bola. Mas Donna sepertinya heran mendengar permintaan kami, tapi tanpa banyak tanya mengabulkannya. Di dalam stadion, kami bertingkah seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Sesi foto-foto dengan  berbagai macam gaya pantang dilewatkan. Benar-benar menyenangkan. Belakangan Mas Donna mengakui itu kali pertama wisatawan yang dipandunya minta pelesir ke stadion!

Sesi kunjungan ke stadion lagi-lagi pantang dilewatkan saat ke Padang, pertengahan Juni lalu. Sebelum mengejar pesawat ke bandara, saya dan sahabat saya, Krisna, ingin mampir ke Stadion H Agus Salim. Itu adalah kandang klub Semen Padang. Setelah diizinkan masuk, kami langsung berpesta mengambil gambar terbaik. Kami juga berfoto di sudut-sudut stadion, mulai di dekat gawang, bench hingga di depan pintu ruang ganti pemain. Penjaga stadion sepertinya hanya bisa keheranan menatap tingkat kami. Sayang sekali, niatan membeli syal Semen Padang gagal total. Toko suvenir Semen Padang di kompleks stadion sedang tutup. Mengecewakan.

Kembali ke urusan nonton bareng, saya rela repot jika jadwal Manchester United bebarengan dengan agenda ngetrip. Jika di penginapan tidak ada televisi, saya akan mencari informasi tempat nonbar. Seperti saat di Mataram, Lombok, beberapa tahun lalu. Demi MU, saya dan sahabat saya, Akbar, rela nonton di depan sebuah mini market. Toko tersebut memang menyediakan area untuk nonbar. Tapi malam itu saya memang tidak ditakdirkan bisa tersenyum lega. Jagoan saya, Manchester United, malah dilibas habis-habisan oleh Liverpool. Apes.

Kelakukan wajib lainnya bertanya kepada warga lokal atau turis asing tentang klub favorit. Biasanya pertanyaan ini saya tujukan kepada turis mancanegara. Dari beberapa kali pengalaman, obrolan tentang klub favorit ini bisa menjadi pembuka pembicaraan yang ampuh. Asyik dan ajaib kan? Salam Olahraga!

Solo, 3 Juli 2103

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

37 Responses to Gaya Jalan Fans Sepakbola

  1. buzzerbeezz says:

    Tapi kalau nonton bareng malam-malam hati-hati di jalan ya mbak.. Hehehe..

  2. Avant Garde says:

    wah, emang passion-nya di olahraga ya mbak😉

  3. DianRuzz says:

    Eh tips di paragraf terakhir boleh banget tuh dicoba. Tapi …. aku ra ngerti ttg persepakbolaan😦

  4. Indradya SP says:

    Saya malah sama sekali gak pernah ngomongin sepakbola Indonesia….hahaha😛

  5. Hahaha…. Lucu mbak e… Ternyata gitu toh perjuangan nyeleneh kalo udah cinta mati ama sepakbola hehe, maklum aku bukan orang yang paham sepakbola😀

    • yusmei says:

      Iseng ajaaa lim, seru-seruan. Tapi kalau nonton MU harus diusahain banget. Eh kapan2 nyoba ntn bola ke manahan lim, seru lho…hahaha

  6. Olive B says:

    kalo ke kampungku lapangan bolanya depan rumah, nontonnya naik pohon hahaha

  7. rintadita says:

    wihihiii kereen, salam olahraga!! *sambil angkat barbel* x)))))

  8. lalatdunia says:

    Sesekali mbludus juga tantangan loh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: