Museum Sukowidi : Kotak Sejarah Banyuwangi

Melihat-lihat foto

Melihat-lihat foto

Memenuhi janji beberapa waktu lalu, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang Museum Sukowidi Banguwangi. Bangunan museum ini boleh sederhana, tapi di mata saya Sukowidi adalah museum istimewa.

Nama museum ini kali pertama saya dengar dari Mas Donna, pemandu selama perjalanan di Banyuwangi akhir Mei lalu. Saya dan empat teman perjalanan (Pesta, Feni, Shava dan Ririn), ditawari Mas Donna mampir ke ke sana untuk mencari informasi yang lebih akurat tentang Watu Dodol.   Apakah itu?  Watu dodol adalah onggokan batu besar di tengah jalan yang merupakan gerbang masuk Banyuwangi dari arah Situbondo.

Rasa penasaran terhadap watu dodol itulah yang membawa kami mengunjungi Museum Sukowidi. Museum ini memang belum begitu dikenal dan belum masuk ke brosur-brosur wisata banyuwangi. Itu bisa dimaklumi karena usianya masih seumur jagung. Sukowidi baru diresmikan pada 18 Mei 2013, bertepatan dengan Hari Museum Internasional. Pemilihan momen yang sangat pas.

Museum Sukowidi berada di Jalan Yos Sudarso No 15, tepatnya di utara lampu merah Sukowidi, Kelurahan Klatak, Banyuwangi. Penggagas museum ini tak lain adalah Komunitas Sejarah Banyuwangi (Koseba). Menemukan museum ini susah-susah gampang. Kuncinya harus cermat karena bangunannya tidak terlalu mencolok.  Museum Sukowidi sendiri menempati rumah kuno seluas 200 meter persegi, berasitektur gothik yang dibangun Belanda tahun 1928. Tak ada papan nama nama museum yang dipasang. Di bagian depan museum malah tercetak tulisan besar “Jasa Angkutan Expedisi”. Orang-orang mungkin tak menyangka bangunan itu menyimpan banyak benda penting penanda sejarah Banyuwangi.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kedatangan kami disambut Mbak Ira Rachmawati, pengurus Koseba sekaligus pemilik rumah yang diubah jadi museum tersebut. Sembari bertukar cerita, kami juga sibuk melihat-lihat koleksi museum. Sebagian besar koleksinya berupa foto dan lukisan. Tapi saya agak menyesal tak bisa banyak memotret karena baterei kamera sudah wassalam. Tapi tak apalah, toh masih ada kamera teman-teman lain.

Museum Sukowidi terbagi menjadi beberapa ruangan, yang fungsinya beda-beda. Ada yang menjadi ruang mendisplay foto dan lukisan. Ruangan utama yang digunakan memajang koleksi foto dan lukisan juga difungsikan sebagai tempat diskusi. Saat mampir ke sana dua malam berturut-turut, selalu saja ada acara diskusi yang melibatkan tokoh dari beragam kalangan. Intinya museum tersebut selalu berdenyut dengan berbagai aktivitas. Di sebelah ruang utama, ada kamar yang berisi tempat tidur dan rak buku. Menurut Mbak Ira, pengunjung juga boleh membaca sepuasnya di sana. Buku-bukunya sebagian besar merupakan koleksi pribadi para pengurus Koseba.

Foto Stasiun Kabel Banyuwangi, Kabel Laut Atlantik  (Foto : Pesta Sitorus)

Foto Stasiun Kabel Banyuwangi, Kabel Laut Atlantik (Foto : Pesta Sitorus)

Lukisan Candi macan Putih

Lukisan Candi macan Putih (Foto; Pesta Sitorus)

Foto Penari Gandrung (foto by Femi Diah)

Foto Penari Gandrung (foto by Femi Diah)

Selain menyimpan koleksi arsip, foto dan lukisan, museum itu juga berfungsi menjadi pusat sejarah dan budaya, sekaligus markas Koseba. Pengurus Koseba juga menyediakan fasilitas home stay untuk para pejalan yang ingin menginap. “Dulunya rumah ini kosong, rumah pribadi saya. Rumah ini bagian dari cagar budaya yang didirikan pada 1928. Daripada tidak dipakai, muncul ide untuk menjadikannya sebagai museum. Untuk saat ini, hanya untuk mendisplay foto-foto dan lukisan saja,” tukas Mbak Ira.

Foto dan lukisan yang dipajang berasal dari berbagai sumber.  Sebagian merupakan koleksi pribadi pengurus Koseba, hasil pencarian dari internet maupun sumbangan dari berbagai pihak yang peduli dengan sejarah dan budaya Banyuwangi. Beberapa foto sangat menarik perhatian saya, seperti tampilan stasiun kereta api di Banyuwangi pada periode 1895-1910 dan Foto penari Gandrung Banyuwangi pada tahun 1910-1930. Yang tak kalah mengesankan adalah foto Stasiun kabel Banyuwangi-Kabel Laut Atlantik tertanggal 10 Desember 1901, foto lawas Kawah Ijen dan lukisan Candi Macan Putih karya Johannes Muller pada 1859.

Menurut Mbak Ira, sebagian foto-foto lawas tentang Banyuwangi itu sebenarnya bisa ditemukan dengan berselancar di internet. Namun, selama ini masyarakat kebanyakan tidak terpikir mencari tahu. Oleh karena itu, Koseba mencoba berperan sebagai jembatan penghubung supaya informasi-informasi tentang data dan fakta sejarah Banyuwangi berupa tulisan dan foto diketahui publik luas.  Biasanya setiap menemukan data, fakta atau foto baru yang dari pencarian di internet atau hasil riset, mereka membaginya ke publik melalui akun jejaring sosial Koseba.

“Kami bergerak secara bertahap. Sementara ini museum lebih didominasi display foto. Nantinya kami berharap museum punya dokumentasi visual, dokumentasi audiovisual dan film dokumenter,” beber Mbak Ira.

Diskusi

Diskusi

Tampak depan museum (Foto by Pesta Sitorus)

Tampak depan museum (Foto by Pesta Sitorus)

Meski belum lama dibuka, museum ini ternyata mendapat sambutan antusias.  Kunjungan dari rombongan siswa sekolah seolah tak berhenti mengalir. Mbak Ira mengaku kaget dengan antusiasme siswa-siswa yang datang ke museum. Mereka ternyata tidak terlihat bosan dan ogah-ogahan saat mendapat penjelasan tentang cerita di balik foto-foto yang dipajang di Museum Sukowidi. Hal itu tak terlepas dengan keahlian pengurus Koseba saat menjadi pemandu mereka. Ternyata, jika diperkenalkan, generasi muda pun bisa peduli dengan kisah dan fakta sejarah. Pengunjung pun tidak dipungut biaya alias gratis. Hal itu menjadi bukti komitmen Koseba untuk ikut melestarikan dan membangkitkan sejarah serta budaya Banyuwangi.

So, berkunjung ke Banyuwangi sebaiknya jangan melewatkan Museum Sukowidi. Koleksi museum ini dijamin bakal membantu kita mengenal Banyuwangi dengan lebih baik. Bahkan menurut saya Museum Sukowidi seperti kotak sejarah Banyuwangi. Sekali dibuka “tutupnya” kita bisa menemukan rahasia dan jejak-jejak sejarah kabupaten paling timur di Pulau Jawa tersebut. Recommended!

Banyuwangi, Mei 2013

About these ads

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

38 Responses to Museum Sukowidi : Kotak Sejarah Banyuwangi

  1. DianRuzz says:

    wwwaaaahhh, “kotak sejarah”

    *siap menggelinding ksana klo ke Banyuwangi*

  2. buzzerbeezz says:

    Aku penasaran sama foto Kawah Ijen tempo dulu deh..

  3. harusnya tiap kabupaten kota punya museum begini, di jambi ada dalam satu kabupaten sukunya bisa beda2 … eh, yg di sukowidi sementara ini baru museum sejarah yak :)

  4. nyonyasepatu says:

    Duh kapan lg ya ke banyuwangi hhu

  5. Ceritaeka says:

    Aku belom pernah mampike Banyuwangi, cuma pernah lewat doank.
    Hmmm jadi tertarik :)

  6. aku gugling candi macan putih di gugel malah yg ada hewan macan :(

  7. johanesjonaz says:

    manarik… patut dicoba nih :P

  8. Erit07 says:

    Masih sangat baru museumnya,tapi menarik..

  9. Adie Riyanto says:

    Menarik banget ulasannya. Andai saja semakin banyak orang suka berkunjung ke museum, terutama museum yang tidak populer. :'(

    • yusmei says:

      Iya, sayangnya orang-orang sekarang lebih nyaman menghabiskan waktu di mall dan sebagainya. Sebenarnya tidak salah juga, tapi tak ada salahnya juga sesekali menengok museum2 yang kesepian :)

      • duniaely says:

        saya malah pusing kalau ke mall mbak, lbh suka berada di museum, terkahir lalu malah 2 jam an lebih berada di satu mesum, saking asyiknya :P

      • yusmei says:

        *tosss sesama penyuka museum. Ke mall tambah pusing kalau pas kantong kering ya mbak :):)

      • duniaely says:

        toss mbak :)

        aku paling nggak bisa lama lama di mall mbak, bisa pusing , suamiku jg, maklum wong ndeso hihihi , tiap hari ketemunya sama hewan hewan liar sama ratusan aneka burung jadi ya maklum :mrgreen:

      • yusmei says:

        Sama mbak …aku juga wong ndesoo..liatnya sawah..hehe. sekarang sedang tinggal di vienna ya mbak ely (manggilnya bener kan?) :))))

  10. nopan says:

    oww baru. pantesan saya gak tahu

  11. Kalipuro1 says:

    Maju terus mbak ira,,
    Sukses ya,,

  12. saiful munir says:

    salam kenal mba Mei (semoga betul panggilnya, :-) )

    aku kebetulan bulan lalu sempat mampir ke Museum “indie” Sukowidi juga lho. Beruntung ketemu Mba Ira yang “cerewet” minta ampun itu. banyak penjelasan soal sejarah setempat yang buat aku dan beberapa teman seperjalananku terbengong-bengong. jadi lebih banyak tahu sejarah-sejarah pinggir banyuwangi deeh..

    • yusmei says:

      hahahhaa mbak ira dibilang cerewet minta ampun..awas tak bilangin lho :). Memang pengetahuan mbak ira dan teman-teman komunitas sejarah banyuwangi luar biasa ya, membuat perjalanan ke Banyuwangi menjadi lebih berwarna..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,455 other followers

%d bloggers like this: