Baluran Kala Hujan

IMG_3373

Savana

Cuaca Kota Banyuwangi sedang kurang bersahabat. Warna biru cerah di angkasa perlahan menyingkir digeser awan hitam. Langit bersiap menumpahkan bebannya. Benar saja, tak lama setelah menikmati hangatnya siraman sinar matahari saat mampir di Stadion Diponegoro Banyuwangi, titik-titik air hujan  tumpah ke bumi.

Kami sedang berhenti di Watu Dodol, yang terletak di perbatasan Banyuwangi dan Situbondo ketika hujan datang tanpa diundang. Padahal saya dan empat teman seperjalanan (Femi, Pesta, Ririn dan Shava) dan Mas Donna (pemandu kami) berharap cuaca hari itu cerah sampai malam. Kondisi basah karena siraman air hujan jelas tidak ideal untuk rencana menjelajah Taman Nasional Baluran pada akhir Mei lalu. Apalagi awalnya kami ingin melakukan safari malam.  Tapi apa mau dikata, rencana tinggal rencana. Mau tak mau kami harus berdamai dengan keadaan. Sepertinya unik juga menjelajah Baluran kala hujan. Mari berangkaaat!

Taman Nasional Baluran gencar mempromosikan diri sebagai Africa van Java, alias miniaturnya Afrika di Jawa. Banyak yang keliru menyebut Baluran berada di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Padahal kawasan Baluran sebenarnya terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Butuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari pusat kota Banyuwangi untuk sampai di Taman Nasional ini. Menurut saya, Baluran adalah sebuah paket lengkap wisata alam. Ikon utamanya jelas savana, kemudian dilengkapi hutan, gunung, laut dan satwa-satwa liar.  Hewan-hewannya juga lumayan beragam, mulai merak, monyet ekor panjang, rusa, hingga macan tutul.

Ketika mobil yang kami tumpangi sampai di gerbang masuk Baluran, hujan malah turun semakin lebat. Mas Donna dan Shava turun untuk membeli tiket masuk, sedangkan saya, Femi, Ririn dan Pesta memilih bertahan di mobil. Tak lama kemudian kami pun memutuskan masuk ke kawasan baluran. Hujan tak boleh jadi penghalang. Iming-iming melihat rusa dan banteng liar dan luasnya savana sepertinya terlalu indah dilewatkan hanya gara-gara hujan.

Menyingkirkan pohon

Menyingkirkan pohon

Jalan di baluran

Jalan di baluran

Papan penunjuk

Papan penunjuk

Jalan masuk ke kawasan Baluran cukup jauh. Untuk mencapai kawasan savana Bekol harus menempuh 9 km. Bekol adalah salah satu area savana terbesar di Baluran. Atraksi utama lainnya adalah Pantai Bama, yang terletak sekitar 12 km dari gerbang masuk. Mengendarai mobil di kawasan Baluran butuh kehati-hatian ekstra. Jalan menuju Bekol dan Pantai Bama berupa aspal rusak dan berkerikil, ditambah genangan air karena hujan. Eh, belum jauh dari gerbang masuk, Mas Donna terpaksa menghentikan mobil. Ada pohon tumbang menghalangi jalan. Kami terpaksa bergotong-royong meminggirkan pohon supaya bisa melanjutkan perjalanan.

Mas Donna sudah memperingatkan kemungkinan kami bakal sedikit kesulitan menemukan satwa-satwa liar dalam kondisi hujan.  Hewan-hewan biasanya muncul karena mencari sumber air. Ketika kebutuhan air mereka sudah dicukupi air hujan, biasanya hewan-hewan itu jarang keluar dari persembunyian. Setelah mendengarkan penjelasan Mas Donna, kami pun langsung menajamkan pandangan ke berbagai arah. Kami tak mau ada satwa liar yang terlewat dari pandangan.

Kumpulan monyet ekor panjang

Kumpulan monyet ekor panjang

Merak (Foto by Femi Diah)

Merak (Foto by Femi Diah)

Kumpulan rusa (foto by Femi Diah)

Kumpulan rusa (foto by Femi Diah)

Saking antusiasnya, kami berteriak kegirangan saat melihat burung Merak yang sedang nangkring di jalan atau di pohon-pohon. Kami serentak mengarahkan kamera untuk mengabadikan Merak indah tersebut. Kehebohan kami terus berlanjut saat menemukan sekumpulan monyet ekor panjang maupun rusa. Tapi, hingga tiba di savana Bekol, belum ada satu pun banteng yang nongol. Begitu pun melintasi savana luas tersebut. Paling-paling kami hanya melihat sekumpulan kerbau liar di kejauhan. Banteng-banteng yang menjadi ikon Baluran tampalnya lebih suka bersembunyi di sarang mereka.

Karena hujan masih deras, kami memutuskan tak berhenti dulu di Savana Bekol. Mas Donna terus memacu mobil menuju Pantai Bama. Perut sudah menagih minta diisi dan di Bekol tidak ada warung makan. Satu-satunya tempat makan di kawasan Baluran hanya ada di Pantai Bama. Penjualnya bernama Pak Didik, dibantu istrinya Bu Sumiyati. Kompak kami memesan mie rebus. Benar-benar cocok dimakan saat hujan deras seperti itu.

Sembari makan dan menanti hujan reda, kami pun ngobrol dengan Pak Didik dan Bu Sumiyati. Pasangan suami istri itu setiap hari harus bolak-balik menyusuri kawasan Baluran untuk berjualan di kafetaria tersebut. Biasanya mereka berangkat pagi dan pulang sekitar jam 5 sore. Nah, pada suatu sore di bulan Maret mereka mengaku mendapat pengalaman yang tak terlupakan!

“Sore itu kami pulang seperti biasa naik sepeda motor, sekitar jam 5 sore. Di tengah jalan kami melihat macan tutul. Kami berusaha tenang dan ternyata macam tutulnya diam saja. Asalkan tenang, dia tidak mengejar. Kami beberapa kali juga ketemu banteng, tapi memang jarang. Banteng-banteng itu sensitif terhadap suara, jarang keluar kalau sedang banyak pengunjung yang datang,” beber Pak Didik.

Pengalaman melihat macan tutul di Baluran bisa dibilang kejadian langka. Menurut Pak Didik banyak turis yang sengaja datang ingin mencari penampakan macan tutul atau banteng, tapi seringkali gagal. Sayang sekali, pengalaman unik itu tak diabadikan Pak Didik karena beliau tidak punya kamera seperti para turis. “Kalau ketemu macan tutul saya malah tidak terganggu. Saya justru tidak suka ketemu kerbau. Mereka kadang suka diam di tengah jalan, bisa sampai sejam dan diam saja saat diusir. Kan malah merepotkan,” imbuhnya.

Cerita Pak Didik dan Bu Sumiyati membuat kami semakin penasaran “berburu” banteng dan syukur-syukur bertemu macan tutul. Setelah perut kenyang dan menyempatkan jalan-jalan sebentar ke pantai, kami memutuskan berangkat ke savana Bekol. Beruntung hujan mulai reda, tinggal rintik-rintik kecil. Tapi lagi-lagi sepanjang jalan tak ada satu pun banteng yang menampakkan batang hidungnya. Namun kami cukup terhibur dengan pemandangan sekawanan rusa yang bersembunyi malu-malu di balik pohon. Karena penasaran, berulang kali mobil kami tepikan supaya bisa melihat rusa-rusa itu lebih dekat. Tapi ketika kami mengendap-endap mendekat, rusa-rusa itu sepertinya tahu dan semakin masuk ke hutan. Ya sudahlah.

Gunung Baluran

Gunung Baluran

IMG_3492

panorama dari menara pandang

panorama dari menara pandang

Pantai Bama

Pantai Bama

Gagal menemukan banteng bukan sebuah bencana. Sampai di pos savana Bekol semua kegalauan menguap. Mata kami dimanjakan pemandangan yang sangat aduhai, perpaduan hijaunya savana dan gagahnya Gunung Baluran yang tingginya 1.247 mdpl. Sebenarnya kami berharap warna savana Bekol tak sehijau itu. Savana tersebut tenar dengan warna rumput kekuningan yang sangat indah. Tapi warna kuning berubah menjadi hijau segar gara-gara terus disiram air hujan. Jika ingin mendapatkan warna kuning ideal di savana Bekol sebaiknya datang ke Baluran sekitar bulan Agustus atau September. Saat itulah biasanya rumput di savana Bekol yang luasnya 400 hektare tampak dominan kuning, seperti pemandangan savana di Nusa Tenggara Timur.

Untuk mendapatkan panorama lebih indah, kami naik ke menara di Pos Bekol. Pemandangan dari sana ternyata jauh lebih aduhai. Tak sia-sia rasanya kami jauh-jauh kami datang ke Taman Nasional Baluran. No banteng, no problem. Kami akhirnya juga membatalkan rencana melakukan safari malam. Toh, dengan cuaca seperti itu sepertinya kemungkinan ketemu banteng sangat kecil. Sebelum langit berajak gelap, kami memutuskan pulang balik ke Banyuwangi.

Untuk menutup kunjungan ke Baluran, Mas Donna sudah membuat janji temu dengan Mas Joko, salah seorang penyuluh di Taman Nasional Baluran. Kami diterima dengan hangat oleh Mas Joko di kantor pengelola yang terletak di dekat gerbang masuk. Mas Joko mengamini pendapat Mas Donna untuk membatalkan rencana safari malam. Peluang bertemu banteng sangat kecil. Menurut Mas Joko, populasi banteng di Baluran saat ini tinggal sekitar 26 ekor. Penghitungan dilakukan pada awal 2012. Sedangkan setahun sebelumnya jumlah banteng sekitar 35 ekor. Populasi satwa terbanyak di Baluran adalah kera ekor panjang, namun jumlah pastinya tidak diketahui karena sangat sulit penghitungannnya. Rusa berjumlah sekitar 500 ekor, kerbau 400 ekor, sedangkan merak sekitar 300 ekor. Sedangkan macan tutul juga ada di Baluran, tapi Mas Joko mengaku baru menemukan jejaknya lewat kotoran dan bekas cakaran. Dia belum pernah melihat keberadaan macan tutul dengan mata kepala sendiri.

“Saat musim kemarau, 90 persen hewan mendekati savana karena mencari sumber air. Banteng lebih mudah ditemukan malam hari. Tapi kalau musim hujan seperti ini memang susah. Malam hari pun belum tentu ketemu banteng. Rusa masih banyak yang muncul, tapi kalau pengunjung banyak, hewan-hewan jarang muncul,” ungkapnya.

DSC_0215

IMG_3482IMG_8398

Yah, sepertinya kami memang tak berjodoh bertemu banteng di Baluran. Tapi banteng bukan segalanya. Baluran tetap menawan dengan suguhan keindahan savana dan satwa-satwa lainnya. Apalagi selama perjalanan menembus hutan dan savana kami ditemani suara seksi Jon Bon Jovi. Lagu Bed of Roses benar-benar teman sempurna menikmati keindahan Baluran kala hujan.

Situbondo, 27 Mei 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

53 Responses to Baluran Kala Hujan

  1. lalatdunia says:

    ft yg terakhir keren!sama ky yg didinding sangiran.ato emang maksudnya gitu?

  2. nyonyasepatu says:

    ohh kamu pas kesana ujan ya🙂 aku hampir2 masuk musim panas, jadi kebanyakan udah coklat2 gitu…….seruuuuu ya baluran ini🙂

  3. chris13jkt says:

    Wahhh . . . aku belum sempat kesana 😦
    Eh tapi tahun ini hujan sepanjang tahun kelihatannya, jadi mending kesananya tahun depan mungkin ya *cari alasan* 😀

    • yusmei says:

      September kayaknya hujannya berhenti bentar lho pak kris *info tak terpercaya, bukan dari BMKG :)) Kalau ke sana sekalian ke Alas Purwo pak, di sana bantengnya banyak dan gampang ditemui hehehehe

  4. wah baluran, udah lama pengen ke “Afrika” niiihh. sukses bikin iri dehhh. hehe

  5. omnduut says:

    Untung masih ada monyet-monyet yang nongol🙂 lumayaaan ^^

  6. buzzerbeezz says:

    Bayangin camping di sana seru kali ya.. Tapi serem bgt kalau malam2 disamperin sama macan tutul. Hehehe

  7. orang sabar disayang pacar mbak, eh😀

  8. DianRuzz says:

    Kok kepikiran pikin foto yang terakhir itu mbak? Hhahhhahahaa lucu!😀

  9. Erit07 says:

    Wan,rusa2nya hidup berkelompok ya..
    mereka gak di pagar ya?

    • yusmei says:

      Kalau di baluran satwanya dibiarin hidup bebas rit…jadi kalau ada macan ya silahkan tanggung sendiri…hehe. Iya kalau rusa biasanya berkoloni, kalau merak cenderung soliter

  10. noe says:

    Baluran… itu foto2nya keren seru seruan gitu..🙂

  11. noe says:

    Aku suka foto fotonya seruuu

  12. Dibaleni lagi ke Baluran saat matahari bersinar terang mbak hehe… Dijamin termehek-mehek😀

  13. pesta says:

    Kakaaaaa..
    Sukak.. Sukak.. Sukaaa..
    Haha..

    Foto terakhir itu idenya Shava lho kaka Yusmei.😛
    Xixi

  14. wah, aku belum pernah nih main kesini.
    Seru banget ada savana di Pulau Jawa *norak*

    Best time buat ngeliat warna kuningnya Agustus – September yah? noted kak yusmei, ihiiiiyy nambah lagi deh list tempat yang mau dikunjungin. Thank you

    • yusmei says:

      savananya gak kayak Afrika bangeet siiih wkwwk, tapi dah kereeeen. Kalau ke Baluran sekalian ke Alas Purwo, banyak banteng di sana. Pokoknya Baluran recommended deh…selamat mencoba ya mediana :):)

  15. kapan ya bisa ke sini , pengen ke Jawa Timur dua mingguan

  16. Fahmi Anhar says:

    baluran, africa van java, kerenan kalau pas kemarau yo mbak koyone… btw, itu kalau naik kapal ke pantai bama bablas terus, bisa nyampe ostrali dong ya… #yakali #niatbanget

    • yusmei says:

      iyo mi….nek pas kemarau savana-ne luwih ajiiib, lagian hewannya juga pada keluar….nek numpake kapal pinisi malah mungkin tekan amerika selatan juga mi #tambakmekso🙂

  17. saraswati says:

    Mas/mba,

    Boleh tau contact person utk paket yg dipake waktu ke baluran?

    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: