Setiawan Subekti dan Dunia Kopi

–Sekali seduh, kita bersaudara—-

Setiawan Subekti

Setiawan Subekti

Saya memandang gelas kopi di tangan dengan perasaan ragu. Haruskan saya meminum kopi hitam ini? Bagaimana jika berbuntut perut melilit dan kepala pusing? Sudahlah, apa yang akan terjadi mending dipikir belakangan. Akhirnya saya memutuskan menyeruput kopi panas itu. Rasanya pahit dan terasa berat.

“Bagaimana rasanya, enak?” tanya pria di hadapan saya. Pertanyaan itu berbalas dengan sebuah pengakuan. Kopi bukan minuman favorit saya. Alih-alih menggemari, minum kopi 10 gelas dalam setahun saja sudah merupakan prestasi tersendiri bagi saya. Apa enaknya minum kopi jika endingnya kepala pusing dan perut mual.

“Saya akan membuatkan kopi khusus yang tidak menyebabkan perut perih dan pusing,” cetus pria tersebut. Dia kemudian melangkah ke alat pembuat kopi, kali ini untuk meracik secangkir kopi dengan komposisi khusus. Setelah selesai, segelas kopi panas mengepul kembali disodorkan kepada saya. Pelan-pelan minuman panas yang telah saya campuri gula itu meluncur ke tenggorokan. Saya berusaha mengenali teksturnya di bibir dan lidah. Rasanya memang berbeda. Lebih ringan dan tak terlalu pekat.

Tak butuh waktu lama, secangkir kopi itu tandas. Pria itu pun menyodorkan gelas kedua. Lagi-lagi isi gelas kedua pun ludes. Ini benar-benar luar biasa. Baru sekali itu saya mampu menghabiskan dua gelas kopi dalam sehari!

Pria hebat yang mampu membuat saya meminum dua gelas kopi dalam sehari itu adalah Setiawan Subekti. Pak Iwan, begitu dia biasa disapa. Beliau saya jumpai saat mengunjungi Banyuwangi, akhir Mei 2013 silam, bersama empat teman seperjalanan (Femi, Pesta, Shava dan Ririn). Awalnya saya tak benar-benar tak tahu siapa beliau. Mas Donna (pemandu kami selama di Banyuwangi) lah yang memberi tahu bahwa Pak Iwan adalah seorang tester sekaligus juri kopi kelas dunia.

kopi5          kopi9

Pak Iwan merupakan satu dari segelintir tester kopi internasional yang dimiliki Indonesia. Reputasi dan sepak terjangnya sebagai master kopi sudah tersohor di berbagai belahan dunia. Pria kelahiran 1957 tersebut sudah melanglangbuana ke berbagai negara untuk menjadi juri kompetisi kopi, antara lain Jepang, Vietnam, Singapura, Amerika Serikat, hingga negara Amerika Latin seperti Brazil dan Kolombia. Selain itu, beliau juga punya perkebunan kopi yang luas di Banyuwangi.

Yang membuat saya salut terhadap Pak Iwan adalah kesederhanaan dan selera humornya yang segar. Beliau tak pernah membeda-bedakan tamu yang datang. Semua disambutnya dengan ramah dan hangat. Sehari sebelum kedatangan kami, Pak Iwan menjamu seorang menteri. Tapi beliau tidak enggan menjamu kami yang bukan siapa-siapa. Bahkan beliau tidak menyuruh kami cepat-cepat pulang meski tak lama berselang beberapa pengusaha asal Surabaya juga datang berkunjung. Para pengusaha tersebut harus rela menunggu sampai Pak Iwan selesai “menjamu” kami.

Menjamu ala Pak Iwan identik dengan menyuguhkan kopi yang diseduhnya sendiri.  Beliau selalu bangga mengatakan ‘sekali seduh, kita bersaudara’. Baginya secangkir kopi adalah awal sebuah persaudaraan  “Jangan pernah takut minum kopi. Selama tidak berlebihan, kopi itu malah menyehatkan. Saya juga ingin mengubah bahwa imej bahwa kopi yang baik itu tidak harus hitam dan pahit. Kalau kopi terlalu hitam, kafeinnya malah tinggi. Kopi itu bisa disesuaikan dengan masing-masing orang,” beber Pak Iwan.

Pak Iwan tak pelit berbagi ilmu tentang kopai (cara orang Using melafalkan kopi). Kami mendapat cerita panjang lebar tentang sejarah bagaimana dan kapan kopi masuk Indonesia, daerah-daerah perkebunan kopi di Indonesia, hingga bagaimana membedakan kopi Arabica dan robusta. Pak Iwan tak lupa menunjukkan koleksi kopi miliknya yang berasal dari berbagai pelosok Indonesia dan dunia, serta bagaimana mengenali jenis kopi dari aromanya. Untuk yang satu ini, saya menyerah. Saya nyaris tak bisa membedakan aroma kopi toraja, kopi luwak dan kopi lainnya. Berikutnya kami diajari cara menyeduh dan bagaimana seni menikmati minuman hitam pekat itu. Sebelum meminum kopi, hidung harus didekatkan pada bibir cangkir. Setelah aroma kopinya merasuk ke hidung, baru diseruput. Saat di mulut tahan dulu kopinya sampai meninggalkan jejak di lidah.

Belajar langsung dari ahlinya (Foto by Femi Diah)

Belajar langsung dari ahlinya (Foto by Femi Diah)

kopi17    kopi10      kopi7

Rak berisi berbagai peralatan untuk minum kopi

Rak berisi berbagai peralatan untuk minum kopi

Mendapatkan kopi yang berkualitas ternyata ada rahasianya, dimulai dari proses menyangrai yang benar. Salah satu kesalahan fatal yang sering terjadi adalah biji kopi dicuci terlebih dulu sebelum disangrai. Padahal itu bakal menghilangkan aroma kopi. Pelajaran lainnya, kopi lebih baik disimpan dalam bentuk biji daripada bubuk, karena bisa lebih tahan lama dan awet aromanya. Sore itu kami benar-benar mendapatkan pelajaran lengkap dan berharga tentang kopi.

“Impian saya adalah bagaimana supaya kopi Indonesia bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri dan mengajarkan kepada masyarakat  bagaimana menikmati kopi yang benar. Di luar negeri, kopi Indonesia dikenal berkualitas tinggi. Tapi orang Indonesia sendiri kadang lebih bangga minum kopi dengan brand-brand luar negeri. Saya juga ingin menguatkan branding Banyuwangi Kota Kopi, the city of coffee. Tentang branding ini, saya yakin akan berhasil. Ini tentang siapa yang duluan berani membranding. Saya tidak peduli dengan pendapat orang,” ujar Iwan yang menjadi salah satu penggagas acara Sangrai Kopi Massal di Banyuwangi, beberapa waktu lalu.

Ya, selain cinta kopi (sampai-sampai sering becanda dengan mengaku lahir di bawah pohon kopi), Pak Iwan juga sangat mencintai Banyuwangi. Kami saat itu menjumpai Pak Iwan di Sanggar Genjah Arum di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwang. Desa Kemiren dikenal sebagai salah satu desa adat Using yang besar. Sanggar Gejah Arum merupakan bukti kecintaan dan komitmennya dalam melestarikan budaya using, yaitu subkultur terbesar yang hidup di Banyuwangi.

Meskipun bukan urang Using, Pak Iwan yang berdarah Tionghoa bisa dibilang “sangat using”. Sanggar Gejah Arum terdiri atas sembilan rumah khas orang Using berbahan yang rata-rata usianya sudah sangat tua. Sanggar tersebut dipenuhi berbagai ornamen dan barang khas Using seperti angklung paglak di halaman depan, lesung, mebel hingga lemari.

Pak Iwan tergerak membangun sanggar karena prihatin saat menyaksikan orang-orang asing membeli rumah tradisional Using di Kemiren. Biasanya rumah tersebut dibongkar dan kayunya dijadikan mebel. Fenomena itu mengusik Pak Iwan. Beliau akhirnya rela merogok kocek pribadi jika ada rumah Using yang dijual. Setelah terkumpul banyak, Pak Iwan membangun sanggar tersebut.

kopi15

Kami mendapat oleh-oleh kopi ini (Foto by Femi Diah)

Kami mendapat oleh-oleh kopi ini (Foto by Femi Diah)

Foto bersama

Foto bersama

Suasana rumah tersebut sangat asri dan membuat betah. Sanggar Gejah Arum kini menjelma menjadi seperti pusat kegiatan tiyang Using. Mereka berdiskusi dan melakukan berbagai aktivitas di sana. Pak Iwan memang tidak menetap di sanggar tersebut. Namun hampir setiap hari, jika tak ada agenda di luar daerah atau luar negeri, beliau menghabiskan banyak waktu di sanggat terutama pada malam hari, bahkan sampai sering lupa waktu.

Tak terasa empat jam lebih kami menghabiskan waktu di Sanggar Genjah Arum. Selain dijamu Pak Iwan kami juga bebincang panjang lebar dengan seorang tokoh Using. Mas Donna sudah beberapa kali mengingatkan kami untuk segera beranjak. Meski enggan, kami akhirnya berpamitan. Pak Iwan ternyata berbaik hati memberi kami buah tangan, masing-masing mendapat sebungkus kopi khas Banyuwangi. Tentu saja, kopi itu merupakan hasil racikannya. “Kopi ini gratis, tapi kalau habis jangan minta lagi ya,” ujar Pak Iwan sambil tertawa lebar. Terima kasih, Pak Iwan. 🙂

Banyuwangi, Mei 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

36 Responses to Setiawan Subekti dan Dunia Kopi

  1. DianRuzz says:

    Tekstur kopi yang ringan dilidah itu yg gimana mbak? Bukan penghobi kopi juga nih🙂
    Kalau dibandingin sama kopi instant yg white itu, lebih ringan mana?😀

    • yusmei says:

      hahaha waduh susah menjelaskan dengan kata2. aku belum pernah nyoba yang kopi instan white mbak, soalnya kalau minum kopi gak suka dicampur macem2. lagian jarang juga minum kopi hahahaha

  2. johanesjonaz says:

    Sanggar Genjah Arum ya? hm… semoga bisa bertemu dengan beliau dalam waktu dekat…

    • yusmei says:

      Kalau ketemu dijamin bakal betah ngobrolnya jo…serasa dapat pelajaran tapi dengan cara yang menyenangkan..trus bisa nyoba-nyobaik beraneka jenis kopi…asik deh🙂

  3. Halim Santoso says:

    I love coffee…jadi….tunggu kedatangan saya om Iwan😀
    Menohok baca ini >> “orang Indonesia sendiri kadang lebih bangga minum kopi dengan brand-brand luar negeri” yang emangg betul…anak muda lebih suka nongkrong nggak jelas di Stebak ato merk luar lain ketimbang di warung kopi yg jual kopi tubruk asli daerah tersebut…. *merenung*

    • yusmei says:

      Semoga bisa segera ketemu lim, orangnya asik banget…iya, padahal kualitasnya gak kalaah, malah sebagian lebib baik yang kopi indonesia…ini soal mental bangsa kita yang kadang silau dan bangga jika diasosiasikan dengan budaya barat *kritikan ini juga berlaku untuk diriku sendiri lim🙂

  4. nyonyasepatu says:

    seruu banget🙂 di medan banyak warung kopi tapi jarang ada yang beginian nih. sekali2nya aku ikut coffee testing di kantor si Matt🙂 seharian nyobain kopi macem2. itupun gurunya dari italia yang minum kopinya seruuu banget.

  5. dee nicole says:

    Waaa…kenalin mbakkk! ! Saya juga coffe addict.sampe bela2in beli grinder sama mesinnya buat dikamar.tapi bijinya beli yg udah mateng yg udah dipack.
    la ya itu orang kita suka belagu minum kalo ga model luar ga bisa.espressolah, cappuccino lah black coffeelah pdhl bijinya ya dari Indonesia cuma mesinnya aja buatan luar.ga salah itu kopi luwak emang terkenal dimana2.
    Jadi ga kapok minum kopi lagi kan? ^ ^

    • yusmei says:

      kapan2 harus main langsung ke banyuwangi mas, dijamin gak nyesel. tapi memang sebaiknya janjian dulu karena pak iwan sering pergi2 juga. Wiiih punya mesin pembuat kopi itu? padahal harganya mahaaal. yang punya pak iwan itu harganya katanya lebih dari 30 juta….hahaha…
      Tetep sampai sekarang gak hobi kopi…mending minum beras kencur🙂

      • dee nicole says:

        Bukan yg gede mbak.yg kecil aja.disini murah kok.paling 4 jutaan.kalo yg gede kaya di lavazza ato Starbucks itu bisa bikin apa aja.yg ini cuma buat espresso. Tapi beratnya ampyun.
        Saya juga suka beraskencur drpd godhong kates.pait ^ ^

      • yusmei says:

        Waaah para penikmat kopi jan nyenengkeh ya mas…kapan aku iso gabung dadi penikmat kopi. Eh mas nek beras kencur karo wedang ronde enak endi? *ben tambah kangen solo hihihi

  6. Avant Garde says:

    paling nggak ngerti soal kopi, minum dikit langsung jantungan :p

  7. rahmattrans says:

    Bagi penikmat kopi pasti tau perbedaan rasa setiap kopi…. cm terkadang ketika seorng tester sperti pak iwan, ia biasanya pasti tahu mana pecinta kopi n yg bukan pecinta kopi….. Jujur, klo saya bkan penikmat kopi mbak…. hehhe🙂 tp seneng juga klo bisa mgobrol dengn testernya …🙂

    • yusmei says:

      sama mas, saya juga bukan penikmat kopi🙂. Iya, seneng banget bisa ngobrol dengan pak iwan, dapat banyak ilmu tentang kopi meskipun bukan penikmat kopi. saya sekarang penasaran pengen ngobrol dengan tester teh🙂

  8. Serasa diingetin kalau ini udah waktunya minum kopi. Makasih, hehehe..🙂

  9. saya memang bukan penikmat kopi..namun kadang kopi juga dibutuhkan ketika kerja malam..

  10. giewahyudi says:

    Kopi enak itu susah dapetinnya, misalnya kopi luwak..
    Wah Pak Iwan ini orang Banyuwangi? Banyuwangi sekarang guyup banget ya, kayaknya karena pak bupatinya yang selalu semangat menggodok wisata Banyuwangi. Oke nanti kalau ke Banyuwangi mari kita cari Pak Iwan..

    • yusmei says:

      kopi luwak susah dapetinnya dan mahal..hehehe
      Iya mas, Banyuwangi sekarang sedang semangat menggeliat, semoga terus terjaga dan meningkat, soalnya potensi Banyuwangi sungguh luar biasa. Paket wisata lengkap. Okeeh mas, silakan berburu pak iwan🙂

  11. Waktu beliau tahu saya orang Medan, dia malah teriak “Bah, orang Medan minumnya kopi sachetan? Macam mana pulak!” Terus dia seduhkan kopi yg cukup ringan utk saya cobain. Eh mantap tenan kopinya!

  12. Huaaa kemarin baru ngelike aja belum sempet komen.
    Sama Mbak, aku pun bukan penggemar kopi dan nggak pandai membedakan berbagai jenis kopi. Biasanya minum kopi kalo pas coffee break aja di meeting dll hehe.. atau pas iseng2 tp itu pun jarang. Cuman pas ke Aceh..aku suka kopinya tapi nggak bisa jelasin kenapa.😉
    Seru banget deh ceritanya ketemu sama Pak Iwan. Baik dan rendah hati sekali yaa.. Kalau melakukan sesuatu karena cinta itu bawaannya jd seneng terus dan bisa menikmati. Btw jadi itu ngopi2nya di sanggarnya ya?

    • yusmei says:

      Tapi kopi aceh memang enak sih cha, tp aku juga gak bisa jelasin kenapa. Apa gara2 suasana juga ya, karena di sana kental budaya ngopi. Iya, pak iwan ini baik banget dan ramah. Ini ngopinya memang di sanggar beliau, yg kental budaya osing…betah banget di sana, sampai hampir 4 jam😀

  13. kartono71 says:

    Ngopi dhisik ben gak salah paham… salam kenal buat sdri. Yusmei…

  14. anang fauzie says:

    Beruntung saya dapat masuk ke pendoponya
    pak iwan sangat humble…6 cangkir saya kumur kopi buatannya
    dan plg masih dapat oleh2…
    once brew we bro…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: