Relaksasi di Lembah Harau

Melakukan perjalanan tanpa itinerary detail kadang malah asyik karena biasanya berbonus kejutan. Tapi, saya ini memang dasarnya agak malas nyusun-nyusun jadwal dan agenda. Jadi…mencari kejutan itu bisa dibilang hanya kamuflase. Alasan sebenarnya ya malas itu tadi..hehehe

harau9

    harau4   harau6   harau16

Perjalanan saya dan seorang sahabat, Krisna, ke Sumatra Barat, Juni lalu, termasuk kategori tanpa itinerary detail itu. Kami berangkat hanya berbekal artikel hasil browsing dari internet, uang saku seadanya, tas ransel berisi baju secukupnya dan beberapa nomer telfon teman di Padang. Nah diantara destinasi ala kadarnya, kami memasukkkan Lembah Harau. Gara-gara Harau, kami rela melewatkan Danau Maninjau dan Danau Singkarak yang tersohor itu. Yah, seperti hidup, traveling memang soal pilihan (halah), apalagi “jatah” di Sumbar cuma tiga hari plus beberapa jam. So, Maninjau dan Singkarak skip dulu deh.

Kami memutuskan menginap dulu di Kota Payakumbuh sebelum bertolak ke Harau keesokan harinya dengan menyewa sepeda motor. Yang jadi masalah, kami tiba di Payakumbuh sudah malam dan tidak sempat berkeliling mencari persewaan motor. Karena tak ada pilihan lain, kami mencoba menyewa ke para penjaga penginapan, kebetulan masih muda-muda dan bermotor. Alot juga bernegosiasi dengan mereka. Benar-benar tidak mau rugi.

Pagi-pagi benar kami sudah rapi dan siap berangkat. Jelas kami buta arah. Si penjaga penginapan kemudian berbaik hati membuatkan peta sederhana. Lalu berangkatlah kami dengan berboncengan sepeda motor. Sekitar 8 km atau 10 km berikutnya, kami merasa ada yang aneh. Di pinggir-pinggir jalan banyak papan penunjuk arah ke Bukittinggi. Lho bukannya Harau itu ke arah Pekanbaru? Daripada kesasar tambah jauh, berhentilah kami untuk bertanya. Dan benar saja…kami memang salah arah! Setelah melihat-lihat peta dengan seksama, kami tadi memang salah belok haha.

Krisna pun langsung memutar balik motor. Dengan panduan papan penujuk arah dan peta seadanya, kami berhasil juga sampai di kawasan Lembah Harau. Reaksi pertami kami adalah kegirangan!

harau1

harau15

harau8

Bagi pemuja warna hijau, keindahan dan ketenangan, Lembah Harau sangat recommended untuk dikunjungi. Tempat ini terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, yang beribukota di Payakumbuh. Harau diyakini berasal dari kata parau yang artinya suara serak. Konon, dahulu kala penduduk di sana sering berteriak histeris hingga suaranya parau jika datang banjir atau tanah longsor.  Dengan suara penduduk yang parau didengar maka daerah tersebut dinamakan “orau” lantas berubah menjadi “arau”. Lama kelamaan penyebutan lebih sering menjadi “harau”.

Angin segar menggeliat menyapu kulit saat motor kami melaju di kawasan Lembah Harau. Sepanjang jalan kami sangat excited, apalagi suasana pagi itu cukup sepi. Panorama yang terhampar juara dalam memanjakan mata. Jalanan aspal yang kami susuri dihimpit pepohonan dan sawah-sawah hijau di kanan dan kiri. Sepintas mirip suasana di desa-desa kabupaten seputaran Solo, seperti Boyolali, Klaten dan Karanganyar. Bedanya, sawah-sawah hijau tersebut dikombinasikan dengan tebing-tebing granit menjulang yang tingginya mencapai 100-500 meter, dengan kemiringan hampir 90 derajat. Wow

Lembah Harau sebenarnya merupakan cagar alam seluas 669 hektare. Hasil survei tim geologi asal Jerman pada 1980 menyimpulkan jenis batuan yang ditemukan di kawasan ini identik dengan yang ditemukan di dasar laut berupa batuan breksi dan konglomerat. Konon menurut legenda masyarakat setempat, di sekitar Cagar Alam Lembah Harau dulunya adalah laut.

Saking girangnya kami pun langsung berburu tempat untuk memotret (meskipun hasil jepretannya sama sekali tidak dasyat.heheh). Krisna yang kebetulan pencinta berat olahraga panjat tebing pun langsung tak sabar mengabadikan tebing-tebing nan indah dan anggun tersebut. Tujuannya buat di dipamerkan ke teman-temannya atlet panjat tebing dong. Hahaha. Buntutnya, perjalanan pun menjadi lamban karena berulang kali kami berhenti untuk mengambil foto. Tebing-tebing tersebut sungguh-sungguh membius dan sayang untuk diabaikan.

Spot wisata di Lembah Harau ada beberapa. Untuk masuk ke kawasan wisata, kami ditarik Rp5.000 perorang. Dari gerbang utama, ada persimpangan. Ke kanan menuju area Sarasah Bunta, sedangkan ke kiri menuju resort Aka Bayarun. Kami pun memilih ke kanan terlebih dahulu.

Sarasah Bunta masih agak sepi ketika kami tiba. Baru ada segelintir orang. Atraksi utama di kawasan ini adalah air terjun. Ada Sarasah Bunta, Sarasah Aie Luluih dan Sarasah Murai. Sayang sekali, kami datang ke sana bertepatan dengan musim kemarau. Air terjunnya tak mengalir deras, bahkan nyaris seperti pancuran. Dibandingkan air terjun Tawangmangu di Karanganyar jelas tak ada apa-apanya. Namun cekungan di bawah air terjun cukup menawan. Beberapa anak kecil riang gembira menceburkan diri ke dalam air. Padahal saat itu dingin minta ampun.

Pengunjung di Sarasah Bunta

Pengunjung di Sarasah Bunta

    harau20   harau10    harau21

Deretan warung siap memanjakan perut

Deretan warung siap memanjakan perut

Beranjak agak siang, kawasan itu semakin ramai. Rombongan dalam jumlah besar mulai berdatangan.  Kami agak heran melhat banyaknya jumlah pengunjung karena saat itu bukan akhir pekan.  Ya, mungkin saja mereka sedang cuti dari pekerjaan seperti kami.

Puas menimati Sarasah Bunta, kami memacu motor menuju kawasan Aka Barayun. Spot ini lebih modern dibandingkan Sarasah Bunta. Warung-warung berdiri berjejer siap memanjakan perut pengunjung. Ada juga air terjun, tapi kami tidak mampir. Kami memilih naik ke “gardu pandang” untuk melihat-lihat Lembah Harau dari ketinggian. Sebenarnya letak gardu pandang ini tak terlalu tinggi. Tapi tetpa saja napas saya tetap ngos-ngosan. Beginilah efek malas berolahraga.

Menurut saya, bagian paling mengesankan dari Lembah Harau malah bukan spot wisatanya. Daya tarik utamanya adalah kombinasi sawah dan tebing di sepanjang perjalanan menuju spot-spot wisata. Panoramanya sungguh ajib. Hilang sudah segala keruwetan pikiran. Tak sulit jatuh cinta dengan tempat ini.

harau17

    harau19      harau14      harau18

Matahari bersinar garang tepat di atas kepala, ketika kami bersiap-siap kembali ke Kota Payakumbuh. Rasanya enggan meninggalkan kenyamanan dan keindahan Lembah Harau. Memandang hamparan tebing kokoh dan sawah hijau benar-benar sebuah relaksasi sempurna. Pikiran menjadi ringan dan tenang. Hiruk pikuk kota dan bertumpuk pekerjaan yang menghantui langsung terlupakan. Makanya, enggan rasanya untuk beranjak. Tapi perpisahan dengan Lembah Harau tak bisa ditunda lagi.  Kami harus segera kembali ke Padang.

Krisna sepertinya juga belum puas. Dia malah berangan-angan mengajak teman-temannya untuk menjajal tantangan memanjat tebing-tebing di Harau. Kalau untuk yang satu ini saya angkat tangan! Harau, jika ada kesempatan dan waktu, mungkin kita akan bersua lagi.

Payakumbuh, Juni 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

51 Responses to Relaksasi di Lembah Harau

  1. rahmattrans says:

    Koas sablon seperti gambar di atas biasa jadi hal wajib sebagai souvernir… hehe🙂

  2. kakkk, itu cakeepp benerr sihh foto yg belakangnya bukit di depannya ada rumah adat

  3. nyonyasepatu says:

    yus….awal taon depan ke padang yuk🙂 aku serius nih, kita ketemu di padang deh hahaha. aku lagi pengen nonton pacuan jawi🙂

  4. belum sempat mampir ke harau… pertama kali lewat doang waktu siang, keduanya malem🙂

  5. Fascha says:

    Rindu ama tempat2 yang ngademin mata kaya’ gini… Keliatannya sejuuuk banget

  6. buzzerbeezz says:

    “Yah, seperti hidup, traveling memang soal pilihan” <- Setuju banget!! Aku malah skip Harau pas ke Sumbar kemaren

  7. aning says:

    nangis bombay nih nggak jadi ikut ke sana… huaaaaaaa…

  8. cobain panjat tebing di sana tuhh.. asyik! udah lama pengen manjat di sana..

  9. dee nicole says:

    Gak kenek mokmen mbak? *salah fokus

  10. Kaos sablon yang ada gambar love nya itu jadi tontonan wajib disetiap tempat wisata, kayak nya harus lebih kreatif lagi nich masyarakat indonesia🙂

  11. noerazhka says:

    lembah harau memang cocok banget lah buat menyepi, merenung, trus galau deh .. hahahaha .. kangen juga teriak2 di depan echo homestay kaya orang gila, cuma demi denger suara kita mantul .. :))

  12. nopan says:

    foto2nya keren *melongo :O

  13. ghozaliq says:

    dan saya cuman bisa mupeng liad liad fotonya T_T

  14. arievrahman says:

    Belum pernah ke Padang, kayaknya ini keren ya Mbaaak..

  15. ikhsan says:

    matap potonya.
    kami hadir dengan paket perjalanan bersepeda lintas Harau.
    kunjungi kami.
    A Journey Advanture : Bike To Harau. terima kasih

  16. traveler says:

    a good picture..
    very exited😀

  17. bersapedahan says:

    lembah harau … ajib … saya ingin jalan2 ke daerah sini … kalau bisa sih sambil sepedaan ,,, lebih asyikkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: