Tari Tradisional (Untungnya) Belum Dilupakan

Berlatih Tari Piring

Berlatih Tari Piring

Menyambangi museum memang butuh waktu longgar. Jika terburu-buru, kita akan kesulitan mengeksplor secara mendalam. Kunjungan akhirnya menjadi hambar, karena tak banyak yang bisa diserap. Itulah yang saya rasakan saat berkunjung ke Museum Tekstil Jakarta, akhir Oktober lalu. Rasanya baru sebentar berkeliling, tahu-tahu petugas sudah memberi tahu museum segera tutup.

Museum Tekstil menempati sebuah gedung tua di Jl. KS Tubun, Petamburan, No.4, Tanah Abang, Jakarta Barat. Gedung yang ditempati tersebut awalnya villa yang dibangun pada abad ke-19 milik warga Prancis yang tinggal di Batavia. Bangunan kemudian berpindah tangan ke seorang asal Turki, berlanjut Dr. Karel Christian Cruq, Lie Sion Phin, dan akhinya ke Departemen Sosial. Villa tersebut akhirnya resmi menjadi Museum Tekstil pada 28 Juli 1976.  Koleksi Museum Tekstil cukup lengkap. Di sana tersimpan sekitar 1900-an koleksi, terdiri atas 690-an kain batik, 700-an kain tenun, 60-an koleksi peralatan dan berbagai koleksi busana dan tekstil kontemporer.

Karena diburu waktu, saya berusaha berkeliling dengan cepat dan praktis. Lihat-lihat sebentar, memotret, kemudian pindah. Di ruang pamer utama kebetulan sedang ada pameran batik-batik asal Jawa Barat. Namun, Saya tak punya waktu untuk mengamati dengan detail koleksi yang dipajang. Apalagi  penataan koleksi di Museum Tekstil ini kurang memuaskan. Terasa kurang elegan dan sakral. Untuk urusan koleksi dan penataannya, Museum Tekstil masih kalah dengan Museum Batik Danar Hadi di Solo.

Konsekuensi datang kesorean, belum puas mengeksplor museum sudah tutup. Saya pun memutuskan untuk balik kanan. Namun niat meninggalkan Museum Tekstil batal ketika pandangan mata tertumbuk pada puluhan anak-anak sedang berlatih menari di teras gedung pamer utama. Seperti tertarik magnet, saya pun mendekat dan akhirnya enggan beranjak pergi.

Lincah bergerak

Lincah bergerak

Memberi contoh

Memberi contoh

Ceria

Ceria

Latihan tari sore itu diikuti sekitar 20 anak. Anak-anak berwajah menggemaskan itu dibagi menjadi dua kelompok yang membawakan tarian berbeda. Tak ada keengganan dari wajah bocah-bocah lucu tersebut. Mereka riang melahap sesi latihan menari yang dipandu dua orang pelatih. Keringat yang bercucuran di wajah tak dihiraukan. Dengan penuh konsentrasi anak-anak tersebut melatih gerakan tarian supaya sempurna.

Suasana latihan sangat meriah karena tarian diiringi musik yang menghentak riang. Dari musiknya,l angsung ketahuan anak-anak ini sedang belajar tarian Sumatra. Tari piring asal Sumatra Barat dan sebuah tarian Batak Sumatra  Utara. Entah apa nama tariannya, tapi yang jelas berasal dari Batak karena tarian ditutup dengan teriakan Horas. Hehehe

Di antara seluruh penari anak-anak tersebut, ada seorang bocah laki-laki yang berhasil mencuri hati saya. Dia mengenakan kaos kuning dan celana panjang warna merah. Gerakannya lincah, luwes dan rancak saat membawakan Tari Piring. Sedap dipandang. Kepercayaan dirinya juga terpancar kuat. Sayang, saya tidak sempat menanyakan namanya. Namun, bukan anak berbaju kuning saja yang tampil menawan. Hampir semua anak-anak tersebut sangat menggemaskan dan terampil menari. Saya benar-benar iri terhadap mereka.

Mengapa saya iri? Jelas karena mereka begitu mahir membawakan tarian-tarian daerah . Dulu saat masih duduk di bangku SD, saya memang pernah belajar menari. Tapi baru berlatih beberapa kali saya memilih berhenti. Tubuh saya yang kaku tidak cocok untuk tarian Jawa yang lemah gemulai. Kemudian saya berpikir. Mengapa dulu saya tak kepikiran belajar tarian Sumatra yang lebih rancak dan tak terlalu gemulai seperti tarian Jawa? Namanya juga anak kecil, tak mungkin berpikir hingga sejauh itu.

Yang jelas, melihat anak-anak tersebut bersemangat menari, hati saya berbunga-bunga.Tarian tradisional ternyata belum dilupakan. Setidaknya masih ada segelintir orang yang peduli, termasuk anak-anak tersebut. Orang tua mereka juga pantas diapresiasi. Tidak semua orang tua punya inisiatif mengenalkan tarian tradisional Indonesia kepada anak-anak mereka. Jadi, bisa dibilang mereka adalah orang tua yang langka dan hebat. Semakin banyak orang seperti mereka, kebudayaan Indonesia pasti bakal lebih lestari. Kunjungan ke Museum Tekstil pun akhirnya batal ditutup dengan wajah cemberut. Anak-anak tersebut benar-benar menjadi penyelamat hari saya🙂

Jakarta, 24 Oktober 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

33 Responses to Tari Tradisional (Untungnya) Belum Dilupakan

  1. DianRuzz says:

    Lho? Kenapa ga ikut menari dengan anak-anak ini mbak? Kan seruuuuu😀

  2. Aku pengin deh bisa nari daerah..
    Btw pernah pas ke Museum Tekstil eh pas tutup..lupa pas hari besar apa gitu. Semoga nanti bisa ke sana lagi pas buka.

    • yusmei says:

      Sama, nyesel dulu gak belajar tarian daerah🙂. Nyoba ke sana lagi aja, tapi jangan kesorean nanti kurang puas. Museumnya tutup jam 3, Kalau mau liat proses belajar batik, datangnya agak pagi,…katanya jam 10 sampai jam 1-an siang🙂

  3. dee nicole says:

    Tari lesung ya mbak? Kok bawa lesung gitu?

  4. Ceritaeka says:

    Aku belum pernah ke museum tekstil dan Danar Hadi di Solo, PRku banyak nih😉
    Ah, segar rasanya membaca ini, ada secercah harapan akan tarian tradisional kita.
    Ma kasih, mbak for writing this!

  5. Feº A says:

    Jeng, kalau belajar tari tradisional udah ga ada temennya (biasanya klas utk anak anak) kenapa ga coba belajar dansa? seru juga lho…

    • yusmei says:

      waduuh mbak kalau belajar dansa kayaknya badannya kaku banget…soalnya gak bakat nari blas. sebenernya ada teman sih yang jadi guru dansa gitu hehehehe

      • Feº A says:

        eh engga jeng, dansa cuma ngapalin step kaki aja, ga perlu luwes2 amat spt tari jawa kok, belajar yg latin , energic dan gerakannya patah2. asik loh..

      • yusmei says:

        *jadi kepikiran belajar dansa lho mbakyu…sepertinya agak mudah. Tapi kalau latin ampuuun, susah, Dulu temen kuliah ada yang jago tarian latih dan saya gak bisa ngikutin blas mbak hihihi

      • Feº A says:

        caya deh…gampang, coba tanya temennya yg guru dansa itu..les dansa di jkt mahal lhoo..mungkin di ygy lebih masuk akal..

      • yusmei says:

        Kalau di solo sini kayaknya juga mahal mbak…tapi kalau sama temen bisa dapat diskon gede…hehehe.

  6. Hill-men says:

    blm pernah ke museum textil nih hehe,,
    isinya apa aja mbak disana selain kain?😄

    • yusmei says:

      Sebagian besar kain hilmen….ada juga peralatan tradisional untuk membuat kain dari berbagai tempat di Tanah Air. Ada juga kelas belajar membatik, kemudian toko suvenir. Kainnya ada yang batik, ada juga kain tradisional lain seperti songket dan tenun🙂

  7. buzzerbeezz says:

    Anakku besok aku suruh latihan nari aaahhhh..😀

    • yusmei says:

      Harus doooong. Diajarin tari aceh, batak, padang, solo, jogja dll, jangan ketinggalan tari Pati (eh ada gak sih?)🙂. Anakku juga aku suruh belajar juga. Tapi yang jelas nyari calon bapaknya dulu hahahaha *malah curcol

  8. salah satu impian gua menetap dimana gitu sebulan belajar tari tradisional atau tenun… tapi kapan punya waktu sebulan libur

  9. chris13jkt says:

    Senang juga ternyata di Jakarta masih ada juga anak-anak yang masih menyenangi tari tradisional Indonesia

  10. efenerr says:

    nyobain sate domba afrika ga mbak? yang disebelah museum tekstil.

  11. noerazhka says:

    ngomong2 soal tari tradisional, sekarang udah ngga diajarkan lagi ya di sekolah2 .. padahal dulu di sekolahku, bocah yang keren itu yang ikutan ekstra tari tradisional .. hahaha ..

    jadi inget, pas di Kasepuhan kemaren juga ada anak2 belajar tari ya, mba ..🙂

    • yusmei says:

      kayaknya enggak zah, tapi beberapa sekolah swasta sepertinya malah ada. Hhahahaha makanya dulu ikut, ternyata gak iso..
      iya di kasepuhan ada, tapi gak sempet nonton lama ya😦

  12. Avant Garde says:

    udah pasti tari tor tor hahaha… (Batak : tor tor = tari) :p

  13. arievrahman says:

    Aku dulu pernah diajakin tanteku nari di Solo pas kecil, jadi anak buahnya … Hanoman😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: