Sunyaragi’s Future is Sunyaragi’s Past

10-gua

Salah satu sudut Gua Sunyaragi

Belakangan ini saya sering jadi pejalan “manutan”. Maksudnya ketika traveling ke suatu tempat dan ada teman yang tinggal di kota tempat tersebut, ujung-ujungnya saya malas membuat itinerary. Manut saja mau diajak kemana (bilang saja males mikir). Saya percaya sebagai orang lokal, mereka tahu seluk beluk daerahnya.

Gaya pejalan manutan ini saya praktikkan ketika melipir ke Cirebon bersama sahabat saya, Azizah. Kebetulan juga saya punya sahabat yang lahir dan kini menetap di Cirebon, Lutfiyah. Beruntungnya lagi, kami berdua mendapat kenalan baru, teman-teman dari komunitas Cirebon Backpaker. Anne dan Ucie, juga Rene dari Backpaker Cirebon sudah menyusunkan itenerary buat kami. Asyik kan?

Referensi saya tentang wisata di Cirebon terus terang sangat terbatas. Paling hanya seputar Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Batik Trusmi, nasi jamblang dan empal gentong. Komentar lain yang sering mampir di telinga adalah soal cuaca Cirebon yang panas menyengat.  Selebihnya nihil.

Tapi, jangan dulu buru-buru mengabaikan Cirebon. Setiap kota atau destinasi pasti punya sisi menarik. Mendeskripsikan menarik memang sangat subjektif. Itu bertalian dengan selera dan cara pandang. Nah, soal Cirebon ada satu objek wisata yang menurut saya sangat mengesankan, yaitu Gua Sunyaragi. Tempat ini dikenal juga dengan sebutan Taman Sari Gua Sunyaragi. Ketika Lutfiyah kali pertama menyebut tempat ini reaksi saya datar saja. Begitu pula saat teman-teman dari komunitas Backpaker Cirebon memasukkan Sunyaragi ke dalam itinerary. Tapi kecuekan saya berubah 180 derajat ketika melangkahkan kaki ke dalam kompleks gua, pada pengujung November lalu.

Gua Sunyaragi bisa dibilang adalah jejak kejayaan Keraton Cirebon di masa silam. Sunyaragi berasal dari bahasa Sanksekerta. Sunya yang berarti sepi dan ragi yang berarti raga. Tujuan didirikannya bangunan ini konon memang untuk tempat bermeditasi dan beristirahat Sultan Cirebon dan keluarganya, dengan kontruksi bangunan berupa taman air. Pada masa lalu, kompoleks gua tersebut dikelilingi sebuah danau yang bernama Danau Jati.  Bangunan yang luasnya sekitar 1,5 hektare tersebut berada di tengah-tengah kota Cirebon, tepatnya di Jl. Bridgend AR Dharsono, Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon.

Saya dan Azizah diantar berkeliling oleh seorang guide yang sudah sepuh, Raden Budi Slamet. Beliau mengaku lahir di Bandung, namun besar di Cirebon. Pengetahuannya tentang Sunyaragi sangat luas. Satu lagi bahasa Inggrisnya juga mantap! Pak Slamet juga mahir mengucapkan salam dalam berbagai macam bahasa.

Menyusuri Taman Sari Sunyaragi, saya mencium aroma kejayaan. Susunan batu-batu di Sunyaragi seolah tidak teratur, tapi mata saya justru menangkap kontruksi bangunan yang indah dan gagah. Taman ini dibuat dengan perpaduan gaya Hindu, China dan Timur Tengah. Eksotis!

Gua Langse

Gua Langse

Gua Peteng

Gua Peteng

Menurut Pak Slamet, kontruksi Gua Sunyaragi terdiri atas batu karang, batu bata, kapur, batu biasa, dan putih telur sebagai perekat. Batu karang khusus diambil dari laut Karangjati. Gua ini sekarang pengelolaannya di bawah Yayasan Keraton Kasepuhan. Versi Pak Slamet, Taman Sunyaragi ini dibangun pada 1536, sesuai cerita lisan turun-temurun, dan kali pertama direnovasi pada 1703. Sedangkan menurut versi lain,  Gua Sunyaragi didirikan pada 1703 oleh Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati. Mana yang benar? Biarlah ahli sejarah yang menjawab.  Yang jelas pada 1852 Sunyaragi kembali diperbaiki, setelah rusak karena serangan Belanda pada  1787.

Taman Sari Sunyaragi terdiri atas sejumlah bagian. Sebut saja Gua Pengawal yang merupakan tempat berkumpul prajurit keraton dan menjadi bagian yang paling awal dibangun. Bagian selanjutnya adalah Bangsal Jinem, yang berasal dari kata puji dan gunem. Di sinilah Sultan Cirebon biasanya berpidato untuk memberikan wejangan. Dari tempat itu pula Sultan biasanya mengamati para prajurit yang sedang berlatih perang di alun-alun.

Ruang yang kiri konon bisa "tembus" ke China, yang kanan "tembus" ke Mekkah

Ruang yang kiri konon bisa “tembus” ke China, yang kanan “tembus” ke Mekkah

1-goa  2-gua2  8-gua

Bagian selanjutnya ada Mande Beling yang artinya tempat marmer, yang menjadi tempat istirahat raja dan keluarganya. Sayang marmer yang dipasang sekarang bukan yang asli. Dulu marmer yang digunakan berasal dari China, namun diganti ketika direnovasi pada 1977.

Melangkah ke bagian selanjutnya kami menemukan Gua Peteng, yang dinamai begitu karena di dalamnya sangat gelap. Gua tersebut biasa dipakai untuk bersemedi Pangeran dan Sultan Cirebon. Konon ada juga cerita mistisnya. Ada kejadian apa pun di Gunung Jati bisa diketahui di Gua Peteng. Setidaknya itulah yang diceritakan Pak Slamet. Di Gua Peteng ini ada Patung Perawan Sunti. Jika ada perawan yang memegang patung ini, kelak dia akan kesulitan mendapat jodoh. Duh, amit-amitt.

Bagian berikutnya sangat menarik. Gua Langse yang berarti gua tirai. Dulu jika pangeran dan sultan duduk di sana tidak bisa dilihat dari depan karena tempatnya bertiraikan air terjun. Tapi sayang, air terjun itu kini sudah tidak ada lagi. Kering kerontang. Berikutnya ada Menara Pengawas dan bak untuk pendingin. Bak tersebut semacam AC alami, berbentuk kayu-kayu dengan susunan vertikal dan horisontal.

Keramik di Mande Beling

Keramik di Mande Beling

Gedung pertunjukan di kompleks Gua Sunyaragi. Biasanya tempat menggelar kesenian tradisional seperti Sintren.

Gedung pertunjukan di kompleks Gua Sunyaragi. Biasanya tempat menggelar kesenian tradisional seperti Sintren.

Bale Kambang menjadi bagian yang berikutnya. Tempat seluas 25 meter persegi itu dulunya dikelilingi oleh kolam sehingga tamu harus naik getek untuk mencapai Bale Kambang, namun kini airnya sudah mengering. Dahulu kala biasanya ada pria yang menabuh gamelan di Bale Kambang untuk menyabut tamu. Kini untuk menjangkau Bale Kambang menjadi lebih mudah karena dihubungkan dengan tiga jembatan buatan.

Masih banyak bagian-bagian lain, seperti panggung budaya Sunyaragi, Gua Argajumut, Gedung Panembahan, pos penjagaan, gua pande kemasang, dan gua padang ati. Yang disebut terakhir adalah gua yang biasa digunakan sultan atau pangeran untuk bersemedi jika sedang galau. Tertarik mencoba?

Kesan sakral dan mistis juga terasa sangat kuat di sana. Seperti cerita Pak Slamet tentang dua ruangan di Gua Argajumut . Konon, ruangan sebelah timur bisa menembus ke China, sedang yang sebelah barat bisa menembus Mekah. Soal kebenaran cerita ini saya juga tidak bisa membuktikan. Boleh percaya, boleh juga tidak.

Jujur, saya tidak menyangka bisa menemukan tempat sekeren ini di Cirebon. Sayangnya, seperti mayoritas tempat bersejarah di negeri ini, Sunyaragi juga identik dengan kata terabaikan. Kebersihan Gua Sunyaragi terlihat kurang terjaga, kesannya kusam. Pintu masuk dan loket untuk pengunjung pun dibuat seadanya. Tak ada kesan pengelola ingin memaksimalkan potensi Gua Sunyaragi sebagai tempat wisata unggulan. Sunyaragi seolah dibiarkan berjalan tanpa arah.

Pak Slamet bercerita pada 2014 Pemerintah Cirebon berencana merenovasi tempat wisata tersebut dengan gelontoran dana APBD. Sebuah langkah maju yang pantas diapresiasi. Menurut Pak Slamet, kolam-kolam bakal kembali dialiri air. Air terjun di Gua Langse juga akan kembali dihidupkan. Ah sepertinya indah sekali. Cerita masa lalu tentang Sultan atau pangeran yang duduk di gua tersebut dengan bertiraikan air terjun pasti bakal terasa lebih hidup dan lebih mudah dibayangkan.

Konsep terbaik untuk merevitalisasi Gua Sunyaragi memang harus dengan mengembalikan ke wujud aslinya, sebagai sebuah taman sari. Sekarang saja saya sudah berdebar-debar jika membayangkan seperti apa penampakan Gua Sunyaragi dengan kolam-kolam yang kembali terisi air dan danau penuh air di sekelilingnya. Bale Kambang juga pasti bakal kembali terasa kemambangnya. Apalagi jika disempurnakan dengan keberadaan pria penabuh gamelan sebagai penyambutan tamu seperti di masa silam.

Tentang konsep revitalisasi Gua Sunyaragi ini, saya jadi teringat konsep yang dipakai Jokowi untuk membranding Kota Solo saat dia masih menjadi Wali Kota. Solo Future’s is Solo’s Past”. Solo masa depan adalah Solo masa lalu. Sepertinya konsep ini cocok untuk pengembangan wisata Gua Sunyaragi. Sunyaragi’s Future is Sunyaragi’s Past. Sunyaragi masa depan, adalah Sunyaragi masa lalu. Cara terbaik untuk mewujudkan masa depan Sunyaragi yang lebih baik adalah dengan mengembalikan ke “khittah”-nya. Saya optimistis dengan pengelolaan yang serius, Gua Sunyaragi bisa menjadi salah satu mesin penggerak pariwisata di Kota Udang Cirebon. Semoga.

Cirebon, November 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

27 Responses to Sunyaragi’s Future is Sunyaragi’s Past

  1. Avant Garde says:

    aku pernah lihat goa ini di majalah mop jaman smp dulu :v

  2. nyonyasepatu says:

    foto pertamanya cakep, aku suka🙂

  3. Sy Azhari says:

    Pola di Goa Langse dan Goa Peteng dilihat-lihat kayak bebatuan yang lumer yah. Unik.

  4. Halim Santoso says:

    Fixed artikel ini ratjun sangat kuat buat melipir ke Cirebon… *cek tiket pesawat*

  5. Wow, menarik sekali. Apalagi yang Gua Peteng. Jadi tertarik untuk kesana. Thanks infonya.

    http://www.littlenmoadid.blogspot.com

  6. penyakitgondok2013 says:

    Terimakasih infonya gan … http://bit.ly/JX4yD3

  7. DianRuzz says:

    Waaaahhh klo beneran Gua Argajumut bisa nembus sampe Mekah, aku mau kesana pas puasaan ah. Kali2 aja bisa i’tikaf di Masjidil Haram ga pake naik pesawat.

    Pas disana ga sampe megang patung Perawan Sunti kan mbak? #Eh

  8. chris13jkt says:

    Mudah-mudahan rencana untuk merenovasi dan mengembalikan situs ini ke rupanya semula betul-betul terlaksana ya Yus. Sayang tempat sebagus ini jadi terbengkalai

    • yusmei says:

      Amiin pak. kalau benar-benar direnovasi, pasti lebih banyak wisatawan yang melirik dan yang pasti peninggalan sejarah penting ini juga jadi lebih terjaga

  9. baguss kerenn
    salam kenal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: