Pechersk Lavra

Pengunjung berjalan menuju Pechersk Lavra

Pengunjung berjalan menuju Pechersk Lavra

Menikmati suasana Kiev, Ukraina, bisa dilakukan dengan mudah, apalagi pada musim panas. Suhu di Kiev rata-rata berkisar 21 derajat celcius, cukup sejuk bagi penduduk negeri tropis seperti Indonesia. Berjalan-jalan santai pada sore hari sembari memandangi bangunan-bangunan klasik ala Eropa kuno, duduk santai di taman-taman yang asri atau menjelajahi kota dengan moda transportasi umum yang nyaman, bisa jadi alternatif.

Kiev memiliki sejumlah ikon menarik. Salah satunya Kiev Pechersk Lavra. Ketika kali pertama membaca tentang tempat ini saya langsung kepincut. Namanya terasa sangat eksotis, khas Eropa Timur.   Ini adalah kompleks biara Kristen Ortodoks yang merupakan salah satu bangunan tertua dan terpenting di Kiev. Pada hari terakhir kunjungan ke Kiev, pertengahan 2012 lalu, saya membulatkan tekad mampir walaupun cuma sebentar. Bermodal peta saya pun memantapkan langkah. Setelah sempat agak-agak nyasar, akhirnya saya berhasil juga sampai di depan gerbang bangunan megah tersebut.

kiev8

kiev12

Pintu masuk

Foto-foto

Foto-foto

Lonceng dan rabi

Lonceng dan rabi

 

Untuk masuk ke kompleks Kiev Pechersk Lavra turis mancanegara harus membeli tiket seharga 50 hryvnia (mata uang Ukraina) atau sekitar Rp55.000. Kompleks ini terdiri atas puluhan bangunan penting, seperti museum buku, menara jam dan gereja St. Nicholas yang dibangun pada abad VII. Total kompleks ini terdiri atas 49 bagian, seperti yang tertera di peta di dekat gerbang masuk.

Ketika hendak berkunjung ke Pechersk Lavra ini saya sengaja membawa penutup kepala di tas. Warnanya merah, disesuaikan dengan kaus yang saya pakai hari itu. Penutup kepala tersebut dibutuhkan untuk masuk ke dalam gereja orthodoks yang ada di kompleks tersebut. Hal itu saya ketahui setelah beberapa hari berada di Kiev. Tapi jika tidak membawa pun tidak perlu khawatir. Di sejumlah kompleks gereja besar, biasanya ada toko yang menjual berbagai peralatan ibadah, termasuk penutup kepala bagi para wanita.

Karena tidak punya banyak waktu, saya terpaksa harus memilih. Tidak mungkin meneliti satu demi satu bangunan di Pechersk Lavra. Setelah melihat-lihat lonceng raksasa dan foto-foto yang terpasang di halaman depan, saya memutuskan masuk ke gereja utama. Menjajal masuk ke gereja orthodoks memang sudah menjadi target utama setelah bos di kantor menugaskan saya pergi ke Ukraina. Maklum, tidak di sembarang tempat saya bisa menemukan gereja orthodoks seperti itu. Sembari berjalan ke arah gereja, saya merogoh kerudung di dalam tas. Perlahan saya memasang kerudung, persis seperti hendak menghadiri pengajian di kampung halaman. Bedanya, kali ini yang saya masuki adalah gereja.

Berdoa

Berdoa

kiev5

Berbincang

Berbincang

kiev7

Siang itu pengunjung cukup ramai, campuran jamaah dan turis seperti saya. Sebagian dari mereka langsung menuju ke tempat penjualan peralatan ibadah yang ada di ruangan terdepan. Mayoritas hendak membeli lilin. Tak jauh dari keramaian jual-beli tersebut, seorang perempuan khusuk berdoa, seolah tak terganggu keramaian di sekelilingnya.

Sebenarnya saya penasaran ingin bercakap-cakap dengan beberapa pengunjung. Namun sulit menebak mana yang bisa berbahasa Inggris, karena di Ukraina bahasa utamanya adalah Rusia. Dalam beberapa kesempatan bertanya selama berada di Ukraina, andalan saya adalah menggunakan bahasa Tarsan. Ya sudahlah daripada terlalu lama bengong, akhirnya saya memilih langsung masuk ke ruangan utama.

Aura sakral dan klasik begitu terasa kuat di ruangan utama gereja ini. Ruangan gereja tak terlalu besar, namun terlihat megah. Interior utama di bagian depan dominan dengan warna emas yang menegaskan aura kemegahan. Ukiran-ukiran indah mengelilingi gambar orang-orang suci di agama Kristen. Selain lukisan Yesus, saya tidak tahu pasti siapa tokoh-tokoh suci yang ada di gambar tersebut. Keterangan nama yang terpampang pun tak banyak membantu, karena ditulis dengan cyrilic. Para jemaah yang datang berdoa dengan khusus di depan altar tersebut.

Saat mengedarkan pandangan ke bagian belakang, saya serasa ditarik ke dalam sebuah film klasik semasa kanak-kanak. Little Missy. Di bangku yang terletak di bagian belakang ruangan itu, ada dua orang ibu-ibu sedang berbincang dengan serius. Keduanya memakai gaun putih sederhana dan klasik, disempurnakan dengan hiasan topi. Entah kenapa, pemandangan itu langsung membuat saya teringat dengan pakaian klasik di film Little Missy. Ah sangat menarik! Tak berapa lama kemudian, salah satu dari wanita tersebut melangkah ke depan dan berdoa dengan khusyuk. Saat itulah saya memutuskan meninggalkan gereja. Hari semakin sore dan masih banyak urusan yang harus dirampungkan sebelum kembali ke Tanah Air.

Museum buku

Museum buku

Telur berwarna-warni

Telur berwarna-warni

Pengemis

Pengemis

kiev11

Sebelum keluar dari  Pechersk Lavra, saya memutuskan berkeliling sebentar dan masuk ke museum buku yang ada di belakang bangunan gereja. Saat itu museum sangat lengang, sayalah pengunjung satu-satunya. Untuk masuk ke museum ini saya harus kembali merogoh kocek sebesar 25 hryvnia atau sekitar Rp27.500. Dan apesnya pengunjung dilarang mengambil foto.

Nah, di museum ini saya benar-benar mati kutu. Semua buku koleksi museum ternyata berbahasa Rusia atau Ukraina. Tak ada satu pun yang berbahasa Inggris. Dari bentuknya, hampir semua koleksi museum sepertinya buku kuno yang sangat berharga. Tapi sayang sekali kendala bahasa membuat saya tak tahu buku apa sajakah yang dipajang. Daripada tambah pusing membaca keterangan buku berbahasa Rusia tersebut, saya memutuskan mengakhiri kunjungan di Pechersk Lavra. Singkat tapi mengesankan, dan satu lagi rasa penasaran terjawab sudah.🙂

Kiev, Juli 2012

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

25 Responses to Pechersk Lavra

  1. Avant Garde says:

    hi mbak…. aku jadi host lomba foto nih, temanya museum hehehe *mekso😀

    http://djangki.wordpress.com/2014/02/01/turnamen-foto-perjalanan-ronde-35-museum/

  2. Ternyata di sana juga ada pengemis ya..

  3. Feº A says:

    jeng, gereja2 disana kubah2nya mirip semua ya….eh telur hiasnya rumit2 bagus

  4. rintadita says:

    iya ternyata dimana-mana pun ada pengemis ya….

    • yusmei says:

      Soalnya perekonomian ukraina memang belum maju juga dit, jauh dibandingkan rusia dan negara eropa barat. Tapi pengemisnya gak maksa2 kayak di sini sih :))

  5. nyonyasepatu says:

    astaga, itu telur warna warni minta dibawa pulang hehe

  6. DianRuzz says:

    Caranya pakai pennutup kepala mirip2 dengan caraku berjilbab mbak?
    Omong2, “Kiev Pechersk Lavra” cara bacanya gimana? *serius nanya*

  7. Udah ke Kiev aja, mbak. Gratis ya dibayarin kantor😦

  8. noerazhka says:

    Bangunan2nya semacam di dongeng2 ya ..
    Huwaaa .. Lucky you deh, pernah sampe sana ..😀

  9. potone wis luamyan sih, haha

  10. Rere Safina says:

    may..ukraina ..
    kpn maneh lungo jogja…sing biasa wae nggone..ora adoh bgt tp apik difoto n dinggo wisata…njuk ditulis koyok ngono..yo…tak kancani…numpak mio…hehehe
    sopo reti pembacamu…bukan wong jogja…n arep wisata jogja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: