Kain Lurik: Tentang Menghargai Proses

Menenun lurik

Menenun lurik

“Belajarlah dari pohon, menghargai proses, tidak tumbuh tergesa-gesa.”

(Yus R. Ismail)

Kalimat bijak tersebut saya temukan saat membaca postingan di sebuah blog. Akhirnya saya penasaran mencari tahu sosok Yus R. Ismail. Namanya terasa kurang familier. Ternyata  dia seorang cerpenis dan penulis buku. Kalimat di atas bisa ditemukan dari buku karangannya berjudul Pohon Tidak Tumbuh Tergesa-Gesa. Saya belum pernah melihat secara langsung buku tersebut, apalagi membacanya. Tapi penggalan kalimat itu sangat membekas dalam ingatan.

Poin terpenting dalam kalimat itu adalah tentang menghargai proses. Dengan menghargai proses, kita jadi tahu butuh perjuangan dan kadang pengorbanan untuk menggapai sesuatu. Yang menyenangkan dari suatu keberhasilan kadang bukan pada hasilnya, tapi saat kita menikmati tahapan proses yang harus dilalui.

Soal proses, saya juga jadi ingat ucapan seorang guide di Museum Danar Hadi Solo. Dia menyebut orang yang memahami proses pembuatan batik pasti bakal memaklumi mengapa kain tradisional tersebut berbanderol mahal. Apalagi jenis batik tulis. Selembar kain batik tulis pembuatannya bisa memakan waktu berbulan-bulan, dengan tingkat kesulitan tinggi. Butuh ketelitian dan kesabaran ekstra.

Filosofi menghargai proses tersebut yang akhirnya juga membuat saya bisa mengerti mengapa kain lurik yang dibuat dengan alat tenun manual alias alat tenun bukan mesin (ATBM), harganya lebih mahal dibanding  kain lurik yang dibuat dengan mesin. Sulitnya menghasilkan selembar kain lurik dengan alat tenun manual saya saksikan langsung ketika mengunjungi kediaman seorang perajin lurik di Desa Senden, Kecamatan Weru, Sukoharjo, beberapa waktu lalu. Perempuan yang baru berusia 30 tahun ini bernama Mbak Erna. Bersama suaminya dia merintis bisnis tenun lurik dan kini usaha mereka terbilang sukses.

Motif lurik klasik

Motif lurik klasik

Kain lurik warna-warni

Kain lurik warna-warni

Lurik batik

Lurik batik

Mungkin ada yang belum mengenal lurik. Penjelasan sederhananya lurik ini adalah kain tradisional Jawa dengan corak khas. Perajin lurik bisa ditemukan di wilayah Yogyakarta dan Soloraya (Solo dan sekitarnya), khususnya Klaten dan Sukoharjo. Dulu lurik diperkirakan berasal dari daerah pedesaan di Jawa, kemudian berkembang hingga menembus lingkungan keraton. Tentang nama lurik, konon berasal dari bahasa Jawa, lorek, yang berarti garis-garis, yang merupakan lambang kesederhanaan. Ada juga yang menyebut kata lurik berasal dari akar kata rik yang artinya garis atau parit, yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Sedangkan menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia, lurik diartikan sebagai kain hasil tenunan benang yang berasal dari Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang.

Saya mengunjungi kediaman Mbak Erna bersama sahabat saya, Krisna, pada awal Februari lalu. Rumah mbak Erna besar dan tampak kokoh. Menurut cerita Krisna, rumah tersebut merupakan hasil jerih payah Mbak Erna dan suaminya berbisnis lurik. Siang itu Mbak Erna sedang ada tamu, tapi tetap ramah menyambut kami. Apalagi Krisna memang sudah jadi pelanggan sekaligus rekan bisnis Mbak Erna. Klop deh.

Di lantai ruang tamu, banyak tumpukan kain lurik beraneka warna. Ada juga rak yang dijejali tumpukan kain dan tas-tas berbahan lurik. Setelah berbincang cukup lama, Krisna minta izin untuk melihat-lihat proses pembuatan lurik di bagian belakang rumah. Izin pun langsung diberikan. Pegawai yang bekerja di belakang ternyata tak banyak. Hanya ada enam orang yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tenun lurik milik Mbak Erna memang tak semuanya dikerjakan di rumah tersebut. Mbak Erna juga memberdayakan warga sekitar. Mereka bisa menenun kain di rumah masing-masing dan menyetor setelah selesai, tentu saja dengan mendapatkan upah.

Yang pertama kami temui di teras belakang adalah seorang bapak sepuh yang sedang tekun menenun. Beliau sudah bisa menenun sejak masih muda. Saat ini, menenun sepertinya hanya menjadi salah satu pilihan beliau untuk mengisi waktu, tak lagi ngoyo seperti dulu. Ketika saya bertanya butuh berapa lama untuk menyelesaikan tenunannya, beliau juga tak punya jawaban pasti. “Ya sakrampunge saja mbak,” ujar beliau.

Mewarnai benang

Mewarnai benang

Menjemur benang

Menjemur benang

Benang warna-warni

Benang warna-warni

Belakangan saya baru tahu menenun adalah tahapan terakhir dari proses pembuatan kain lurik. Untuk menghasilkan kain lurik yang bisa disulap menjadi baju-baju, tas, maupun dompet indah nan eksotis, butuh proses yang sangat rumit. Semuanya dimulai pencelupan benang. Warna disesuaikan dengan motif yang akan dibuat. Tren warna lurik saat ini sudah berkembang pesat, tak lagi hanya didominasi warna-warna suram dan kalem seperti dulu. Setelah dicelup, benang kemudian dijemur hingga kering dan siap untuk tahapan selanjutnya. Siang itu, pekerja di rumah Mbak Erna hanya mencelup benang dengan dua warna gelap, hitam dan cokelat. Padahal semula saya berharap bisa memotret warna-warna yang lebih ngejreng, seperti merah atau kuning.

Memintal benang

Memintal benang

Setelah kering, benang yang telah diwarnai dipintal menjadi gulungan-gulungan kecil. Tahapan ini disebut memintal atau palet. Di tempat Mbak Erna, yang bertugas memintal ini adalah seorang ibu yang juga sudah sepuh. Tapi jangan kaget, beliau masih sangat terampil memintal benang. Nyaris tanpa cela.

Proses Sekir

Proses Sekir

Proses sekir

Proses sekir

Proses berikutnya adalah sekir alias menata benang menjadi motif. Jujur saya langsung takjub menyaksikan langsung tahapan ini. Memandang saja sudah sangat rumit, apalagi jika harus mengerjakannya. Tahapan ini membutuhkan orang yang punya keahlian khusus, alias tak sembarang orang bisa melakukannya. Seorang penyekir harus menata benang-benang tipis yang sangat banyak agar menjadi kain dengan motif lurik tertentu. Padahal setiap motif pasti memiliki komposisi berbeda. Yang bertugas membuat motif adalah Mbak Erna dan suaminya, sedangkan yang menyekir adalah seorang pekerja yang tentu punya keahlian khusus.

Menenun

Menenun

Menenun

Menenun

Setelah desain motif selesai, proses berlanjut ke tahapan nyucuk. Yaitu memindahkan desain motif ke alat tenunan. Jika proses ini sudah beres, barulah penenun beraksi. Benang-benang yang sudah terpasang di alat tenun manual kemudian diubah menjadi kain lurik yang indah. Proses pengerjaannya agak mirip dengan proses menenun kain-kain tradisional di beberapa daerah di Tanah Air.

Melihat langsung proses pembuatan kain lurik di rumah Mbak Erna menerbitkan sebuah kesadaran. Lurik bukan sekadar tentang selembar kain. Ada sebuah proses panjang dan rumit yang disertai dengan kesabaran, ketelitian, dan keahlian. Jika semua itu dipahami dengan baik, kita juga akan memahfumi mengapa kain tersebut dihargai mahal.

Solo, Februari 2014

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

41 Responses to Kain Lurik: Tentang Menghargai Proses

  1. Efenerr says:

    sangar tenan ik tulisane mbak usemay..

  2. Feº A says:

    Yus, lurik batik itu ditenun dulu baru dibatik apa langsung ditenun motif batik>

  3. Dian Rustya says:

    Sampai sekaran masih belum bisa paham cara memindahkan desain motif ke kain yang ditenun #Serius

    Keren ya. Ga hanya butuh waktu dan kesabaran, tetapi ketelitian saat mengerjakannya supaya motif-motif tenunnya bisa sempurna

  4. Emak gw punya banyak kain lurik peninggalan nenek, cuman ada di lemari ngak perna di pake.

    Btw hargailah proses itu penting banget, tp kebanyakan anak sekarang demen nya menghalalkan segala cara untuk hasil nya bagus meskipun itu salah prosesnya😉

  5. Halim Santoso says:

    Baru tahu kalo Sukoharjo juga punya ada kerajinan bikin kain lurik, kupikir cuma Klaten dsk aja yang bisa bikin… Mbak, kali ini sungkem ama tulisannya. Puitis nan dalem banget >.<

  6. lindaleenk says:

    Cantik ya
    Aku doyan batik dan kain tenun sih
    Apalagi yg benangnya nyampur..warna warni… :3

  7. johanesjonaz says:

    Tulisannya KEREN! saya suka ini… warisan budaya leluhur yang harus dilestarikan.🙂

    • yusmei says:

      Setuju banget Jon…bikin lurik dari alat mesin memang lebih cepat, tapi tetap beda hasilnya. karena di lurik tenan ada kandungan warisan budaya leluhur🙂

  8. nyonyasepatu says:

    Yus, mahal gak sih kain lurik ini permeternya? aku cuman punya kebaya lurik sih hehehe.

    • yusmei says:

      Harga tergantung motifnya non. Tapi secara umum harganya terjangkau kok🙂. Sekarang lurik udah jadi produk baju lucu2 non, mulai atasan, baju terusan, dompet, tas dan lain-lain🙂

  9. chris13jkt says:

    Wah asyiknya bisa mengikuti pembuatan kain lurik dari awal. Jadi pengen juga lihat sendiri

  10. Ceritaeka says:

    AKu selalu berkaca-kaca tiap kali membaca tentang proses pembuatan sebuah kain (apa pun itu). Ya, di tengah jaman serba cepat, terkadang proses kurang dinilai atau bahkan dipertanyakan kenapa harganya mahal. Padahal cara bikinnya itu lhoooooo

    • yusmei says:

      apalagi kalau yang bikin ibu-ibuk atau bapak2 yang sudah sepuh gitu mbak. Jadi terharu banget ngeliat mereka masih semangat. Akhirnmya bisa paham kenapa kainnya berharga mahal. hehehe

  11. Sy Azhari says:

    Selalu syok liat label harga kain-kain nusantara yang dibuat dengan ATBM, tapi lebih syok lagi kalau tahu cerita di balik layar untuk menghasilkan sehelai kain tadi.

    • yusmei says:

      Kadang tidak habis pikir, kain selembar harus dibuat berminggu-minggu dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Kalau jatuhnya mahal terpaksa hanya bisa mengagumi🙂

  12. wah…liputan yang sangat baik dan detail ya Mbak. saya sangat senang membacanya.

  13. Rio Praditia says:

    wah, tulisan yang membuka wawasan dan membangkitka kesadaran🙂
    saya tidak pernah mengira kalau lurik juga ditenun seperti ini, jadi merasa bersalah waktu beli lurik dan nawar terlalu kejam. waktu itu dia bilang luriknya tenun saya kira dia bohong.

    • yusmei says:

      Kalau saya malah tidak pernah tega saat menawar. Apalagi kalau yang jualan ibu-ibu sepuh gitu.🙂 Iya, proses itulah yang harus dihargai, tapi kalau barangnya jadi mahal, jadi susah juga belinya. Gak sesuai dengan isi kantor saya.🙂

  14. anis says:

    browsing soal kain lurik, ketemu deh sama tulisan mbak yang keren, terima kasih sudah mencerahkan:) jadi makin kepo sama kain lurik ni

    • yusmei says:

      Wah terima kasih sudah mampir ke lapak ini mbak anis. Semoga tulisannya bisa membantu. Tapi lurik memang keren dan wajib kita lestarikan mbak🙂

  15. tokokain says:

    Infonya lengkap sekali,,,,,salam sukses

  16. Lorraine says:

    Aku baca ini inget almarhum eyangku yang banyak koleksi lurik. Baunya khas banget🙂

  17. Penny says:

    Info yg sangat menarik mbak..tks atas tulisanya kita jadi lebih tahu sekarang hasil karya anak bangsa….boleh kah saya minta kntk persony mbk Erna pngsha luriknya saya hndak belnja lurik lgsung ksna..mbk….tks

    • yusmei says:

      Makasih mbak, senang bisa berbagi tentang kekayaan Indonesia. Boleh mbak kalau butuh kontaknya, ada juga Pak Rahmad, beliau begawan lurij. Kain-kainnya bagus-bagus :))

  18. Sondang says:

    Ini dimana mbak tepatnya?
    sy pengen kesana

  19. Hyangwidiadya says:

    Yg biasanya sekir dan memintal benang itu pakdhe budhe saya. Merekalah pemilik usaha ini dan sudah turun-temurun di keluarga hingga di kelola oleh mbak Erna sebagai menantu hingga saat ini.
    Tulisan ini lumayan.. Tapi kurang menekankan letak menghargai proses nya yg seperti apa belum tampak jelas. Anda hanya mendeskripsikan proses pembuatan kain tenun lurik saja.

  20. Pingback: 6 Cara Ampuh Mengakali Arena Perang Belanja di Hari Raya, Biar Baju Lebaranmu Nggak Direbut Orang. | Beritahariini.xyz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: