Jatuh Hati di Saung Angklung Udjo

angklung saung udjo

Angklung

“Anda lihat pertunjukan di saung ini, suatu saat pertunjukan angklung ini akan mendunia. Kita tunggu saja.”

Ucapan tersebut dilontarkan Udjo Ngalagena di hadapan para kru film dari Prancis dan Gumelar, seorang pemandu wisata dari Dinas Pariwisata Jawa Barat pada tahun 1969. Saat itu Saung Angklung Udjo miliknya baru berusia tiga tahun, hanya sebuah rumah berukuran 150 meter persegi di salah satu sudut Bandung. Halamannya cuma sebuah petak ukuran 5 m x 8 m. Tapi Mang Udjo, demikian panggilan akrabnya, tetap bangga memperkenalkan tempat tersebut kepada tamu-tamunya.

Optimisme Udjo ternyata bukan hanya deretan kata-kata kosong. Bertahun-tahun kemudian, Mang Udjo berserta kru Saung Angklung Udjo telah tampil di berbagai negara dengan membawa misi kebudayaan. Thailand, Belanda, Inggris hingga Kepulauan Solomon pernah disapa pertunjukan angklung. Di Saung Angklung Udjo di Bandung, pertunjukan angklung juga masih rutin digelar. Konsistensi tersebut sesuai keinginan Mang Udjo, yang berharap Saung Angklung tidak hidup sesaat, tetapi dari generasi ke generasi.
Saung Angklung Udjo bukan hanya sebuah tempat pertunjukan. Tempat itu juga menjadi pusat budaya untuk memelihara kebudayaan Sunda, khususnya angklung. Lokasinya di Jalan Padasuka 118, Bandung Timur, Jawa Barat. Mang Udjo sendiri merupakan murid dan asisten Daeng Soetigna, sang maestro angklung.

Mang Udjo

Mang Udjo

Seperti dikisahkan di buku Udjo Diplomasi Angklung, perjalanan Saung Angklung Udjo sangat berliku. Setelah mendirikan saung angklung pada tahun 1966, Mang Udjo sempat mengalami krisis kepercayaan diri pada tahun 1968. Salah satu penyebabnya adalah karena Mang Udjo gagal ikut pertunjukan ke Amerika. Beruntung Udjo memiliki guru seperti Daeng Soetigna yang mau memberi banyak wejangan. Mang Udjo pun mulai bangkit.

Berkat kegigihannya, tamu perdana datang juga ke Saung Angklung Udjo. Pada September 1968, biro perjalanan Nitour membawa enam turis dari Prancis dengan dua pemandu wisata bernama Tata Nuryata dan Rosalyn. Dengan kondisi saung yang masih sangat sederhana, Mang Udjo tampil memukau. Daya tarik utama yang ditampilkannya adalah pemain angklung cilik, yang tak lain anak-anaknya sendiri. Keenam turis Prancis itu disebut terlihat sangat puas.

Awal Desember 2013 alias 55 tahun setelah pertunjukan di hadapan enam turis Prancis itu, saya akhirnya kesampaian menjejakkan kaki di Saung Angklung Udjo. Saya datang ke sana ditemani seorang kawan, Budhi Setyawan, yang lama tinggal di Bandung tapi ternyata belum pernah melihat pertunjukan di Saung Angklung Udjo. Memang kami tidak mungkin bertemu Mang Udjo karena beliau sudah meninggal pada 2001 lalu. Kami hanya berniat menonton pertunjukan angklung sesi sore sekitar pukul 15.30 WIB. Sehari biasanya ada empat sesi pertunjukan reguler, pagi, siang, sore dan malam. Setiap sesi berdurasi 1,5 jam.
Sore itu saung ramai pengunjung, mungkin sekitar 500 orang.

Rombongan besar mahasiswa dari Jakarta berbaur dengan rombongan karyawan dari sebuah instansi pemerintah, serta anak-anak sekolah. Turis asing pun banyak jumlahnya. Saung Angklung Udjo memang menjadi salah satu destinasi favorit turis-turis mancanegara yang berkunjung ke Kota Kembang. Setelah membayar tiket masuk senilai Rp60.000 per orang, kami langsung mencari tempat duduk strategis demi mendapatkan view terbaik. Ruang pertunjukan berbentuk panggung terbuka. Sejumlah angklung dan seperangkat gamelan ditata di panggung bagian depan.

Tepat pukul 15.30 pertunjukan dimulai. Seorang mojang cantik, yang belakangan saya tahu namanya Hira, dan seorang pria muda berpakaian khas Sunda dengan riang menyapa pengunjung. Ucapan selamat datang, serta keterangan singkat mengenai pertunjukan sore itu diucapkan dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Mereka berdua sangat lihai berinteraksi dengan para pengunjung sehingga suasana langsung terasa cair. The show begins!

Saung Angklung Udjo

Pertunjukan wayang golek

Demonstrasi wayang golek menjadi pembuka pertunjukan. Tentu saja pementasan wayang golek ini tidak berdurasi semalam suntuk seperti biasanya, hanya digelar selama beberapa menit. Yang menarik, di tengah-tengah pementasan, bagian depan panggung disingkirkan. Alhasil para penonton bisa melihat dengan gamblang aksi dalang wayang golek tersebut. Kejutan menarik 

Haleran

Helaran

Helaran

Helaran

Sesi berikutnya adalah pertunjukan Helaran, yang dimainkan untuk mengiringi upacara tradisional khitanan maupun pada saat upacara panen padi. Bocah yang disunat diusung dengan tandu kursi kemudian diarak. Di belakang dan depan tandu, teman-temannya yang juga masih bocah mengiringi sambil membawa angklung. Iring-iringan bocah-bocah tersebut sangat menggemaskan. Apalagi mereka mengenakan baju berwarna-warni dan jago memainkan angklung. Bikin tambah menggemaskan.

Berikutnya kami disuguhi tari topeng dan permainan arumba. Arumba akronim dari alunan rumpun bambu. Alat musik tradisional ini terbuat dari bambu bertangga nada diatonis yang diciptakan pada era 1970-an. Waktu rasanya bergerak cepat saking menariknya semua pertunjukan yang ditampilkan. Ternyata itu baru kesenangan awal. Begitu memasuki sesi berikutnya, yaitu pertujukan angklung mini, pengunjung (termasuk saya) semakin terpikat. Bagaimana tidak terpikat jika yang memainkan angklung-angklung mini adalah anak-anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Bahkan salah seorang anak umurnya mungkin belum genap tiga tahun.

Arumba

Arumba

angklung mini

angklung mini

angklung mini

angklung mini

Belum habis rasa excited kami, para pemain angklung cilik berjalan ke arah penonton. Masing-masing penonton mendapatkan jatah satu angklung. Tapi tentu saja bukan untuk dibawa pulang. Kami rupanya diajak bermain angklung bersama! Acara ini disebut Angklung Interaktif. Intinya semua penonton diajak menikmati langsung bagaimana sensasi memainkan alat musik dari bambu khas Sunda ini. Sesi bermain angklung bersama ini dipimpun Hira. Mereka menggunakan alat bantu berupa kertas bertuliskan nada dan isyarat tangan. Saya sangat antusias. Ini kali pertama benar-benar memainkan angklung! Kalau hanya menggoyang-goyangkan angklung saat duduk di bangku SD tentu tak bisa dihitung memainkan angklung kan?

Bermain angklung bersama

Bermain angklung bersama

Hira beraksi

Hira beraksi

Angklung Interaktif

Angklung Interaktif

Hira menjadi tokoh paling penting dari sesi ini. Saya, Budhi dan penonton lainnya harus berkonsentrasi penuh memperhatikan isyarat atau gerakan tangannya saat menunjuk urutan nada yang tertulis di kertas. Saya kebetulan memegang angklung nomor dua. Jadi ketika isyarat tangan Hira menunjukkan angka dua, saya tinggal menggoyangkan angklung di tangan saya. Sore itu kami memainkan cukup banyak lagu, di antaranya Burung Kakaktua dan You Raise Me Up. Luar biasa menyenangkan! Saya nyaris selalu tersenyum dan tertawa lebar selama sesi ini saking senangnya.

Kelar sesi menarik tersebut, pengunjung dihibur dengan pertunjukan angklung orkestra. Tapi kali ini pemainnya sebagian sudah agak senior, bukan lagi bocah-bocah yang menggemaskan. Angklung memang bisa dimainkan sebagai sebuah orkestra, dikombinasikan dengan permainan alat musik modern, salah satunya gitar. Suara yang dihasilkan sangat memanjakan telinga, bahkan untuk ukuran orang yang tak terlalu paham seni musik dan tradisi seperti saya.

angklung orkestra

angklung orkestra

Menari bersama

Menari bersama

Arif, salah satu andalan di Saung Angklung Udjo

Arif, salah satu andalan di Saung Angklung Udjo

Pertunjukan menawan sore itu akhirnya ditutup dengan sesi angklung jaipong. Setelah sesi ini, para pengunjung diundang maju ke depan untuk menari bersama. Tanpa malu-malu para penonton, termasuk para turis mancanegara, pun merangsek ke depan dan bergembira bersama. Saya pun akhirnya ikut turun, tapi untuk memotret momen menarik tersebut.

Tak terasa hampir dua jam sudah berlalu. Rasanya masih belum puas. Uang Rp60.000 untuk membeli tiket terasa sangat murah karena ditukar dengan sebuah pengalaman mengesankan, sepenggal pertunjukan atraktif dan menawan. Sore itu pun saya jatuh hati. Saya jatuh hati dengan angklung dan dedikasi Mang Udjo untuk melestarikan dan mengangkat eksistensi alat musik tradisional itu. Bagi saya, bisa jatuh cinta terhadap angklung jelas sesuatu yang sangat istimewa. Saya bukan orang yang punya jiwa seni, apalagi seni musik. Namun kesederhanaan angklung membuat saya tergerak ingin belajar bagaimana memainkan alat musik tersebut. Saat balik ke Solo saya bahkan sampai bertanya-tanya apakah ada tempat untuk belajar angklung. Sayangnya sampai saat ini saya belum ketemu. Ingin tahu bagaimana rasanya jatuh hati terhadap angklung? Silakan datang ke Saung Angklung Udjo dan buktikan sendiri.

Catatan :
Jadwal pertunjukan
Pagi : 10.00-12.00, Siang: 13.00-14.30, Petang: 15.30-17.00, Malam : 18.30-20.00

Tiket
Domestik : Rp60.000
Asing : Rp100.000
Pelajar : Rp40.000
Mahasiswa asing: Rp60.000

Pengunjung juga bisa melihat proses pembuatan angklung. Namun saya tidak sempat menyaksikan karena seusai pertunjukan sore proses pembuatan angklung sudah sore. Jika ingin melihat usahakan datang pagi atau siang.

Bandung, Desember 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

41 Responses to Jatuh Hati di Saung Angklung Udjo

  1. Saya pernah nonton di tv, emang keren banget mbak😀 kapan2 ingin kesana juga

  2. Dede Ruslan says:

    pengen rasanya main angklung apalagi ini maininnya sesuai nada yaa

  3. Dian Rustya says:

    AKU MAU KE ANGKLUNG UDJOOOO *sengaja kepslok*

    WIh mbak, baca postinganmu ini aku kok jadi ikut2 kepincut dan merinding membayangkan suasana saat kalian main angklungnya rame2.
    Pengeeeeennnn

  4. nyonyasepatu says:

    kapan ya bisa nonton ini? duh sekarang jalan2 terasa susahh huhu

  5. Halim Santoso says:

    Sukaa sukaaa…. bener juga sih, kalo dapet pengalaman keren seperti itu, harga tiket 60ribu nggak terasa mahal🙂

  6. Ceritaeka says:

    Aku pernah lihat mereka perform. Keren bangeeet! Sayang belom sempet mampir >.< refreshing post!

  7. chris13jkt says:

    Setuju Yus, di Saung Angklung Udjo waktu terasa cepat berlalu kalau menyaksikan pertunjukannya.
    Ngomong-ngomong, itu angklung interaktif sepenuhnya dipimpin sama Hira? Biasanya anak-anaknya Udjo yang masih kecil-kecil yang mimpin

    • yusmei says:

      Pas itu yang mimpin angklung interaktif hira terus pak, sampai akhir. padahal infonya biasanya yang mimpin anak2-nya mang udjo. Mungkin anak-anaknya sedang berhalangan ya pak🙂

  8. ridu says:

    Saya pernah ke sana sekali dengan pacar, tapi tarifnya terlalu mahal menurut saya.. tapi seru banget! :’)

  9. Alvi says:

    Saya sudah beberapa kali berkunjung kesana
    tapi tetep saja kangen pengen kesana lagi🙂

  10. buzzerbeezz says:

    See? I told you so mbak Meii..😀

  11. OpensTrip says:

    Angklung Udjo ini membawa kebanggaan kita pada angklung

  12. veriska.com says:

    memang nama pemiliknya nama aslinya pak udjo gan?
    terimakasih😉

  13. Baru sempat ke Saung Udjo May 9, kemaren. Seru. Apalagi pas anak2 itu mainin beberapa lagu mulai dari lagu daerah sampai yang kekinian. Kalo akses internetnya ngebut, artikelku bakal tak lengkapin sama rekaman videonya kayaknya.😀

  14. unknown says:

    bulan lalu baru kesini, langsung jatuh hati. ada gadis cantik sekali, sayang pemalu banget dianya, gamau diajak foto bareng dan namanyapun gak tau siapa, mungkin nanti pas kesini lagi dia ada dan udah gak malu lagi🙂

    • yusmei says:

      Jatuh hati sama angklungnya atau mbaknya? Hehe. Amieen, semoga nanti bisa ketemu, kenalan dan foto bareng sama gadis itu :)))

  15. bersapedahan says:

    saung angklung mang udjo memang kerennnn ….
    saya kagum dengan show-nya yang juara dan interaktif …

  16. itu pak udjo aslinya gan?
    terimakasih😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: