Sunrise of Java

Sunrise di Pantai Boom

Sunrise di Pantai Boom

Bosan dengan hiruk-pikuk wisata Pulau Dewata Bali? Coba geser pandangan mata ke ujung timur Pulau Jawa dan bersiaplah hanyut dalam pesona khas Banyuwangi. Langit masih nyaman dipeluk gelap ketika mobil carteran kami berhenti tak jauh dari bibir Pantai Boom. Saya dan empat teman seperjalanan, Femi, Pesta, Ririn dan Shava, yang masih dihantui kantuk spontan merapatkan jaket sebelum perlahan membuka pintu mobil. Benar saja, udara dingin langsung membelai-belai kulit dan menusuk menembus jaket.

Pantai Boom terletak tak jauh dari pusat kota Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sembari duduk dan berbincang di pinggir pantai, mata kami terus memandang ke garis horizon. Tak berapa lama, apa yang ditunggu-tunggu muncul juga. Matahari merayap pelan keluar dari peraduan. Sinarnya yang kemerah-merahan memantul indah di permukaan air.

Momen sunrise pada suatu pagi di awal Juni lalu memang tidak sempurna. Mendung mengganggu prosesi alam yang sakral tersebut. Namun, pengalaman pagi itu terasa istimewa. Kami menyaksikan langsung sunrise pertama di Pulau Jawa. Sebagai kabupaten yang terletak di ujung pulau, Banyuwangi menjadi kawasan di Jawa yang paling awal menikmati siraman sinar matahari setiap harinya. Tak heran, Banyuwangi mantap memilih julukan The Sunrise of Java sebagai penegas identitas.

Kapal nelayan Pantai Boom

Kapal nelayan Pantai Boom

Langit pagi Pantai Boom

Langit pagi Pantai Boom

Pemandangan gunung yang bisa dilihat dari bibir pantai

Pemandangan gunung yang bisa dilihat dari bibir pantai

Bayangan Foto by Shava

Bayangan
Foto by Shava

Awan berarak

Awan berarak

Menikmati prosesi sunrise paling awal di Pulau Jawa, hanyalah satu dari berderet sensasi yang siap disuguhkan Banyuwangi. Di kalangan penikmat perjalanan, Banyuwangi mulai sering diperbincangkan dan masuk daftar kunjung. Hal itu tak lepas dari keseriusan pemerintah Banyuwangi melakukan berbagai terobosan supaya lebih diperhitungkan di kancah pariwisata nasional, bahkan internasional. Banyuwangi sepertinya tak ingin hanya menjadi penonton saat tetangga mereka, Bali, terus menikmati renyahnya bisnis pariwisata. Impian besar The Sunrise of Java ini tidak berlebihan. Mereka punya modal lengkap untuk berdiri sejajar dengan Bali dan destinasi-destinasi utama wisata lainnya di Indonesia .

Kabupaten seluas 5.782,5 km2 tersebut memiliki potensi wisata alam melimpah. Banyuwangi punya Kawah Ijen, Pantai Plengkung yang dinobatkan sebagai salah satu surganya peselancar dunia, Teluk Hijau, Pulau Merah, Pantai Rajeg Wesi, Taman Nasional Alas Purwo dan masih banyak lainnya. Keindahan dataran tinggi, keriangan pantai dan eksotisme hutan dengan berbagai flora dan fauna liar berpadu menjadi satu. Inilah salah satu keunikan Banyuwangi yang terlalu sulit untuk diabaikan.

Bagi pecinta seni, budaya dan sejarah, Banyuwangi juga memiliki khasanah yang sangat beragam. Suku Osing menjadi subkultur terbesar di Banyuwangi yang hidup berdampingan dengan budaya Jawa, Bali, Madura hingga Melayu. Irisan berbagai macam kebudayaan itulah yang membuat tipikal masyarakat Banyuwangi sangat berbeda dengan daerah-daerah lain di Jawa. Tak heran, kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat Osing dan mengenal budayanya menjadi magnet besar bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Belum lagi kesempatan untuk menikmati ritual rutin Petik Laut di Pelabuhan Muncar maupun mengenal berbagai kesenian setempat seperti gandrung, barong kemiren, jaranan butho dan angkluk caruk. Sedangkan bagi penggemar sejarah, cobalah untuk mampir ke Asrama Inggrisan, Watu Dodol dan Museum Sukowidi. Jika Asrama Inggris menyimpan cerita panjang tentang kabel telegraf di Tanah Air, di Museum Sukowidi Anda bisa mengenal jejak-jejak sejarah wilayah yang dulunya adalah Kerajaan Blambangan ini.

Banyuwangi juga siap memanjakan para penikmat kuliner. Tempat ini dikenal karena kekhasan “makanan campur aduk”. Apa jadinya jika rujak dicampur dengan soto atau rawon dicampur dengan pecel? Jika ingin tahu jawabannya silakan datang langsung ke Banyuwangi dan nikmati sensasinya.

Patung Gandrung

Patung Gandrung

Bagiak, oleh-oleh khas banyuwangi

Bagiak, oleh-oleh khas banyuwangi

Batik khas Banyuwangi, berwarna cerah

Batik khas Banyuwangi, berwarna cerah

sego cawuk khas banyuwangi

sego cawuk khas banyuwangi

Total empat hari kami tenggelam dalam pesona Banyuwangi. Mengintip banteng-banteng liar di Taman Nasional Alas Purwo, menikmati magisnya sunrise di Pantai Boom, berbincang dengan tokoh Osing, mengunjungi Asrama Inggrisan, mampir di Watu Dodol, belajar sejarah di Museum Sukowidi, memandang warna-warni Pelabuhan Muncar, menikmati secangkir kopi khas Banyuwangi di Sanggar Genjah Arum Desa Kemiren, hingga berburu kuliner khas di sudut-sudut kota. Ternyata masih banyak tempat yang belum sempat dijamah. Keindahan Pulau Merah, Pantai Plengkung hingga Kawah Ijen, belum sempat kami sapa. Ini artinya kami punya alasan kuat untuk kembali lagi ke Banyuwangi.

Seorang teman melontarkan sebuah komentar menarik ketika saya bercerita tentang pariwisata Banyuwangi. “Banyuwangi sekarang guyup banget ya, kayaknya karena semangat menggodok wisata,” ujarnya. Ya, semangat sudah ada, begitu juga gebrakan demi gebrakan. Pemerintah Banyuwangi mulai memperbaiki akses-akses ke tempat wisata, membangun penginapan untuk backpacker hingga berpromosi melalui event Tour de Ijen. Tapi, pemerintah Banyuwangi tak boleh melupakan satu hal. Pariwisata massal bagaikan bagaikan dua sisi mata uang, bisamemakmurkan namun juga bisa merusak.

Dengan mengusung konsep ekowisata, yang bisa diartikan sebagai pariwisata yang bertanggung jawab, pilihan Banyuwangi sudah tepat. Kini, langkah yang perlu dilakukan pemerintah Banyuwangi adalah menjaga konsep tersebut. Mereka harus konsisten mengedukasi masyarakat agar siap menyambut gelombang wisatawan, serta membuat peraturan yang jelas untuk melindungi destinasi wisata yang ada. Namun di sisi lain, para wisatawan juga punya tanggung jawab yang sama untuk menjaga dan melestarikan aset wisata di Banyuwangi dan berbagai tempat lainnya. Marilah menjadi pejalan yang bertanggung jawab.

Alas Purwo

Alas Purwo

Bareng-bareng

Bareng-bareng

Pos Bedul, Alas Purwo

Pos Bedul, Alas Purwo

 

Banyuwangi, Mei 2013

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

38 Responses to Sunrise of Java

  1. Rahmat_98 says:

    Waw… pemandangannya bikin pengen ke sana….

  2. nyonyasepatu says:

    Yus, nama tanaman yg berduri2 itu apa ya?

  3. Dede Ruslan says:

    banyuwangi ibarat negeri matahari terbitnya jawa, kalau sunset mungkin di barat jawa kali yaa banten

  4. Foto pantainya keren2, mbak. Sayang bgt belum ke Ijen. Kalo buat aku sih, Ijen dan Pantai Plengkung itu prioritas hehe.

    Dari Surabaya transportasinya gimana ya? Akhir Mei aku ke Surabaya. Kalo affordable, sekalian deh ke Banyuwangi.

    • yusmei says:

      Iyaaa kemarin kami memang fokus ke baluran dan alas purwo, sama wisata sejarah.🙂 kalau dari surabaya plg enak naik kereta, cepet. Kalau bis juga ada

  5. Dian Rustya says:

    TErnyata selain di Tuban, Pantai (yang punya nama) Boom juga ada di Banyuwangi #BaruTahu

  6. johanesjonaz says:

    Keren Yus… cobain ayam pedas banyuwangi juga gak?

  7. buzzerbeezz says:

    wangi gak mbak banyune ning kono? *halah*

  8. dee nicole says:

    sego cawuk ki opo?

  9. wah lengkap tulisannya. emang Banyuwangi lagi berbenah banget buat pariwisatanya. Apalagi penerbangan G**uda ada yg langsung dari Jakarta ke Banyuwangi. Kemarin katanya peresmiannya Bupati Banyuwangi, Azwar Anas sm Maudy Koesnady jadi orang yg ikut di pesawat itu.

    Tapi Banyuwangi harus banyak bebenah kalo urusannya wisata di TN. Alas Purwo mba. Masih banyak PR nya terutama akomodasi dan transportasi di sana. Pengelolaan tempat wisatanya juga. Wuah banyak deh.

    • yusmei says:

      Akses ke Alas Purwo memang butuh perbaikan banyak. Tapi aku kok malah agak-agak seneng, jadi kerasa petualangannya. Hahaha. Iya bener, masih banyak yang harus dibenahi di banyuwangi. Tapi usaha mereka patut diapreasi, di saat daerah-daerah lain banyak yang cuma jalan di tempat🙂

  10. noerazhka says:

    Judulnya iya banget, sunrise of Java ..🙂

  11. Halim Santoso says:

    Banyak kota di Jawa Timur yang belum bisa memaksimalkan potensi wisatanya yah, para turis cuma berkunjung ke Bromo, Bromo dan Bromo lagi… Dari pengambaran Banyuwangi, ternyata ini kota punya potensi besar… Jadi nggak sabar pingin segera gowes ehh nyepur ke sana😀

    • yusmei says:

      Banyuwangi lengkap lim, alamnya oke, khasanah budayanya juga kaya. Pemerintah daerah sepertinya juga terus bikin terobosan. Semoga konsisten🙂

  12. Ceritaeka says:

    Banyuwangi? Susah aksesnya >.<
    Eh tapi katanya udah ada bandara baru ya?

  13. noerazhka says:

    Tagline yang dipilih Banyuwangi sungguh tepat, Sunrise of Java, daerah pertama di Jawa yang dikunjungi matahari tiap paginya. Uhuuyy ..

    Anterin eksplor Banyuwangi dong, Mba .. *ngganyik*😀

  14. chris13jkt says:

    Yus, punya kontak di Banyuwangi yang bisa ditanya-tanya kalau kita mau berkunjung dan eksplor wilayah situ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: