Bersua Bos Javanicus

Banteng di Alas Purwo

Banteng di Alas Purwo

Sejak merencanakan perjalanan ke Banyuwangi, ada sebuah harapan yang disemai. Saya dan empat teman perjalanan penasaran ingin bersua dengan Banteng Jawa. Ada dua destinasi yang berpotensi menuntaskan harapan kami. Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Alas Purwo. Di Baluran misi kami digagalkan hujan. Banteng enggan keluar ke padang rumput karena kemungkinan persediaan air mereka sudah melimpah. Tapi kami tak patah semangat. Masih ada harapan untuk mengamati dengan mata kepala sendiri hewan bernama latin Bos javanicus tersebut di Alas Purwo.

Pemandu kami, Mas Donna, sebelum berangkat sudah mewanti-wanti bahwa akses di Alas Purwo tidak semulus di Baluran. Jalanan rusak berat. Mobil yang sudah kami pakai selama dua hari di Banyuwangi terpaksa harus diganti dengan yang lebih tangguh. Saya, Shava, Femi, Pesta dan Ririn, malah tambah semangat mendengar kabar itu. Sepertinya kami akan mendapatkan petualangan seru.

Apa yang dikatakan Mas Donna bukan isapan jempol. Setelah melakukan regristrasi di gerbang Taman Nasional Alas Purwo, kami disambut medan yang cukup berat. Untuk melihat banteng, kami harus menyambangi padang penggembalaan Sadengan. Lokasinya sejauh 2 kilometer dari pintu gerbang. Sebenarnya dekat. Tapi gara-gara jalanannya rusak berat, perjalanan menjadi agak lama. Mobil berjalan pelan-pelan karena harus bertarung dengan lubang-lubang yang menganga. Untung, Mas Donna sudah sangat familier dengan medan ini.

Tiba di Sadengan kami langsung menuju sebuah pondok milik pengelola Taman Nasional Alas Purwo. Ada tiga petugas lapangan di sana. Salah satu petugas itu adalah Banda Nurhara, yang menjabat sebagai pengendali ekosisten hutan Taman Nasional Alas Purwo. Sedangkan dua petugas lainnya bertugas sebagai pengumpul data, Pak Suparno dan Pak Susiayanto. Sembari beristirahat, kami berbincang-bincang dengan mereka.

Inilah Bos javanicus

Inilah Bos javanicus Foto by Femi Diah

Memotret banteng

Memotret banteng

Mengeker Banteng Foto by Femi Diah

Mengeker Banteng
Foto by Femi Diah

Tugas mereka sederhana, tapi tidak mudah. Mengapa saya bilang tidak mudah? Sehari-hari mereka mengumpulkan data satwa di wilayah padang penggembalaan itu. Selain menghitung jumlah banteng, mereka juga harus mengamati dan mencatat berapa jumlah hewan lain yang singgah di padang rumput tersebut. Misalnya, burung merak, rusa dan anjing hutan. Penghitungan satwa dilakukan sehari dua kali, pagi dan sore. Mereka bertugas selama tiga hari berturut-turut, kemudian digantikan oleh penjaga lainnya. Sederhana tapi rumit. Apalagi suasana di pondok dan sekitarnya sangat sepi. Nyaris tak ada hiburan, televisi sekalipun. Bosan jadi musuh utama.

Pada hari itu, Pak Banda menyebut banteng yang datang ke padang penggembalaan berjumlah 94 ekor. Lebih banyak yang betina. Hanya 18 ekor banten jantan yang singgah siang itu. Untuk membedakan banteng jantan dan betina sangat mudah. Yang jantan berwarna hitam, sedangkan yang betina berwarna merah kecokelatan. Dari pondok kami sudah bisa melihat kerumunan banteng-banteng jawa tersebut. Akhirnya…

Kami pun dipersilakan mengamati lebih dekat Bos javanicus dari menara pandang. Supaya maksimal Pak Banda menyodorkan binokuler dan monokuler. Maklum, banteng-banteng memilih berkumpul di bagian tengah padang rumput, cukup jauh dari menara pandang.

Padang rumput

Padang rumput

Menara pandang

Menara pandang

Petugas lapangan Taman Nasional Alas Purwo

Petugas lapangan Taman Nasional Alas Purwo

Untuk menjaga keamanan, otoritas Taman Nasional Alas Purwo memasang pagar di sekeliling padang rumput. Tentu saja supaya banteng dan mungkin hewan-hewan liar lain tidak berkeliaran. Mengamati banteng dengan binokuler sangat menyenangkan. Kami bisa melihat dengan lebih jelas banteng yang sedang merumput di kejauhan. Jika dilihat sepintas dari kejauhan, banteng Jawa agak mirip dengan sapi.  Bos javanicus ini memang hewan yang sekerabat dengan sapi dan dapat ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, and Bali. Banteng dibawa ke Australia Utara pada masa kolonisasi Britania Raya pada 1849 dan sampai sekarang masih lestari. Bergantian kami mengeker banteng-banteng dengan binokuler. Mereka merumput dengan tenang. Sesekali tampak juga burung merak singgah di padang rumput.

Kunjungan kami siang itu tambah seru ketika Pak Banda menunjukkan sebuah rekaman video. Isinya seperti tayangan National Geographic di televisi. Ada lima ekor anjing hutan yang menyerbu sekelompok rusa di padang rumput. Rusa-rusa tersebut tentu akan dijadikan mangsa empuk. Tetapi aksi anjing hutan tersebut diadang oleh sekelompok banteng. Berkat mereka, rusa-rusa tersebut selamat dari ancaman anjing hutan. Video itu berdurasi kurang dari lima menit, tapi sangat mengesankan.

Puas mengamati kawanan banteng dari kejauhan, kami pun undur diri. Mission accomplished. Impian bersua dengan banteng jawa akhirnya terealisasi, meski hanya bisa memandang dari kejauhan. Bagi kami itu sudah cukup. Secarik harapan terucap. Semoga Bos javanicus terus lestari agar generasi mendatang juga bisa memandang keelokannya, bukan sekadar mengenal dari cerita.

Banyuwangi, Mei 2013.

About yusmei
Tergila-gila dengan membaca dan menulis...Punya mimpi menelusuri sudut-sudut dunia

22 Responses to Bersua Bos Javanicus

  1. Alid Abdul says:

    Gleeeeeeeekkk ALAS PURWOOOOOOOOOOOO,,,, 2 km jalan kaki bisa gak???
    Setelah Baluran jadi ngences ke Alas Purwo ^^

  2. Halim Santoso says:

    Serius nggak ada televisi? Asikk banget nih, jadi Into The Wild beneran🙂
    Oh iya, ada penginapan di pondok penjaga atau sekitarnya nggak, mbak?

  3. Adib Mahdy says:

    Walau g ada TV ,,ada listrik buat cas laptop kah? hahaha
    Penasaran

  4. Banteeengnya buanyaaak. Kemarin kesana cuma ketemu sdikit. hiks. @halim: penginapan ada di deket Pantai Triangulasi tapi kalo di Sadengan, tidur aja di menara pengamatan. Lumayan pake matras.😀

  5. Ceritaeka says:

    Baluraaaan. Ah one of my dream🙂

  6. Ampunnnnnn aku envy, blm kesampean kesini. MAUUUUUUU

  7. Hafidh says:

    Wah alas purwo ya, libur semester ini rencana mau kesana🙂
    Oiya harus pake guide apa boleh jalan sendiri?

  8. noerazhka says:

    Ngga kerasa udah hampir setahun yang lalu, aku mbok bikin iri gara-gara rangkaian Banyuwangi Trip ini ya, Mba. Hehehehe ..😀

  9. chris13jkt says:

    Wah aku mau kesini dari lama tapi belum terlaksana juga 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: